Tangsel One dan Helita Diluncurkan, Pelayanan Publik Dimulai dari Percakapan
Jum'at, 01 Mei 2026 - 10:43 WIB
loading...
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie meresmikan peluncuran Tangsel One dan Helita sebagai pintu masuk baru pelayanan publik digital, Kamis (30/4/2026). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
TANGSEL - Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) meluncurkan Tangsel One dan Helita sebagai pintu masuk baru pelayanan publik digital, Kamis (30/4/2026). Lewat WhatsApp, 441 layanan publik akan diintegrasikan bertahap. Inovasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagian dari reformasi birokrasi , kedaulatan data, dan perubahan cara pemerintah berinteraksi dengan warga.
Sebelumnya pelayanan publik identik dengan ruang tunggu, loket, nomor antrean, berkas yang harus dibawa, dan jam kerja kantor. Warga datang, bertanya kepada petugas, lalu berpindah dari satu meja ke meja lain untuk memastikan syarat layanan yang dibutuhkan sudah benar.
Namun, di Ruang Blandongan, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan cara lama itu mulai digeser pelan-pelan. Pemkot Tangsel memperkenalkan sebuah wajah baru pelayanan publik digital: Tangsel One dan Helita — Helo Kita Tangsel. Baca juga: Mendagri: MPP Solusi Efisiensi Birokrasi dan Dorong Ekonomi Lokal
Inovasi itu tidak dimulai dari aplikasi yang harus diunduh. Tidak pula dimulai dari halaman situs yang harus diingat satu per satu. Ia dimulai dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan hampir semua pengguna ponsel: percakapan.
Lewat Helita, warga cukup membuka WhatsApp, memulai chat, lalu menyampaikan kebutuhan layanan. Dari sana, sistem akan membantu memberi informasi, menjawab pertanyaan, mengarahkan kanal yang sesuai, hingga secara bertahap membantu proses layanan publik yang dibutuhkan.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, kemudahan itulah yang ingin ditawarkan kepada masyarakat. “Jadi nggak usah download aplikasi yang lain, cukup Helo Kita dimasukin dalam daftar WhatsApp handphone kita. Mau nanya apa aja, mau pelayanan publik apa aja, nanti akan bisa dilayani oleh Helita ini,” katanya seusai peluncuran.
Tangsel One hadir sebagai respons atas banyaknya kanal layanan publik yang selama ini tersebar di berbagai perangkat daerah. Bagi pemerintah, setiap kanal mungkin dibangun untuk menjawab kebutuhan tertentu. Namun bagi masyarakat, terlalu banyak pintu layanan kerap menimbulkan kebingungan baru.
Warga harus tahu aplikasi mana yang digunakan, situs mana yang dibuka, dokumen apa yang disiapkan, ke dinas mana harus bertanya, dan kepada siapa pengaduan perlu disampaikan. Dalam banyak kasus, yang sederhana bagi birokrasi belum tentu sederhana bagi masyarakat.
Di sinilah Tangsel One mencoba mengambil peran. Ia dirancang sebagai satu ekosistem digital untuk menghubungkan berbagai layanan publik di Kota Tangerang Selatan.
Benyamin menyebut, terdapat 441 layanan publik yang secara bertahap akan diintegrasikan ke dalam Tangsel One. Dengan integrasi itu, warga tidak lagi harus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
“Semua, ada 441 layanan aplikasi pelayanan publik di Kota Tangerang Selatan. Secara bertahap nantinya semuanya akan menjadi satu. Dan di OPD-nya juga, yang semua punya aplikasi tadi, nanti semuanya hanya mengakses Helita ini saja, Tangsel One ini saja,” lanjutnya.
Pada tahap awal, layanan perizinan melalui DPMPTSP menjadi salah satu layanan yang sudah dapat diakses. Setelah itu, layanan dari organisasi perangkat daerah lain akan terus ditambahkan secara bertahap.
Benyamin memberi contoh sederhana. Jika warga ingin mengurus Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG, warga dapat bertanya kepada Helita mengenai syarat dan alurnya. Sistem kemudian memberi petunjuk dokumen yang perlu disiapkan, termasuk kemungkinan mengunggah dokumen yang dibutuhkan.
“Basisnya memang AI, tapi diperluas untuk bukan saja sekadar informasi, tapi juga layanan-layanan publik yang lain. Misalnya, saya pengin bikin PBG, apa aja syaratnya? Ya ini, ini, ini, tolong siapin KTP-nya. Nanti di-upload, nanti Helita yang ke dinas teknisnya,” jelasnya.
Benyamin menyebut Helita sebagai pendamping Pemkot Tangsel dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat. Layanan ini juga disiapkan untuk aktif selama 24 jam, tujuh hari dalam seminggu. Baca juga: Pemkot Tangsel Raih Predikat Kota Berkinerja Tinggi dari Kemendagri
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangsel, Tubagus Asep Nurdin, menjelaskan basis chat dipilih karena dekat dengan keseharian masyarakat. Pemerintah tidak ingin warga dipaksa memahami sistem yang rumit. Sistemlah yang harus dibuat lebih mudah mengikuti kebiasaan warga.
