Mengenal Tradisi Perempuan Sumba, Merawat Tenun Sumba Tetap Lestari

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:41 WIB
loading...
Mengenal Tradisi Perempuan...
Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun. Sepenggal kalimat di atas meluncur dari Diana Kalera Lena, perempuan asli Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Ist
A A A
SUMBA - “Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun.” Sepenggal kalimat di atas meluncur dari Diana Kalera Lena, perempuan asli Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Diana menyampaikan pandangan itu saat berbicara pada siniar di mini studio BCA Expoversary 2026, beberapa waktu lalu. Menurut dia, menenun bukan sekadar keterampilan melainkan tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan perempuan Sumba sejak usia belia.

“Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain itu butuh proses panjang. Sejak usia 6 tahun saya sudah membantu Ibu saya dan mulai menenun pada usia 17 tahun,” ujar Diana.

Baca juga: 5 Foto Marion Jola Pakai Kain Tenun dan Aksesori Tradisional Sumba, Cantik Khas Indonesia

Melalui program pelatihan wastra warna alam, Bakti BCA memberikan pembinaan kepada kelompok penenun di Sumba dengan menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI). Diana menjadi salah satu penenun yang dibina melalui program tersebut.

Program pembinaan ini melibatkan 50 peserta dari 4 komunitas yaitu Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, dengan rentang usia 25-45 tahun. Peserta didominasi penenun perempuan serta didukung oleh keterlibatan laki-laki sebagai pendukung ekosistem, khususnya pada pengembangan motif dan pengolahan bahan warna alam.

Diana memiliki peran penting dalam kolaborasi antara komunitas penenun di tempat tinggalnya. Dia merupakan penenun pertama dari komunitasnya yang bergabung dengan program pelatihan wastra warna alam, kemudian mengajak 13 orang dari desanya untuk turut serta program itu.

Keikutsertaan dalam pelatihan wastra warna alam membawa manfaat tidak sedikit. Salah satunya adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan mengenai resep dan proses pemanfaatan pewarna alami, yang selama ini tidak diwariskan secara tertib meskipun merupakan bagian dari warisan leluhur.

“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan,” ucapnya.

Selama ini para penenun telah mampu memproduksi kain tenun, namun sebagian masih mengandalkan pewarna sintetis akibat keterbatasan pengetahuan tentang peracikan dan proses pewarnaan alami. Melalui pelatihan wastra warna alam, pengetahuan tersebut mulai dibagikan secara lebih terstruktur.

Para penenun diperkenalkan pada bahan-bahan alami serta tahapan pengolahan hingga penerapannya pada benang dan kain, sehingga mampu menguasai proses produksi secara lebih utuh. Ilmu yang diperoleh dari program ini membantu para penenun menghasilkan karya bernilai tambah yang menjadi sumber penghasilan. Penggunaan pewarna alami tidak hanya memperkuat nilai budaya wastra Sumba, tetapi juga mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn menuturkan tidak hanya berupaya memberikan dampak untuk individu dan komunitas. Lebih dari itu, pihaknya berupaya mempermudah akses produk-produk yang dihasilkan komunitas agar semakin dikenal banyak orang dan meluas pasarnya.

Menurut Hera, para penenun Sumba sebagai tangan yang menjaga warisan budaya Indonesia harus mendapatkan dukungan. Melalui program pembinaan ini, perusahaan ingin memastikan keahlian penenun tidak hanya terjaga dan berkesinambungan, tetapi juga mampu bersaing di pasar modern.

"Inisiatif ini diharapkan memperkuat posisi tenun Sumba sebagai simbol budaya yang lestari sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi para pengrajin lokal,” ujar Hera.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Program Perempuan Berdaya...
Program Perempuan Berdaya Sandiaga Uno, Peserta Raup Pesanan Jutaan Rupiah
Perempuan Dikejar dan...
Perempuan Dikejar dan Diduga Dianiaya saat Akan Bersaksi di Persidangan
Ratusan Buket Bunga...
Ratusan Buket Bunga Penuhi Stasiun Bekasi Timur Jadi Simbol Duka Kolektif
50 Perempuan Tegal Dapat...
50 Perempuan Tegal Dapat Bantuan Modal Usaha dari Sandiaga Uno
Basarnas Pastikan Semua...
Basarnas Pastikan Semua Korban Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Perempuan
Komisioner KPI Tegaskan...
Komisioner KPI Tegaskan Media Penyiaran Wujudkan Keadilan Bagi Perempuan
5 Tradisi Unik di Dunia,...
5 Tradisi Unik di Dunia, Salah Satunya Melempar Bayi di India
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
Membangun Ekosistem...
Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel dan Lingkungan
Rekomendasi
Davina Karamoy Dicecar...
Davina Karamoy Dicecar 30 Pertanyaan Terkait Kasus Hanania Travel
Daya Tarik Menarik Thailand:...
Daya Tarik Menarik Thailand: Eksplorasi Kota Bangkok dan Keindahan Pesisir Pattaya
Sidang Tuntutan Dalang...
Sidang Tuntutan Dalang Pembunuhan Kacab Bank Ditunda
Berita Terkini
Pengadilan Eksekusi...
Pengadilan Eksekusi Kawasan Hotel Sultan, Aset Dipindahkan ke Gudang di Cikarang
Polda Metro Gandeng...
Polda Metro Gandeng Kemenhaj Cari Solusi bagi Korban Dugaan Penipuan Hanania Travel
KPU Jakarta Timur Dorong...
KPU Jakarta Timur Dorong Parpol Memperbarui Data
Gelombang Demonstrasi...
Gelombang Demonstrasi Berlanjut di Medan Merdeka Selatan, Mahasiswa Sampaikan Kritik Kebijakan Pemerintah
Konsep 8B Jadi Usulan...
Konsep 8B Jadi Usulan Fahira Idris untuk Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Berkeadilan
Korban Tewas Gempa Magnitudo...
Korban Tewas Gempa Magnitudo 6,7 di Sulteng Bertambah Jadi 3 Orang
Infografis
Mengenal Child Grooming:...
Mengenal Child Grooming: Bahaya Manipulasi Psikologis yang Dialami Aurelie Moeremans
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved