Menuju Tata Kelola Pesisir Terintegrasi, Pemerintah Dorong Mangrove sebagai Solusi Berbasis Alam

Jum'at, 12 Juni 2026 - 13:58 WIB
loading...
Menuju Tata Kelola Pesisir...
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat. Foto: Ist
A A A
SEMARANG - Krisis lingkungan yang terus membayangi wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah menuntut pendekatan perlindungan pesisir yang lebih komprehensif. Abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah yang terjadi secara masif tidak lagi dapat ditangani hanya melalui pembangunan infrastruktur fisik.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat mengatakan, ekosistem mangrove harus hadir sebagai salah satu solusi berbasis alam (nature-based solution) pada wilayah pesisir untuk mengatasi krisis abrasi dan banjir rob di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.

Baca juga: Jaga Ekosistem Pesisir Semarang, 1.500 Mangrove Ditanam di Tambak Lorok

Hal ini sejalan dengan konsep natural coastal defense atau pertahanan pesisir alami yang menjadi fondasi utama perlindungan kawasan pesisir. Penegasan ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang kini diperkuat melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove serta penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional Tahun 2026–2055.

Kedua instrumen tersebut menjadi landasan transformasi tata kelola mangrove yang lebih terintegrasi, berbasis ekologi, dan berorientasi jangka panjang.

Jumhur menuturkan pemerintah menyadari bahwa pembangunan infrastruktur skala besar seperti Giant Sea Wall (GSW) merupakan bagian penting dari upaya perlindungan Pantura. Namun, proyek strategis nasional tersebut bukanlah solusi tunggal.

Menurut dia, hasil pemodelan hidrodinamika menunjukkan bahwa pembangunan tanggul laut raksasa berpotensi mengubah pola arus dan sedimentasi secara signifikan. Karena itu, pendekatan infrastruktur buatan seperti tanggul beton, penggunaan pompa penguras, dan pembangunan polder harus dipadukan dengan infrastruktur alami melalui pemulihan dan perlindungan ekosistem mangrove.

“Sabuk hijau mangrove selama ini menjadi tameng biologis kawasan pesisir. Karena itu, pendekatan grey infrastructure seperti tanggul, pompa, dan polder harus diintegrasikan dengan blue-green infrastructure atau solusi berbasis alam,” katanya.

Jumhur mengatakan efektivitas infrastruktur perlindungan pantai akan sulit dicapai apabila persoalan ekologis di daratan tidak ditangani secara bersamaan. Maka itu, perlindungan pesisir harus dipandang sebagai satu kesatuan sistem yang menghubungkan wilayah darat, pesisir, dan laut.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove yang sehat mampu menurunkan tinggi gelombang laut sebesar 13–66 persen hanya dalam jarak 100 meter. Selain meredam energi gelombang, mangrove berfungsi menjebak sedimen, memperkuat garis pantai, serta menyediakan habitat penting bagi berbagai spesies ikan dan biota pesisir.

Keberhasilan rehabilitasi sekitar 75 hektare mangrove di kawasan Tugurejo, Semarang, menjadi salah satu contoh nyata manfaat ekologis tersebut. Pemulihan ekosistem mangrove di wilayah itu tidak hanya membantu memperkuat perlindungan pantai, tetapi juga mengembalikan habitat pemijahan ikan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan.

Selain abrasi dan rob, dia menyoroti persoalan penurunan muka tanah (land subsidence) yang menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kerentanan Pantura terhadap banjir pesisir.

Berdasarkan data yang ada menunjukkan laju penurunan muka tanah di kawasan Semarang Utara mencapai sekitar 100 milimeter per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan muka air laut regional yang berada pada kisaran 2,1 milimeter per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi kawasan pesisir tidak hanya datang dari laut, tetapi juga dari daratan yang terus mengalami penurunan.

Menurut Jumhur, salah satu penyebab utama fenomena tersebut adalah eksploitasi air tanah secara berlebihan. “Harus diingatkan kepada semua pihak, salah satu penyebab penurunan muka daratan adalah eksploitasi besar-besaran air di bawah permukaan tanah,” ucapnya.

Jumhur menekankan setiap kebijakan perlindungan pesisir harus memperhatikan aspek keadilan sosial. Pembangunan tanggul laut maupun proyek reklamasi tidak boleh mengabaikan kepentingan nelayan tradisional, petambak, dan kelompok rentan lainnya yang bergantung pada sumber daya pesisir.

“Setiap rencana pembangunan harus melalui Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) secara ketat, transparan, dan partisipatif,” ujarnya.