“Kenapa Helita ini kita buat basisnya chat? Karena supaya memudahkan. Jadi masyarakat sudah tidak perlu lagi buka aplikasi dan sebagainya. Yang sangat mudah ini sebetulnya keseharian warga. Keseharian warga itu apa? Ya biasa chat,” katanya.
Sebelumnya pelayanan publik identik dengan ruang tunggu, loket, nomor antrean, berkas yang harus dibawa, dan jam kerja kantor. Warga datang, bertanya kepada petugas, lalu berpindah dari satu meja ke meja lain untuk memastikan syarat layanan yang dibutuhkan sudah benar.
Namun, di Ruang Blandongan, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan cara lama itu mulai digeser pelan-pelan. Pemkot Tangsel memperkenalkan sebuah wajah baru pelayanan publik digital: Tangsel One dan Helita — Helo Kita Tangsel. Baca juga: Mendagri: MPP Solusi Efisiensi Birokrasi dan Dorong Ekonomi Lokal
Inovasi itu tidak dimulai dari aplikasi yang harus diunduh. Tidak pula dimulai dari halaman situs yang harus diingat satu per satu. Ia dimulai dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan hampir semua pengguna ponsel: percakapan.
Lewat Helita, warga cukup membuka WhatsApp, memulai chat, lalu menyampaikan kebutuhan layanan. Dari sana, sistem akan membantu memberi informasi, menjawab pertanyaan, mengarahkan kanal yang sesuai, hingga secara bertahap membantu proses layanan publik yang dibutuhkan.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, kemudahan itulah yang ingin ditawarkan kepada masyarakat. “Jadi nggak usah download aplikasi yang lain, cukup Helo Kita dimasukin dalam daftar WhatsApp handphone kita. Mau nanya apa aja, mau pelayanan publik apa aja, nanti akan bisa dilayani oleh Helita ini,” katanya seusai peluncuran.
Tangsel One hadir sebagai respons atas banyaknya kanal layanan publik yang selama ini tersebar di berbagai perangkat daerah. Bagi pemerintah, setiap kanal mungkin dibangun untuk menjawab kebutuhan tertentu. Namun bagi masyarakat, terlalu banyak pintu layanan kerap menimbulkan kebingungan baru.
Warga harus tahu aplikasi mana yang digunakan, situs mana yang dibuka, dokumen apa yang disiapkan, ke dinas mana harus bertanya, dan kepada siapa pengaduan perlu disampaikan. Dalam banyak kasus, yang sederhana bagi birokrasi belum tentu sederhana bagi masyarakat.
Di sinilah Tangsel One mencoba mengambil peran. Ia dirancang sebagai satu ekosistem digital untuk menghubungkan berbagai layanan publik di Kota Tangerang Selatan.
Benyamin menyebut, terdapat 441 layanan publik yang secara bertahap akan diintegrasikan ke dalam Tangsel One. Dengan integrasi itu, warga tidak lagi harus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
“Semua, ada 441 layanan aplikasi pelayanan publik di Kota Tangerang Selatan. Secara bertahap nantinya semuanya akan menjadi satu. Dan di OPD-nya juga, yang semua punya aplikasi tadi, nanti semuanya hanya mengakses Helita ini saja, Tangsel One ini saja,” lanjutnya.
Pada tahap awal, layanan perizinan melalui DPMPTSP menjadi salah satu layanan yang sudah dapat diakses. Setelah itu, layanan dari organisasi perangkat daerah lain akan terus ditambahkan secara bertahap.
Benyamin memberi contoh sederhana. Jika warga ingin mengurus Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG, warga dapat bertanya kepada Helita mengenai syarat dan alurnya. Sistem kemudian memberi petunjuk dokumen yang perlu disiapkan, termasuk kemungkinan mengunggah dokumen yang dibutuhkan.
“Basisnya memang AI, tapi diperluas untuk bukan saja sekadar informasi, tapi juga layanan-layanan publik yang lain. Misalnya, saya pengin bikin PBG, apa aja syaratnya? Ya ini, ini, ini, tolong siapin KTP-nya. Nanti di-upload, nanti Helita yang ke dinas teknisnya,” jelasnya.
Benyamin menyebut Helita sebagai pendamping Pemkot Tangsel dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat. Layanan ini juga disiapkan untuk aktif selama 24 jam, tujuh hari dalam seminggu. Baca juga: Pemkot Tangsel Raih Predikat Kota Berkinerja Tinggi dari Kemendagri
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangsel, Tubagus Asep Nurdin, menjelaskan basis chat dipilih karena dekat dengan keseharian masyarakat. Pemerintah tidak ingin warga dipaksa memahami sistem yang rumit. Sistemlah yang harus dibuat lebih mudah mengikuti kebiasaan warga.
“Kenapa Helita ini kita buat basisnya chat? Karena supaya memudahkan. Jadi masyarakat sudah tidak perlu lagi buka aplikasi dan sebagainya. Yang sangat mudah ini sebetulnya keseharian warga. Keseharian warga itu apa? Ya biasa chat,” katanya.
(poe)
Lihat Juga :