Stabil dan Terjaga, Inflasi Jakarta Tahun 2025 di Bawah Nasional
Rabu, 07 Januari 2026 - 09:45 WIB
loading...
Inflasi Jakarta pada tahun 2025 terlihat stabil, bahkan inflasi yang terjadi masih di bawah nasional. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Inflasi Jakarta pada tahun 2025 terlihat stabil, bahkan inflasi yang terjadi masih di bawah nasional. Merilis data Badan Pusat Statistik (BPS), DKI Jakarta mencatat inflasi sebesar 0,33% (mtm) pada Desember 2025, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,27% (mtm).
Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,64% (mtm) dan menjadi yang terendah di pulau Jawa. Inflasi Jakarta pada periode ini terutama didorong kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, kelompok Transportasi, serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.
Baca juga: Libur Sekolah, Inflasi Jakarta Tetap Terkendali
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta Iwan Setiawan mengungkapkan inflasi Jakarta sepanjang tahun 2025 tetap terkendali di angka 2,63 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional mencapai 2,92 persen (yoy), serta tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy).
“Tekanan inflasi bersumber dari kenaikan harga daging ayam ras dan cabai rawit seiring meningkatnya permintaan menjelang HBKN Nataru, kenaikan harga live bird, serta terbatasnya pasokan cabai rawit dari daerah sentra akibat tingginya curah hujan,” ujar Iwan, Selasa (6/1/2026).
Di sisi lain, tekanan inflasi kelompok ini tertahan oleh penurunan harga cabai merah seiring meningkatnya pasokan dari sejumlah daerah sentra yang memasuki musim panen. Sementara itu, komoditas ikan mas dan susu cair kemasan juga mencatat penurunan harga namun dengan andil yang sangat kecil.
Kelompok Transportasi turut mencatat inflasi sebesar 0,65 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,29 persen (mtm). Kenaikan tersebut dipengaruhi penyesuaian BBM nonsubsidi per 1 Desember 2025, serta meningkatnya penggunaan angkutan antarkota selama periode HBKN Nataru.
Sementara itu, emas perhiasan masih menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Jakarta dengan angka sebesar 1,59 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,73 persen (mtm).
“Pergerakan harga emas perhiasan ini sejalan dengan perkembangan harga global yang bertahan pada level tinggi, meskipun dengan laju kenaikan yang lebih moderat. Kondisi ini mendorong kelompok Perawataan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi sebesar 0,49 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,17 persen (mtm),” ungkapnya.
Terkendalinya inflasi Jakarta tidak terlepas dari sinergi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jakarta, khususnya menjelang periode HBKN Nataru.
Pada awal Desember 2025, telah diselenggarakan High Level Meeting (HLM) TPID yang dipimpin Gubernur DKI Jakarta untuk persiapan menjelang Nataru. Melalui forum tersebut, TPID berkomitmen memperkuat pengamanan pasokan, percepatan distribusi, pemantauan harga, serta intensifikasi sidak pasar.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan penyelenggaraan berbagai program strategis, antara lain Program Pangan Bersubsidi dan berbagai Program Pangan Murah.
Pada periode ini, Perumda Pasar Jaya menyelenggarakan Pangan Murah dengan menghadirkan cabai asal Aceh serta diselenggarakan kegiatan Aksi Cabai Harga Petani yang dilakukan TPID Jakarta bersama Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan sebagai upaya stabilisasi harga cabai.
“Selain itu, Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta melakukan kunjungan ke Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Senen, serta TPID bersama Dinas KPKP melaksanakan monitoring pasar tradisional dan ritel, termasuk pengawasan keamanan pangan,” ucapnya.
Ke depan, sinergi strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan.
Upaya tersebut juga didukung pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai langkah nyata pengendalian harga pangan. Dengan sinergi tersebut, capaian inflasi Jakarta yang terkendali pada tahun 2025 diharapkan dapat terus dipertahankan pada 2026.
Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,64% (mtm) dan menjadi yang terendah di pulau Jawa. Inflasi Jakarta pada periode ini terutama didorong kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, kelompok Transportasi, serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.
Baca juga: Libur Sekolah, Inflasi Jakarta Tetap Terkendali
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta Iwan Setiawan mengungkapkan inflasi Jakarta sepanjang tahun 2025 tetap terkendali di angka 2,63 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional mencapai 2,92 persen (yoy), serta tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy).
“Tekanan inflasi bersumber dari kenaikan harga daging ayam ras dan cabai rawit seiring meningkatnya permintaan menjelang HBKN Nataru, kenaikan harga live bird, serta terbatasnya pasokan cabai rawit dari daerah sentra akibat tingginya curah hujan,” ujar Iwan, Selasa (6/1/2026).
Di sisi lain, tekanan inflasi kelompok ini tertahan oleh penurunan harga cabai merah seiring meningkatnya pasokan dari sejumlah daerah sentra yang memasuki musim panen. Sementara itu, komoditas ikan mas dan susu cair kemasan juga mencatat penurunan harga namun dengan andil yang sangat kecil.
Kelompok Transportasi turut mencatat inflasi sebesar 0,65 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,29 persen (mtm). Kenaikan tersebut dipengaruhi penyesuaian BBM nonsubsidi per 1 Desember 2025, serta meningkatnya penggunaan angkutan antarkota selama periode HBKN Nataru.
Sementara itu, emas perhiasan masih menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Jakarta dengan angka sebesar 1,59 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,73 persen (mtm).
“Pergerakan harga emas perhiasan ini sejalan dengan perkembangan harga global yang bertahan pada level tinggi, meskipun dengan laju kenaikan yang lebih moderat. Kondisi ini mendorong kelompok Perawataan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi sebesar 0,49 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,17 persen (mtm),” ungkapnya.
Terkendalinya inflasi Jakarta tidak terlepas dari sinergi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jakarta, khususnya menjelang periode HBKN Nataru.
Pada awal Desember 2025, telah diselenggarakan High Level Meeting (HLM) TPID yang dipimpin Gubernur DKI Jakarta untuk persiapan menjelang Nataru. Melalui forum tersebut, TPID berkomitmen memperkuat pengamanan pasokan, percepatan distribusi, pemantauan harga, serta intensifikasi sidak pasar.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan penyelenggaraan berbagai program strategis, antara lain Program Pangan Bersubsidi dan berbagai Program Pangan Murah.
Pada periode ini, Perumda Pasar Jaya menyelenggarakan Pangan Murah dengan menghadirkan cabai asal Aceh serta diselenggarakan kegiatan Aksi Cabai Harga Petani yang dilakukan TPID Jakarta bersama Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan sebagai upaya stabilisasi harga cabai.
“Selain itu, Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta melakukan kunjungan ke Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Senen, serta TPID bersama Dinas KPKP melaksanakan monitoring pasar tradisional dan ritel, termasuk pengawasan keamanan pangan,” ucapnya.
Ke depan, sinergi strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan.
Upaya tersebut juga didukung pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai langkah nyata pengendalian harga pangan. Dengan sinergi tersebut, capaian inflasi Jakarta yang terkendali pada tahun 2025 diharapkan dapat terus dipertahankan pada 2026.
(jon)
Lihat Juga :