KB PII Dukung Pembatasan Minimarket Demi Pengembangan Koperasi Merah Putih di Desa
Selasa, 24 Februari 2026 - 16:53 WIB
loading...
Ketum Pimpinan Pusat KB PII di Jakarta Nasrullah Larada mendukung pembatasan minimarket demi pengembangan Koperasi Merah Putih. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) mendukung gagasan Menkop Ferry Juliantono mengenai perlunya pembatasan ekspansi minimarket di desa-desa yang sudah berdiri koperasi seperti Koperasi Desa Merah Putih. Hal itu penting demi keadilan ekonomi masyarakat.
"Demi keadilan ekonomi dan distribusi ekonomi dan keadilan sebaiknya minimarket tidak expansi di desa-desa yang sudah berdiri Koperasi," tegas Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat KB PII di Jakarta Nasrullah Larada, Selasa (24/2).
Menurut Nasrullah, para produsen lokal dan koperasi maupun UMKM harus mendapatkan perlindungan agar tidak diadu langsung dengan produk perusahaan ritel modern yang punya jaringan lebih luas.
Baca juga: Muktamar VII KBPII, Muzani Bicara Pentingnya Mempersiapkan Calon Pemimpin
“Kalau tidak ada perlindungan, Nasrullah mencemaskan produk-produk lokal desa di koperasi tak akan mampu bersaing dengan produk sejenis yang ditawarkan minimarket,” katanya.
Karena itu, gagasan Menkop Ferry Juliantono agar ada pembatasan expansi minimarket di desa-desa yang sudah ada koperasi dan usaha ritel lokal harus didukung.
"Koperasi itu untungnya kembali ke warga atau anggota di desa sehingga memakmurkan warga. Sementara ritel modern untungnya mengalir ke pemodal besar di kota," ujarnya.
Lihat video: Breaking News Budi Arie Resmi Serahkan Jabatan Menkop ke Ferry Juliantono
Nasrullah mengingatkan sebelum ada Koperasi Desa Merah Putih pun sudah banyak berdiri koperasi di desa-desa. Namun umumnya koperasi ini sulit berkembang terutama sejak masuknya ritel modern.
Kehadiran ritel modern di desa-desa itu, lanjut Nasrullah, tidak hanya mematikan koperasi. Tapi juga telah mematikan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di desa-desa karena produknya sulit bersaing dengan produk-produk yang ditawarkan industri ritel modern. "Jadi ritel modern ini tidak hanya mematikan daya saing koperasi, tapi juga mematikan UMKM di desa-desa," jelas Nasrullah.
Nasrullah juga menyambut baik gagasan untuk Menteri Koperasi agar melibatkan generasi muda Milenial dan Gen Z dalam pengembangan koperasi karena mereka akan mendominasi 50% penduduk Indonesia. "Sekitar 144 juta generasi Milenial dan Gen Z akan mendominasi populasi Indonesia," ucapnya.
Usaha yang digagas kalangan milenial dan Gen Z banyak yang menonjolkan unsur kreatifitas, inovasi dan kemandirian. "Usaha tersebut sangat layak diwadahi oleh koperasi berbasis komunitas," tambah Nasrullah.
Sebelumnya Menkop Ferry Juliantono meminta minimarket untuk menghentikan penambahan gerai baru di wilayah perdesaan. Menurut Ferry, dominasi ritel modern di perdesaan justru menjadi penyedot likuiditas desa ke kota. Karena itu, ia mendorong Koperasi Desa mengambil alih peran tersebut agar uang tetap berputar di desa. "Stop bikin ritel di desa. Biarkan di desa itu koperasi yang jualan barang-barangnya," pinta Ferry.
Pemerintah sendiri berencana membangun 60.000 koperasi desa dengan desain percepatan, sementara 20.000 akan menyesuaikan geografis desa.
"Demi keadilan ekonomi dan distribusi ekonomi dan keadilan sebaiknya minimarket tidak expansi di desa-desa yang sudah berdiri Koperasi," tegas Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat KB PII di Jakarta Nasrullah Larada, Selasa (24/2).
Menurut Nasrullah, para produsen lokal dan koperasi maupun UMKM harus mendapatkan perlindungan agar tidak diadu langsung dengan produk perusahaan ritel modern yang punya jaringan lebih luas.
Baca juga: Muktamar VII KBPII, Muzani Bicara Pentingnya Mempersiapkan Calon Pemimpin
“Kalau tidak ada perlindungan, Nasrullah mencemaskan produk-produk lokal desa di koperasi tak akan mampu bersaing dengan produk sejenis yang ditawarkan minimarket,” katanya.
Karena itu, gagasan Menkop Ferry Juliantono agar ada pembatasan expansi minimarket di desa-desa yang sudah ada koperasi dan usaha ritel lokal harus didukung.
"Koperasi itu untungnya kembali ke warga atau anggota di desa sehingga memakmurkan warga. Sementara ritel modern untungnya mengalir ke pemodal besar di kota," ujarnya.
Lihat video: Breaking News Budi Arie Resmi Serahkan Jabatan Menkop ke Ferry Juliantono
Nasrullah mengingatkan sebelum ada Koperasi Desa Merah Putih pun sudah banyak berdiri koperasi di desa-desa. Namun umumnya koperasi ini sulit berkembang terutama sejak masuknya ritel modern.
Kehadiran ritel modern di desa-desa itu, lanjut Nasrullah, tidak hanya mematikan koperasi. Tapi juga telah mematikan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di desa-desa karena produknya sulit bersaing dengan produk-produk yang ditawarkan industri ritel modern. "Jadi ritel modern ini tidak hanya mematikan daya saing koperasi, tapi juga mematikan UMKM di desa-desa," jelas Nasrullah.
Nasrullah juga menyambut baik gagasan untuk Menteri Koperasi agar melibatkan generasi muda Milenial dan Gen Z dalam pengembangan koperasi karena mereka akan mendominasi 50% penduduk Indonesia. "Sekitar 144 juta generasi Milenial dan Gen Z akan mendominasi populasi Indonesia," ucapnya.
Usaha yang digagas kalangan milenial dan Gen Z banyak yang menonjolkan unsur kreatifitas, inovasi dan kemandirian. "Usaha tersebut sangat layak diwadahi oleh koperasi berbasis komunitas," tambah Nasrullah.
Sebelumnya Menkop Ferry Juliantono meminta minimarket untuk menghentikan penambahan gerai baru di wilayah perdesaan. Menurut Ferry, dominasi ritel modern di perdesaan justru menjadi penyedot likuiditas desa ke kota. Karena itu, ia mendorong Koperasi Desa mengambil alih peran tersebut agar uang tetap berputar di desa. "Stop bikin ritel di desa. Biarkan di desa itu koperasi yang jualan barang-barangnya," pinta Ferry.
Pemerintah sendiri berencana membangun 60.000 koperasi desa dengan desain percepatan, sementara 20.000 akan menyesuaikan geografis desa.
(cip)
Lihat Juga :