Pengasuh Mamba’ul Ma’arif: Serangan Israel-Amerika ke Iran Cederai Hukum Internasional
Sabtu, 07 Maret 2026 - 23:59 WIB
loading...
A
A
A
Lihat video: Perang AS-Israel vs Iran Makin Liar Tak Terkendali
“Serangan dilakukan saat umat Islam menjalankan ibadah Ramadan dan telah menelan banyak korban sipil, terutama anak-anak. Ini tindakan yang sulit diterima oleh akal sehat,” katanya.
Selain Iran, Gus Salam juga menyoroti kondisi di Palestina, khususnya di wilayah Gaza Strip dan Tepi Barat yang hingga kini masih mengalami kekerasan akibat operasi militer Israel. Menurutnya, tragedi kemanusiaan yang terjadi di kawasan tersebut semakin memperlihatkan krisis keadilan global.
“Eskalasi konflik saat ini berpotensi meluas karena keterlibatan sejumlah negara di Timur Tengah. Hal ini tidak lepas dari keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, dan Kuwait yang menjadi sasaran serangan balasan Iran,” terangnya.
Selain itu, konflik juga berpotensi meluas ke negara lain di kawasan seperti Lebanon melalui kelompok Hezbollah serta memicu ketegangan baru di kawasan Kaukasus, termasuk di Azerbaijan.
“Konflik global tersebut tidak terlepas dari peran dua tokoh politik dunia, yakni mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilainya sebagai aktor utama di balik berbagai konflik di kawasan Timur Tengah,” jelasnya.
Gus Salam juga menyoroti posisi Indonesia yang saat ini bergabung dalam inisiatif Board of Peace (BoP) yang digagas Donald Trump. Menurutnya, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut perlu dikaji kembali karena dinilai tidak berada dalam kerangka resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Board of Peace bukan lembaga resmi PBB. Kendalinya berada langsung di tangan Donald Trump. Karena itu, Indonesia tidak seharusnya berada dalam posisi yang dapat mengurangi independensi politik luar negeri kita, Indonesia harus keluar dari BOP adalah harga mati” tegasnya.
“Serangan dilakukan saat umat Islam menjalankan ibadah Ramadan dan telah menelan banyak korban sipil, terutama anak-anak. Ini tindakan yang sulit diterima oleh akal sehat,” katanya.
Selain Iran, Gus Salam juga menyoroti kondisi di Palestina, khususnya di wilayah Gaza Strip dan Tepi Barat yang hingga kini masih mengalami kekerasan akibat operasi militer Israel. Menurutnya, tragedi kemanusiaan yang terjadi di kawasan tersebut semakin memperlihatkan krisis keadilan global.
“Eskalasi konflik saat ini berpotensi meluas karena keterlibatan sejumlah negara di Timur Tengah. Hal ini tidak lepas dari keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, dan Kuwait yang menjadi sasaran serangan balasan Iran,” terangnya.
Selain itu, konflik juga berpotensi meluas ke negara lain di kawasan seperti Lebanon melalui kelompok Hezbollah serta memicu ketegangan baru di kawasan Kaukasus, termasuk di Azerbaijan.
“Konflik global tersebut tidak terlepas dari peran dua tokoh politik dunia, yakni mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilainya sebagai aktor utama di balik berbagai konflik di kawasan Timur Tengah,” jelasnya.
Gus Salam juga menyoroti posisi Indonesia yang saat ini bergabung dalam inisiatif Board of Peace (BoP) yang digagas Donald Trump. Menurutnya, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut perlu dikaji kembali karena dinilai tidak berada dalam kerangka resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Board of Peace bukan lembaga resmi PBB. Kendalinya berada langsung di tangan Donald Trump. Karena itu, Indonesia tidak seharusnya berada dalam posisi yang dapat mengurangi independensi politik luar negeri kita, Indonesia harus keluar dari BOP adalah harga mati” tegasnya.
Lihat Juga :