Dari Rumah ke TPA: Perbedaan yang Jarang Disadari soal Galon

Senin, 06 April 2026 - 19:43 WIB
loading...
Dari Rumah ke TPA: Perbedaan...
Di tengah meningkatnya produksi sampah plastik nasional, pilihan jenis kemasan air minum menjadi perhatian. Foto: Ilustrasi/Dok Sindonews
A A A
JAKARTA - Di tengah meningkatnya produksi sampah plastik nasional, pilihan jenis kemasan air minum menjadi perhatian. Kajian akademik menunjukkan galon guna ulang PET memberikan dampak lingkungan lebih rendah dibanding galon sekali pakai yang langsung menjadi limbah setelah digunakan.

"Hal ini merupakan salah satu upaya mengurangi sampah kemasan plastik dari produk air minum dalam kemasan dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan," kata Kapokja Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Ditjen Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup Wisti Noviani Adnin, Senin (6/4/2026).

Galon guna ulang dirancang untuk dipakai berulang kali sehingga secara signifikan menekan timbulan sampah plastik dan emisi karbon. Berbeda dengan galon sekali pakai, yang langsung dibuang setelah isinya habis dan menambah volume sampah di lingkungan.

Baca juga: Benarkah Galon Polikarbonat Bisa Sebabkan Kanker?

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK ada sekitar 36 juta ton timbulan sampah pada 2024 lalu yang dihitung dari 342 kabupaten/kota. Sebanyak 19,59 persen diantaranya merupakan sampah plastik yang menyumbang tekanan besar terhadap TPA dan ekosistem lingkungan.

Sedangkan timbulan sampah pada 2025 sebanyak 25 juta ton dari 249 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, 20,45 persen merupakan sampah plastik. Angka-angka ini kemungkinan akan bertambah karena proses penghitungan masih berjalan.

Meski penghitungan belum rampung, namun komposisi jumlah sampah plastik pada 2025 sudah melebihi tahun sebelumnya. Ini menjadi pengingat pentingnya mengutamakan pemakaian kemasan guna ulang dibanding sekali pakai, terlebih dalam bentuk sampah plastik berukuran besar seperti galon.

Pemanfaatan galon guna ulang berbahan PET dianggap memiliki keunggulan ekologis yang signifikan dibandingkan dengan kemasan galon sekali pakai. Inovasi ini mampu meminimalisir volume sampah plastik, menekan emisi karbon, serta memperkuat implementasi ekonomi sirkular di Indonesia.

"Penggunaan galon guna ulang PET dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibanding galon sekali pakai pakai," kata Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon.

Menurut riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, tanpa adanya galon guna ulang, tujuh dari sepuluh konsumen diperkirakan memilih kemasan sekali pakai yang berpotensi meningkatkan timbulan sampah plastik hingga 770.000 ton per tahun.

Akibatnya, emisi sampah plastik akan bertambah hingga 1.655.500 ton per tahun. Tingginya emisi sampah plastik dan karbon dari galon sekali pakai sangat bertentangan dengan prinsip keberlanjutan dan target pengurangan sampah plastik KLHK sebesar 30 persen pada 2025.

"Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air/laut maupun dibuang langsung ke tanah," ujar Bisuk.

Pemakaian galon guna ulang juga dapat mengurangi jejak karbon dan efisiensi penggunaan sumber daya karena tidak perlu terus-menerus membuat kemasan baru. Desain PET guna ulang yang lebih ringan turut mendukung efisiensi logistik dan distribusi.

Beberapa studi lingkungan menyebutkan bahwa pemakaian ulang kemasan PET jauh lebih efisien dalam penggunaan material, energi, dan sumber daya lain dibandingkan produksi galon sekali pakai baru setiap kali dibutuhkan. Data akademik menunjukkan bahwa siklus hidup galon guna ulang memiliki skor dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan galon sekali pakai.

Pakar Lingkungan Hidup Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Suprihatin mengungkapkan bahwa masa pakai galon tidak berpengaruh terhadap potensi migrasi Bisphenol A (BPA) dari galon guna ulang polikarbonat (PC) ke dalam air minum dalam kemasan (AMDK). Migrasi BPA hanya terjadi dalam kondisi ekstrem tertentu.

"Secara teori, laju migrasi BPA dari galon ke AMDK tidak dipengaruhi oleh frekuensi pemakaian galon," kata Suprihatin.

Potensi migrasi BPA ke dalam air konsumsi lebih dipengaruhi oleh faktor kimia seperti tingkat keasaman (pH) dan fisik contohnya suhu tinggi hingga mekanis. Dia mengatakan, waktu kontak antara kemasan dengan bahan yang dikemas juga memiliki potensi migrasi BPA.

"Tapi, air galon umumnya waktu kontak tidak lama, sudah habis dipakai," kata Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB ini.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hari Buruh 2026, Prabowo...
Hari Buruh 2026, Prabowo Komitmen Bangun Hunian 1 Juta Rumah untuk Pekerja
Kisah Rumah Tua di Jalan...
Kisah Rumah Tua di Jalan Darmo Jadi Cerminan Sengketa Tanah di Indonesia
Gejolak Global Picu...
Gejolak Global Picu Kenaikan Harga Bahan Baku Kemasan, Amdatara Minta Insentif Pemerintah
Rumah di Jalan Brawijaya...
Rumah di Jalan Brawijaya Jaksel yang Ditabrak Mobil Ternyata Milik Anak Jusuf Kalla
Dewas Amdatara Sebut...
Dewas Amdatara Sebut AMDK Terjamin dan Aman Dikonsumsi
Danantara Serahkan 600...
Danantara Serahkan 600 Hunian Sementara di Aceh Tamiang
Bunga Mulai 1,75%! BRI...
Bunga Mulai 1,75%! BRI KPR Hadirkan Solusi Paling Ringan untuk Miliki Rumah Impian
KPK Telusuri Pembelian...
KPK Telusuri Pembelian Rumah Rp4 Miliar Fadia Arafiq di Cibubur
Perkuat Konsolidasi...
Perkuat Konsolidasi Industri AMDK dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan
Rekomendasi
Kemenag Buka Beasiswa...
Kemenag Buka Beasiswa INSIGHT Scholarship bagi Mahasiswa Internasional yang Ingin Kuliah di PTKIN
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Berita Terkini
Sekjen PPP Taj Yasin...
Sekjen PPP Taj Yasin dan Agus Suparmanto Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
MNC Peduli dan Park...
MNC Peduli dan Park Hyatt Jakarta Gelar Aksi Food Rescue untuk Warga Duri Kepa
KAI Jadi Benchmark Layanan...
KAI Jadi Benchmark Layanan Publik Indonesia, Dinilai Mampu Bersaing secara Global
Begal dan Curanmor,...
Begal dan Curanmor, Kasus Besar yang Diungkap Polda Riau dalam Semalam
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
Berbekal PROPER Hijau,...
Berbekal PROPER Hijau, Langkah Nyata Transformasi Ekologis Diperkuat di Sulawesi Tenggara
Infografis
20 Negara yang Pernah...
20 Negara yang Pernah Dijajah Alexander Agung, dari Pakistan hingga Palestina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved