Tari Tradisional hingga Musik Bambu Meriahkan Weekend at Parapuar di Labuan Bajo
Minggu, 24 Mei 2026 - 23:05 WIB
loading...
BPOLBF kembali menyelenggarakan Weekend at Parapuar (WAP) di Natas Parapuar, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (23/5/2026). Foto/Ist
A
A
A
MANGGARAI BARAT - Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) kembali menyelenggarakan Weekend at Parapuar (WAP) di Natas Parapuar, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (23/5/2026). Event ini menampilkan pertunjukan seni budaya lokal yakni musik tradisional dan tarian khas Manggarai yang disertai interaksi bersama para pengunjung.
Plt Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung menyampaikan bahwa Weekend at Parapuar menjadi ruang kolaborasi budaya yang mempertemukan masyarakat lokal dan wisatawan dalam suasana yang santai dan autentik.
Baca juga: 4 Alasan Harus Liburan ke Labuan Bajo Sekali Seumur Hidup
"Weekend at Parapuar merupakan ruang ekspresi budaya yang kami hadirkan secara konsisten untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus memberikan pengalaman berwisata yang berkesan bagi wisatawan. Kami berharap kegiatan ini terus menjadi wadah bagi para pelaku seni lokal untuk tampil dan berkembang," ujar Andhy dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Pementasan kali ini dimeriahkan oleh penampilan dari Sanggar Molas Roto Roka, Sanggar Manik Laing, dan kelompok musik Sahut Suara yang terdiri dari dua vokalis sekaligus musisi, Yon dan Roby. Penampilan musik tradisional menjadi daya tarik tersendiri melalui alunan suling bambu yang dimainkan Roby serta permainan alat musik dawai bambu ciptaan Yon yang diberi nama Dwbe.
Sanggar Molas Roto Roka membawakan sejumlah tarian tradisional khas Manggarai. Di antaranya Tari Pua Kopi yang menggambarkan aktivitas masyarakat saat memetik kopi, serta Tari Rangkuk Alu yang merepresentasikan permainan tradisional masyarakat Manggarai menggunakan bambu panjang secara ritmis dan penuh kekompakan.
Baca juga: Labuan Bajo Masuk 10 Destinasi Wisata Terbaik di Asia 2026 Versi Condé Nast Traveler
Selanjutnya Tari Ngkiong yang menggambarkan semangat kebersamaan dan sukacita masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Sanggar Manik Laing menampilkan Tari Leke, yaitut tarian tradisional yang menggunakan properti batok kelapa dan menampilkan gerakan ritmis yang enerjik serta penuh semangat.
Kemeriahan event ditutup dengan sesi goyang bersama yang melibatkan para penampil dan pengunjung, menciptakan suasana hangat dan interaktif di kawasan Natas Parapuar.
Salah satu wisatawan asal Argentina, Bryan mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya mengunjungi Natas Parapuar dan menyaksikan langsung kegiatan Weekend at Parapuar.
“Ini merupakan pertama kalinya saya mengunjungi Natas Parapuar. Tempat ini sangat indah dan acaranya juga sangat menarik. Kami bisa menikmati musik dan menyaksikan tarian tradisional masyarakat lokal. Orang-orang di sini juga sangat luar biasa dan ramah. Saya senang bisa berada di sini,” ujar Bryan dalam bahasa Inggris.
Melalui penyelenggaraan Weekend at Parapuar, BPOLBF terus berupaya menghadirkan atraksi wisata darat berbasis budaya yang berkelanjutan serta mendukung pengembangan kawasan Parapuar sebagai destinasi wisata terpadu, regeneratif, dan inklusif di Labuan Bajo.
Plt Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung menyampaikan bahwa Weekend at Parapuar menjadi ruang kolaborasi budaya yang mempertemukan masyarakat lokal dan wisatawan dalam suasana yang santai dan autentik.
Baca juga: 4 Alasan Harus Liburan ke Labuan Bajo Sekali Seumur Hidup
"Weekend at Parapuar merupakan ruang ekspresi budaya yang kami hadirkan secara konsisten untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus memberikan pengalaman berwisata yang berkesan bagi wisatawan. Kami berharap kegiatan ini terus menjadi wadah bagi para pelaku seni lokal untuk tampil dan berkembang," ujar Andhy dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Pementasan kali ini dimeriahkan oleh penampilan dari Sanggar Molas Roto Roka, Sanggar Manik Laing, dan kelompok musik Sahut Suara yang terdiri dari dua vokalis sekaligus musisi, Yon dan Roby. Penampilan musik tradisional menjadi daya tarik tersendiri melalui alunan suling bambu yang dimainkan Roby serta permainan alat musik dawai bambu ciptaan Yon yang diberi nama Dwbe.
Sanggar Molas Roto Roka membawakan sejumlah tarian tradisional khas Manggarai. Di antaranya Tari Pua Kopi yang menggambarkan aktivitas masyarakat saat memetik kopi, serta Tari Rangkuk Alu yang merepresentasikan permainan tradisional masyarakat Manggarai menggunakan bambu panjang secara ritmis dan penuh kekompakan.
Baca juga: Labuan Bajo Masuk 10 Destinasi Wisata Terbaik di Asia 2026 Versi Condé Nast Traveler
Selanjutnya Tari Ngkiong yang menggambarkan semangat kebersamaan dan sukacita masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Sanggar Manik Laing menampilkan Tari Leke, yaitut tarian tradisional yang menggunakan properti batok kelapa dan menampilkan gerakan ritmis yang enerjik serta penuh semangat.
Kemeriahan event ditutup dengan sesi goyang bersama yang melibatkan para penampil dan pengunjung, menciptakan suasana hangat dan interaktif di kawasan Natas Parapuar.
Salah satu wisatawan asal Argentina, Bryan mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya mengunjungi Natas Parapuar dan menyaksikan langsung kegiatan Weekend at Parapuar.
“Ini merupakan pertama kalinya saya mengunjungi Natas Parapuar. Tempat ini sangat indah dan acaranya juga sangat menarik. Kami bisa menikmati musik dan menyaksikan tarian tradisional masyarakat lokal. Orang-orang di sini juga sangat luar biasa dan ramah. Saya senang bisa berada di sini,” ujar Bryan dalam bahasa Inggris.
Melalui penyelenggaraan Weekend at Parapuar, BPOLBF terus berupaya menghadirkan atraksi wisata darat berbasis budaya yang berkelanjutan serta mendukung pengembangan kawasan Parapuar sebagai destinasi wisata terpadu, regeneratif, dan inklusif di Labuan Bajo.
(shf)
Lihat Juga :