Untuk memperkuat pengelolaan mangrove berbasis ilmu pengetahuan, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, Unissula ditunjuk sebagai penanggung jawab program restorasi 200 hektare mangrove di Jawa Tengah. Kampus ini juga menyediakan kawasan pesisir sepanjang sekitar dua kilometer yang akan dimanfaatkan sebagai living laboratory atau laboratorium alam untuk pengembangan riset dan praktik rehabilitasi mangrove.

Rektor Unissula Prof Dr Gunarto menyatakan kesiapan institusinya untuk mendukung upaya konservasi mangrove melalui penguatan penelitian dan inovasi. “Kawasan pantai sepanjang sekitar dua kilometer di belakang kampus siap dimanfaatkan sebagai laboratorium penanaman mangrove. Kami siap mendukung program konservasi mangrove sebagai laboratorium hidup,” ujarnya.

Pusat persemaian dan penelitian yang dikembangkan di kawasan tersebut juga diharapkan menjadi rujukan dalam pengembangan teknologi rehabilitasi mangrove yang adaptif terhadap perubahan iklim, termasuk penelitian mengenai spesies mangrove yang memiliki toleransi tinggi terhadap peningkatan salinitas dan kenaikan muka air laut.

Melalui sinergi antara kebijakan nasional, dukungan dunia akademik, dan partisipasi masyarakat, ekosistem mangrove tidak hanya menjadi pelindung pesisir dari dampak perubahan iklim dan bencana, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan memadukan rekayasa infrastruktur, pengendalian tata air tanah, dan restorasi ekosistem mangrove, Pantura Jawa Tengah diharapkan mampu bertransformasi menjadi kawasan yang lebih aman, produktif, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Desa Les Bali Sukses...
Desa Les Bali Sukses Padukan Wisata dan Pelestarian Alam lewat Program DSA
PSN Papua Tetap Perhatikan...
PSN Papua Tetap Perhatikan Kelestarian Lingkungan dan Serap Ribuan Tenaga Kerja OAP
Kolaborasi MNC Peduli...
Kolaborasi MNC Peduli - Next Hotel Yogyakarta Tanam Mangrove di Pantai Baros Dukung Kelestarian Ekosistem Pesisir
MNC Peduli Bersama Next...
MNC Peduli Bersama Next Hotel Yogyakarta Tanam 100 Mangrove di Pantai Baros Bantul
BRI Insurance dan PNM...
BRI Insurance dan PNM Tanam 7.000 Mangrove di Makassar
Polda Riau Ungkap Kasus...
Polda Riau Ungkap Kasus Perusakan Mangrove di Meranti
Kemenhut-YKAN Perkuat...
Kemenhut-YKAN Perkuat Transformasi Pengelolaan Hutan Berbasis Sains dan Data
Sampah Plastik di Wilayah...
Sampah Plastik di Wilayah Pesisir Jadi Ancaman! Salaka, KEHATI, dan Nestle Bergerak
Miliki 23% Mangrove...
Miliki 23% Mangrove Dunia, Menhut Dorong Penguatan Kolaborasi Riset dan Inovasi
Rekomendasi
Rahasia Keutamaan Puasa...
Rahasia Keutamaan Puasa Asyura, Ibadah Sunnah yang Sangat Dianjurkan Rasulullah SAW
Kronologi Penangkapan...
Kronologi Penangkapan Roy Suryo, Refly: Untung Masih Sempat Salat Subuh, tapi Belum Mandi
Kronologi Penangkapan...
Kronologi Penangkapan Roy Suryo dan Dr. Tifa oleh Polda Metro, Refly: Tidak Ada Tanda-tanda
Berita Terkini
Warga Tangsel Resah...
Warga Tangsel Resah Dipungut Biaya Pemakaman hingga Jutaan Rupiah
Aksi Perampokan di Menteng,...
Aksi Perampokan di Menteng, Korban Kritis Akibat 7 Luka Tusuk
Partai Perindo Perkuat...
Partai Perindo Perkuat Akar Rumput di Yalimo, Kader Didorong Turun ke Masyarakat
HCML Gandeng PMI Gelar...
HCML Gandeng PMI Gelar Donor Darah, Tumbuhkan Kepedulian Sesama
7.000 Massa Gelar Unjuk...
7.000 Massa Gelar Unjuk Rasa Dukung Pemerintahan Prabowo di Silang Monas
MNC Peduli dan MNC Tourism...
MNC Peduli dan MNC Tourism Gelar Edukasi Gizi dan Demo Masak di Kampung Cibilik Sukabumi
Infografis
Respons Donald Trump...
Respons Donald Trump usai Gambarnya sebagai Paus Viral
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved