Driver Ojol di Labuan Bajo Dianiaya, Keamanan Destinasi Super Prioritas Jadi Sorotan
Rabu, 15 April 2026 - 16:47 WIB
loading...
Penganiayaan terhadap driver ojol di Labuan Bajo, kembali memantik pentingnya penguatan sistem keamanan dan tata kelola transportasi di kawasan destinasi super prioritas tersebut. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
MANGGARAI BARAT - Kasus penganiayaan terhadap driver ojek online (ojol) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memantik pentingnya penguatan sistem keamanan dan tata kelola transportasi di kawasan destinasi super prioritas tersebut. Seorang driver ojol, Donatus Darso, mengaku mengalami trauma setelah menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang di sekitar Bandara Internasional Komodo, Manggarai Barat, NTT.
Terduga pelaku merupakan anggota AWSTAR (Asosiasi Angkutan Kendaraan Wisata Darat) yang beroperasi di kawasan Labuan Bajo. Akibat kejadian itu, Donatus memilih tidak bekerja selama dua hari terakhir. “Trauma. Sudah dua hari tidak kerja,” katanya, Selasa (14/4/2026). Baca juga: Murid TPQ Dianiaya Guru di Probolinggo, Kemenag Minta Aparat Proses Hukum Pelaku
Kasus ini pun telah dilaporkan ke Polres Manggarai Barat . Donatus berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas peristiwa yang dialaminya. “Proses hukum dan diusut sampai tuntas,” tegasnya.
Ia menyebut jumlah pelaku sekitar 7 hingga 9 orang yang mengeroyok dirinya pada Senin (13/4). Dalam kejadian itu, Donatus mengalami pemukulan dan tendangan hingga terjatuh di jalan raya. Ia juga sempat dicekik hingga lehernya memerah. “Saya dipukul dan ditendang sampai jatuh di tengah aspal, untung tidak ada mobil lewat,” ungkapnya. “Saya sempat bangun, naik motor lagi, tapi dipukul lagi.”
Peristiwa bermula saat Donatus menerima pesanan untuk menjemput wisatawan perempuan asal Eropa di Bandara Komodo. Namun, sesuai kesepakatan antara ojol dan sopir angkutan wisata setempat, ia tidak diperbolehkan menjemput di area dekat bandara.
Ia kemudian mengarahkan penumpang untuk bertemu di depan sebuah minimarket yang lokasinya cukup jauh dari pintu keluar bandara. Penumpang tersebut menyetujui dan mendatangi lokasi tersebut. Namun saat penumpang tiba, Donatus justru didatangi sekelompok orang yang membentaknya dan meminta penumpang turun dari sepeda motor, hingga berujung pada aksi penganiayaan.
Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang memastikan pihaknya telah menerima laporan tersebut dan saat ini tengah melakukan pendalaman. Fokus penyelidikan diarahkan pada identifikasi pelaku serta pengungkapan motif di balik aksi kekerasan tersebut.
“Kami sudah menerima laporannya. Saat ini tim penyidik tengah melakukan pendalaman untuk mengidentifikasi para pelaku,” jelasnya.
Wakil Ketua Komunitas Grab Komodo Cama Laing Labuan Bajo, Leonardus Efendi, menilai insiden tersebut sangat disayangkan, terlebih terjadi di wilayah yang menjadi wajah pariwisata Indonesia di mata dunia. "Kami sangat menyayangkan aksi-aksi seperti ini (pengeroyokan dan provokasi). Hal ini jelas mencederai rasa aman bagi mitra pengemudi yang sedang bekerja," ujarnya.
Menurutnya, sebagai destinasi super prioritas, Labuan Bajo seharusnya menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh pihak, baik pelaku transportasi maupun wisatawan. Leonardus pun mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas dan memastikan proses hukum berjalan sampai tuntas.
"Tentu kami meminta pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku. Harus ada efek jera supaya ke depannya tidak ada lagi intimidasi atau kekerasan terhadap driver di area publik," tegasnya. Baca juga: Kisah Aji, Driver Ojol yang Sukses Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM
Selain penegakan hukum, ia juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan transportasi di kawasan bandara, termasuk aturan yang berlaku di lapangan. Di satu sisi, Leonardus mengapresiasi langkah cepat dishub dan kepolisian yang telah melakukan mediasi untuk meredam situasi.
Sebagai bagian dari ekosistem transportasi lokal, Komunitas Grab Komodo Cama Laing menyatakan komitmennya untuk tetap menjaga kondusivitas. Leonardus juga berharap koordinasi antar stakeholder terus diperkuat. "Tujuan kita sama, ingin Labuan Bajo ini aman dan nyaman bagi siapa saja. Kami siap berkolaborasi untuk memastikan pelayanan terbaik bagi tamu yang datang," tuturnya.
Terduga pelaku merupakan anggota AWSTAR (Asosiasi Angkutan Kendaraan Wisata Darat) yang beroperasi di kawasan Labuan Bajo. Akibat kejadian itu, Donatus memilih tidak bekerja selama dua hari terakhir. “Trauma. Sudah dua hari tidak kerja,” katanya, Selasa (14/4/2026). Baca juga: Murid TPQ Dianiaya Guru di Probolinggo, Kemenag Minta Aparat Proses Hukum Pelaku
Kasus ini pun telah dilaporkan ke Polres Manggarai Barat . Donatus berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas peristiwa yang dialaminya. “Proses hukum dan diusut sampai tuntas,” tegasnya.
Ia menyebut jumlah pelaku sekitar 7 hingga 9 orang yang mengeroyok dirinya pada Senin (13/4). Dalam kejadian itu, Donatus mengalami pemukulan dan tendangan hingga terjatuh di jalan raya. Ia juga sempat dicekik hingga lehernya memerah. “Saya dipukul dan ditendang sampai jatuh di tengah aspal, untung tidak ada mobil lewat,” ungkapnya. “Saya sempat bangun, naik motor lagi, tapi dipukul lagi.”
Peristiwa bermula saat Donatus menerima pesanan untuk menjemput wisatawan perempuan asal Eropa di Bandara Komodo. Namun, sesuai kesepakatan antara ojol dan sopir angkutan wisata setempat, ia tidak diperbolehkan menjemput di area dekat bandara.
Ia kemudian mengarahkan penumpang untuk bertemu di depan sebuah minimarket yang lokasinya cukup jauh dari pintu keluar bandara. Penumpang tersebut menyetujui dan mendatangi lokasi tersebut. Namun saat penumpang tiba, Donatus justru didatangi sekelompok orang yang membentaknya dan meminta penumpang turun dari sepeda motor, hingga berujung pada aksi penganiayaan.
Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang memastikan pihaknya telah menerima laporan tersebut dan saat ini tengah melakukan pendalaman. Fokus penyelidikan diarahkan pada identifikasi pelaku serta pengungkapan motif di balik aksi kekerasan tersebut.
“Kami sudah menerima laporannya. Saat ini tim penyidik tengah melakukan pendalaman untuk mengidentifikasi para pelaku,” jelasnya.
Wakil Ketua Komunitas Grab Komodo Cama Laing Labuan Bajo, Leonardus Efendi, menilai insiden tersebut sangat disayangkan, terlebih terjadi di wilayah yang menjadi wajah pariwisata Indonesia di mata dunia. "Kami sangat menyayangkan aksi-aksi seperti ini (pengeroyokan dan provokasi). Hal ini jelas mencederai rasa aman bagi mitra pengemudi yang sedang bekerja," ujarnya.
Menurutnya, sebagai destinasi super prioritas, Labuan Bajo seharusnya menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh pihak, baik pelaku transportasi maupun wisatawan. Leonardus pun mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas dan memastikan proses hukum berjalan sampai tuntas.
"Tentu kami meminta pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku. Harus ada efek jera supaya ke depannya tidak ada lagi intimidasi atau kekerasan terhadap driver di area publik," tegasnya. Baca juga: Kisah Aji, Driver Ojol yang Sukses Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM
Selain penegakan hukum, ia juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan transportasi di kawasan bandara, termasuk aturan yang berlaku di lapangan. Di satu sisi, Leonardus mengapresiasi langkah cepat dishub dan kepolisian yang telah melakukan mediasi untuk meredam situasi.
Sebagai bagian dari ekosistem transportasi lokal, Komunitas Grab Komodo Cama Laing menyatakan komitmennya untuk tetap menjaga kondusivitas. Leonardus juga berharap koordinasi antar stakeholder terus diperkuat. "Tujuan kita sama, ingin Labuan Bajo ini aman dan nyaman bagi siapa saja. Kami siap berkolaborasi untuk memastikan pelayanan terbaik bagi tamu yang datang," tuturnya.
(poe)
Lihat Juga :