Kala Nelayan Perempuan di Sumba Go Digital, Buktikan Perempuan Bisa Berdaya 

Selasa, 14 April 2026 - 16:39 WIB
loading...
Kala Nelayan Perempuan...
Katredha Lodo (32), merupakan nelayan perempuan asal Sumba yang sudah aktif melaut sejak belia. Foto/Dok. SindoNews
A A A
SUMBA TIMUR - Di Sumba, tepatnya kawasan wisata pantai Walakiri, seorang nelayan perempuan memiliki cara yang berbeda untuk menjual hasil tangkapan lautnya. Katredha Lodo (32) merupakan nelayan perempuan asal Sumba yang sudah aktif melaut sejak belia. Perempuan yang akrab disapa Mama Redha ini, sehari-harinya pergi ke laut untuk menangkap ikan, gurita, siput gonggong, sayur laut, kerang, dan lain-lain.

Ia menggunakan tombak besi untuk menangkap hasil laut saat kondisi air laut sedang surut. Mama Redha membagikan kisahnya menjadi nelayan perempuan di Pantai Walakiri, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. “Laut sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup saya. Sejak kecil, saya sudah diajak melaut oleh ayah saya, mencari siput, gurita, ikan, dan lain-lain untuk kami jual ke rumah makan atau konsumsi harian masyarakat di sini,” katanya. Baca juga: Prabowo Minta Percepat Kampung Nelayan untuk Pengentasan Kemiskinan

Dalam satu minggu, Mama Redha bisa memperoleh tangkapan laut sebanyak 9-10 kg. Jadwal melautnya memang tidak tentu, tergantung bagaimana bulan memengaruhi pasang surut air laut. Di saat lautnya pasang, Mama Redha tidak akan melaut dan fokus menjual tangkapan yang sudah diperoleh.

Mama Redha menjadi nelayan perempuan pertama yang menjual tangkapan laut lewat media sosial. “Awalnya saya tidak bermaksud menjual di media sosial. Siang itu, saya hanya memfoto saja tangkapan saya. Lalu saya tuliskan caption: Berkat dari laut hari ini. Ternyata banyak warga yang akhirnya tertarik dan justru ingin membeli. Sejak itu, saya jadi memakai media sosial untuk menjual hasil laut,” ujarnya.

Meskipun pengalamannya dalam menggunakan media sosial dilakukan secara otodidak, Mama Redha tidak berhenti untuk mencoba hal baru. Dari sekadar mengunggah foto, Mama Redha bahkan kini menjual hasil tangkapan laut melalui TikTok Live , dan aktif sebagai streamer.

“Saya pernah diejek orang saat berjualan. Dia bilang, masa perempuan cantik jualan produk yang berbau amis di media sosial? Tapi saya pikir, untuk apa saya malu menjual hasil laut di media sosial? Saya yakin produk ini segar dan terbukti, permintaan selalu ada. Setiap saya posting dan live, semua tangkapan pasti laku terjual”, kenang Mama Redha.

Dengan melek digital, Mama Redha bahkan bisa memperluas jangkauan pasarnya. Bahkan restoran lokal pun sudah menjadi pelanggannya untuk membeli hasil laut yang segar. “Terkadang malah saya yang tidak bisa memenuhi permintaan, karena tangkapan laut sangat dipengaruhi oleh pasang surut air lautnya. Jadi sering kali stoknya habis padahal permintaan tinggi,” ungkapnya.

Meskipun bisnisnya berjalan baik, Mama Redha menyadari bahwa Ia tidak bisa terus menerus bergantung pada satu pekerjaan saja. Pada 2024, ia pun bergabung menjadi mitra Amartha dan memperoleh pinjaman modal Rp5 juta.

Modal itu ia pergunakan untuk membuka warung kelontong. “Karena hasil laut tidak terlalu stabil dan sangat dipengaruhi oleh gerak bulan, saya berpikir untuk memiliki pendapatan sampingan dengan membuka warung kelontong. Untung saja ada Amartha, yang mau meminjamkan modal tanpa agunan. Sekarang saya jadi punya warung kelontong,” jelasnya.

Mama Redha sempat menceritakan pengalamannya meminjam uang dari lembaga keuangan lain. Namun, Ia mengalami kendala karena persyaratan yang rumit dan bunga yang tinggi. Hadirnya Amartha menjadi solusi bagi Mama Redha untuk mengakses permodalan.

“Saya bersyukur dapat mengenal fintech Amartha. Saya bisa mendapatkan modal tanpa agunan, persyaratannya mudah, dan kita bisa tambah terus plafon pinjaman kalau kita disiplin dalam melakukan pembayaran. Petugas Amartha juga sangat ramah. Jadi saya sangat terbantu,” ungkapnya.

Pekerjaan sebagai nelayan bukanlah satu-satunya pekerjaan yang pernah dijalani Mama Redha. Sebelumnya, Ia pernah bekerja di pabrik cengkeh sebagai tim monitoring pertumbuhan cengkeh. Namun ia memutuskan berhenti karena sering sakit-sakitan dan terkena batu ginjal. Baca juga: Digital Trust Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Teknologi

“Mungkin saya memang tak boleh berpisah dari laut. Setelah kembali menjadi nelayan, saya tidak pernah sakit. Padahal angin laut dan ombak bisa saja membuat sakit, kan?,” katanya sambil tertawa.

Dari hasil melaut dan berjualan warung kelontong, Mama Redha berhasil membeli sepeda motor dan membangun rumah yang terbuat dari beton. Mama Redha berencana untuk terus bergabung dengan Amartha dan mengajukan pinjaman lebih besar lagi. “Cita-cita saya, ingin punya warung makan seafood sendiri. Dari hasil tangkapan laut yang segar, dan dimasak dengan bumbu lokal. Maka dari itu, pinjaman modal akan sangat membantu untuk mengembangkan kuliner laut di Walakiri,” tandasnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gandeng CEO Kreta Digital,...
Gandeng CEO Kreta Digital, Dispora Kota Batam Gelar Pelatihan Digital Marketing
Kisah Mas Rushh Bangun...
Kisah Mas Rushh Bangun Personal Branding lewat Konten Keluarga
Bantu Aktivitas Ekonomi...
Bantu Aktivitas Ekonomi Nelayan, Wilmar Serahkan Peralatan Tangkap Ikan
Keluhkan Bongkar Muat...
Keluhkan Bongkar Muat Batu Bara di Laut, Nelayan Pulau Ampel: Jadi Susah Tangkap Ikan
Dukung Nelayan Lebih...
Dukung Nelayan Lebih Aman Melaut, Askrindo Gandeng DKP Kabupaten Demak
BMKG Ingatkan Potensi...
BMKG Ingatkan Potensi Gelombang Tinggi hingga 13 Mei 2026
DPR Desak Negara Tindak...
DPR Desak Negara Tindak Keras Tanpa Kompromi Judi Online dan Teror Pinjol
Marketplace kian ‘Sesak’,...
Marketplace kian ‘Sesak’, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
BRI Salurkan KUR Rp65,95...
BRI Salurkan KUR Rp65,95 Triliun, Jangkau 558.000 Petani dan 23.000 Nelayan
Rekomendasi
Dianggap Mampu, 76 Sekolah...
Dianggap Mampu, 76 Sekolah di Pulau Jawa Dicoret dari Daftar Penerima MBG
Unair Tembus Peringkat...
Unair Tembus Peringkat 276 Dunia di QS WUR 2027, Raih Posisi Ketiga Nasional
Kamboja Targetkan Kerja...
Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree
Berita Terkini
Pengadilan Eksekusi...
Pengadilan Eksekusi Kawasan Hotel Sultan, Aset Dipindahkan ke Gudang di Cikarang
Polda Metro Gandeng...
Polda Metro Gandeng Kemenhaj Cari Solusi bagi Korban Dugaan Penipuan Hanania Travel
KPU Jakarta Timur Dorong...
KPU Jakarta Timur Dorong Parpol Memperbarui Data
Gelombang Demonstrasi...
Gelombang Demonstrasi Berlanjut di Medan Merdeka Selatan, Mahasiswa Sampaikan Kritik Kebijakan Pemerintah
Konsep 8B Jadi Usulan...
Konsep 8B Jadi Usulan Fahira Idris untuk Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Berkeadilan
Korban Tewas Gempa Magnitudo...
Korban Tewas Gempa Magnitudo 6,7 di Sulteng Bertambah Jadi 3 Orang
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved