Pimpin Misi Dagang Perdana, Khofifah Sukses Integrasikan Pasar Jatim-Jateng Lebih dari Rp3,152 Triliun
Selasa, 03 Februari 2026 - 08:03 WIB
loading...
A
A
A
Khofifah menambahkan bahwa penguatan perdagangan antarwilayah merupakan bagian dari strategi besar Jawa Timur dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Pada Triwulan III-2025, perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,22 persen (y-on-y), lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 5,04 persen.
Dengan nilai PDRB ADHB mencapai Rp 867,39 triliun, Jawa Timur berkontribusi 14,54 persen terhadap PDB nasional dan 25,65 persen terhadap PDRB Pulau Jawa.
Struktur perekonomian Jawa Timur ditopang oleh sektor industri pengolahan sebesar 31,16 persen, sektor perdagangan 18,31 persen, serta sektor pertanian 11,98 persen, sementara sektor lainnya menyumbang 38,55 persen.
Berdasarkan data Perdagangan Antarwilayah Indonesia, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan antarwilayah terbesar nasional sebesar Rp 209 triliun. Hingga Triwulan III-2025, total ekspor Jawa Timur mencapai Rp 1.234,16 triliun dan impor Rp 1.055,42 triliun, sehingga neraca perdagangan Jawa Timur mencatat surplus Rp 178,74 triliun.
Adapun total perdagangan Jawa Timur–Jawa Tengah tercatat sebesar Rp 47,58 triliun, dengan nilai muat Jawa Timur ke Jawa Tengah sebesar Rp 28,31 triliun dan nilai bongkar Rp 19,26 triliun, sehingga Jawa Timur mencatat surplus perdagangan Rp 9,05 triliun terhadap Jawa Tengah.
Sejak 2019 hingga Januari 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyelenggarakan 49 kali misi dagang domestik di 29 provinsi dengan total nilai komitmen transaksi mencapai Rp 30,52 triliun yang melibatkan 2.410 pelaku usaha Jawa Timur. Selain itu, enam kali misi dagang luar negeri sejak 2022 hingga 2025 membukukan potensi transaksi sebesar Rp 5,896 triliun.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa produk unggulan Jawa Timur memiliki daya saing tinggi. Semangat kolaboratif yang sama kami harapkan terus terbangun melalui kerja sama dengan Jawa Tengah,” pungkas Khofifah.
Sebagai penguatan sinergi dan kolaborasi antarwilayah, misi dagang Jatim–Jateng ini juga ditandai dengan penandatanganan sejumlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) antar-OPD serta organisasi dunia usaha dari kedua provinsi.
Dengan nilai PDRB ADHB mencapai Rp 867,39 triliun, Jawa Timur berkontribusi 14,54 persen terhadap PDB nasional dan 25,65 persen terhadap PDRB Pulau Jawa.
Struktur perekonomian Jawa Timur ditopang oleh sektor industri pengolahan sebesar 31,16 persen, sektor perdagangan 18,31 persen, serta sektor pertanian 11,98 persen, sementara sektor lainnya menyumbang 38,55 persen.
Berdasarkan data Perdagangan Antarwilayah Indonesia, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan antarwilayah terbesar nasional sebesar Rp 209 triliun. Hingga Triwulan III-2025, total ekspor Jawa Timur mencapai Rp 1.234,16 triliun dan impor Rp 1.055,42 triliun, sehingga neraca perdagangan Jawa Timur mencatat surplus Rp 178,74 triliun.
Adapun total perdagangan Jawa Timur–Jawa Tengah tercatat sebesar Rp 47,58 triliun, dengan nilai muat Jawa Timur ke Jawa Tengah sebesar Rp 28,31 triliun dan nilai bongkar Rp 19,26 triliun, sehingga Jawa Timur mencatat surplus perdagangan Rp 9,05 triliun terhadap Jawa Tengah.
Sejak 2019 hingga Januari 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyelenggarakan 49 kali misi dagang domestik di 29 provinsi dengan total nilai komitmen transaksi mencapai Rp 30,52 triliun yang melibatkan 2.410 pelaku usaha Jawa Timur. Selain itu, enam kali misi dagang luar negeri sejak 2022 hingga 2025 membukukan potensi transaksi sebesar Rp 5,896 triliun.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa produk unggulan Jawa Timur memiliki daya saing tinggi. Semangat kolaboratif yang sama kami harapkan terus terbangun melalui kerja sama dengan Jawa Tengah,” pungkas Khofifah.
Sebagai penguatan sinergi dan kolaborasi antarwilayah, misi dagang Jatim–Jateng ini juga ditandai dengan penandatanganan sejumlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) antar-OPD serta organisasi dunia usaha dari kedua provinsi.
(unt)
Lihat Juga :