Jelang Muktamar ke-35 NU, Calon Ketum PBNU Gus Salam Sowan ke Guru Wildan Banjar
Minggu, 26 April 2026 - 19:20 WIB
loading...
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam kembali menemui sejumlah tokoh NU. Kali ini cucu pendiri NU KH Bishri Syansuri tersebut menemui KH Muhammad Wildan Salman yang dikenal Guru Wilda
A
A
A
KALSEL - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam kembali menemui sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Kali ini cucu pendiri NU KH Bishri Syansuri tersebut menemui KH Muhammad Wildan Salman yang dikenal Guru Wildan.
Kunjungan Gus Salam menemui keturunan dari Syeikh M. Arsyad Al-Banjari (Datuk Kelampayan), Martapura, Banjar Kalimantan Selatan, ini dalam rangka mohon doa restu, nasihat dan bimbingan ulama untuk berikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui Muktamar ke-35.
Guru Wildan bin Salman Jalil merupakan Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Selatan. Selain silaturahmi, Gus Salam dijadwalkan menggelar kajian kitab kuning “Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asyfiya”.
“Saya selalu dan menjadi protocol kalau masuk ke suatu wilayah untuk menggalang kepercayaan ketua-ketua PCNU, saya akan sowan dulu ke Rais Syuriyah dan Kiai sepuh setempat. Saya sudah sowan silaturhmi ke Guru Wildan,” kata Gus Salam, Minggu (26/4/2026).
Baca juga: Menag Nasaruddin Umar: NU Mampu Menjembatani Peradaban Timur dan Barat
Gus Salam mengaku mengagumi Guru Wildan, karena merupakan murid langsung Syeikh Yasin al-Fadani yang dijuluki Musnid Ad-Dunya atau pemilik sanad ilmu terluas di dunia ulama besar makkah keturunan Minangkabau. ”Guru Wildan mengasuh pesantren tertua dan terbesar di Kalsel; Pesantren Darussalam dengan jumlah santri 12.000,” tambahnya.
Gus Salam mengaku mendapat pesan penting dari Guru Wildan agar menjaga dan menjalankan jam’iyyah Nahdlatul Ulama dengan landasan keilmuan berbasis pesantren serta etika-akhlaqul karimah yang kuat. Pesan ini melandasi Guru Wildan yang kesehariannya mengajar kitab-kitab besar seperti Ithaf al-Saadah al-Muttaqin Syarah Ihya Ulumuddin, Fathul Bari Syarah Soheh Bukhori, dan lainnya.
Lihat video: FULL Pidato Prabowo di Acara Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama
“Guru Wildan juga berpesan agar NU dikelola dengan rasa cinta, saling mengasihi dan menguatkan ukhuwwah nahdliyyah. Saya sudah pamit beliau dan mohon izin untuk komunikasi dengan PCNU se-Kalimantan Selatan. Alhamdulillah juga didoakan beliau agar diberi kemudahan meraih cita-cita,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat IKAPMAM Aziz Ja'far menjelaskan kehadiran Gus Salam beserta masyayikh PP Mamba’ul Maarif, Denanyar Jombang di tanah Banjar juga untuk memberi kajian kitab “Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asyfiya” sebuah kitab yang mengulas pola hidup yang baik sesuai Islam dengan sentuhan tasawuf dan akhlak.
Aziz Ja'far menjelaskan, pengajian kitab tersebut dilaksanakan di Pesantren Raoudlotul Muta’allimin An-Nahdliyyah (RMA) Guntungmanggis, Banjar Baru Kalimantan Selatan yang diasuh KH Muhari atau dikenal Guru Muha dan diikuti ratusan alumni, masyarakat, dan santri, bahkan pengurus NU Cabang Banjar Baru, Kalsel.
“Dalam pengajian rutin kitab ini, Kiai Abdussalam selalu menyelipkan pesan disertai kisah agar santri tetap terikat dengan masyayikh pesantren. Dan, agar warga serta pengurus NU senantiasa terikat dengan muassis dan masyayikh sepuh NU,” katanya.
Aziz Ja'far menyatakan, di antara substansi isi kitab berujung tentang thoriqoh atau jalan yang ditempuh yang dilandasi oleh tasawwuf; pemahaman ruhani dalam menjalankan rutinitas keseharian, baik dalam beribadah maupun menjalankan usaha. Karena, keduanya adalah kebutuhan hidup manusia yang beragama.
Gus Salam menjelaskan membentuk karakter dan mendidik karakter sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, terutama NU dan berbangsa. Kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asfiya’ menyuguhkan kajian, panduan dan kisah-kisah praksis membentuk karakter dari para sahabat, ulama dan aulia atau para wali.
“Kita ingat, bagaimana character building, membangun kepribadian bangsa menjadi prioritas Presiden Soekarno. Bagaimana pendiri NU, Mbah KH Bishri Syansuri berwasiat agar tetap menjadi NU. Bahkan hebatnya, KH As’ad Syamsul Arifin menjadikan NU sebagai Thoriqoh,” ujar Gus Salam.
Menurut Gus Salam thoriqoh dimaksud jalan menuju kebaikan dalam beragama, bermasyarakat dan berbangsa. Bertasawuf dan berthoriqoh kunci pada niat. Jadi, perbaiki niat bila mengabdi di NU, supaya bisa tersambung kebaikan terhadap muassis NU. Sehingga, terhindar dari niat yang salah, dan tidak menyimpang dari garis perjuangan para ulama.
“Saya adalah santri, niat sendiko dawuh mengikuti arahan, perintah dan nasehat guru dan kiai serta masyayikh NU dan pesantren. Ketika saya diperintah untuk ikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui muktamar ke-35, nanti, saya sam’an wa tho’atan,” ucapnya.
Kunjungan Gus Salam menemui keturunan dari Syeikh M. Arsyad Al-Banjari (Datuk Kelampayan), Martapura, Banjar Kalimantan Selatan, ini dalam rangka mohon doa restu, nasihat dan bimbingan ulama untuk berikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui Muktamar ke-35.
Guru Wildan bin Salman Jalil merupakan Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Selatan. Selain silaturahmi, Gus Salam dijadwalkan menggelar kajian kitab kuning “Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asyfiya”.
“Saya selalu dan menjadi protocol kalau masuk ke suatu wilayah untuk menggalang kepercayaan ketua-ketua PCNU, saya akan sowan dulu ke Rais Syuriyah dan Kiai sepuh setempat. Saya sudah sowan silaturhmi ke Guru Wildan,” kata Gus Salam, Minggu (26/4/2026).
Baca juga: Menag Nasaruddin Umar: NU Mampu Menjembatani Peradaban Timur dan Barat
Gus Salam mengaku mengagumi Guru Wildan, karena merupakan murid langsung Syeikh Yasin al-Fadani yang dijuluki Musnid Ad-Dunya atau pemilik sanad ilmu terluas di dunia ulama besar makkah keturunan Minangkabau. ”Guru Wildan mengasuh pesantren tertua dan terbesar di Kalsel; Pesantren Darussalam dengan jumlah santri 12.000,” tambahnya.
Gus Salam mengaku mendapat pesan penting dari Guru Wildan agar menjaga dan menjalankan jam’iyyah Nahdlatul Ulama dengan landasan keilmuan berbasis pesantren serta etika-akhlaqul karimah yang kuat. Pesan ini melandasi Guru Wildan yang kesehariannya mengajar kitab-kitab besar seperti Ithaf al-Saadah al-Muttaqin Syarah Ihya Ulumuddin, Fathul Bari Syarah Soheh Bukhori, dan lainnya.
Lihat video: FULL Pidato Prabowo di Acara Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama
“Guru Wildan juga berpesan agar NU dikelola dengan rasa cinta, saling mengasihi dan menguatkan ukhuwwah nahdliyyah. Saya sudah pamit beliau dan mohon izin untuk komunikasi dengan PCNU se-Kalimantan Selatan. Alhamdulillah juga didoakan beliau agar diberi kemudahan meraih cita-cita,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat IKAPMAM Aziz Ja'far menjelaskan kehadiran Gus Salam beserta masyayikh PP Mamba’ul Maarif, Denanyar Jombang di tanah Banjar juga untuk memberi kajian kitab “Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asyfiya” sebuah kitab yang mengulas pola hidup yang baik sesuai Islam dengan sentuhan tasawuf dan akhlak.
Aziz Ja'far menjelaskan, pengajian kitab tersebut dilaksanakan di Pesantren Raoudlotul Muta’allimin An-Nahdliyyah (RMA) Guntungmanggis, Banjar Baru Kalimantan Selatan yang diasuh KH Muhari atau dikenal Guru Muha dan diikuti ratusan alumni, masyarakat, dan santri, bahkan pengurus NU Cabang Banjar Baru, Kalsel.
“Dalam pengajian rutin kitab ini, Kiai Abdussalam selalu menyelipkan pesan disertai kisah agar santri tetap terikat dengan masyayikh pesantren. Dan, agar warga serta pengurus NU senantiasa terikat dengan muassis dan masyayikh sepuh NU,” katanya.
Aziz Ja'far menyatakan, di antara substansi isi kitab berujung tentang thoriqoh atau jalan yang ditempuh yang dilandasi oleh tasawwuf; pemahaman ruhani dalam menjalankan rutinitas keseharian, baik dalam beribadah maupun menjalankan usaha. Karena, keduanya adalah kebutuhan hidup manusia yang beragama.
Gus Salam menjelaskan membentuk karakter dan mendidik karakter sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, terutama NU dan berbangsa. Kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asfiya’ menyuguhkan kajian, panduan dan kisah-kisah praksis membentuk karakter dari para sahabat, ulama dan aulia atau para wali.
“Kita ingat, bagaimana character building, membangun kepribadian bangsa menjadi prioritas Presiden Soekarno. Bagaimana pendiri NU, Mbah KH Bishri Syansuri berwasiat agar tetap menjadi NU. Bahkan hebatnya, KH As’ad Syamsul Arifin menjadikan NU sebagai Thoriqoh,” ujar Gus Salam.
Menurut Gus Salam thoriqoh dimaksud jalan menuju kebaikan dalam beragama, bermasyarakat dan berbangsa. Bertasawuf dan berthoriqoh kunci pada niat. Jadi, perbaiki niat bila mengabdi di NU, supaya bisa tersambung kebaikan terhadap muassis NU. Sehingga, terhindar dari niat yang salah, dan tidak menyimpang dari garis perjuangan para ulama.
“Saya adalah santri, niat sendiko dawuh mengikuti arahan, perintah dan nasehat guru dan kiai serta masyayikh NU dan pesantren. Ketika saya diperintah untuk ikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui muktamar ke-35, nanti, saya sam’an wa tho’atan,” ucapnya.
(cip)