Apkarindo Gelar Rembug Petani Karet Sumsel, Ini Hasilnya
Jum'at, 19 Desember 2025 - 12:13 WIB
loading...
Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) menggelar Rembug Petani Karet Sumatera Selatan (Sumsel). Foto/Istimewa
A
A
A
BANYUASIN - Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) menggelar Rembug Petani Karet Sumatera Selatan (Sumsel) di Pusat Penelitian Karet Sembawa, Jalan Raya Palembang - Pangkalan Balai Km. 29, Sembawa, Banyuasin, Rabu (18/12/2025). Petani karet dari berbagai kabupaten dan kota penghasil karet di Sumatera Selatan hadir dalam kegiatan ini.
Dalam forum tersebut, Apkarindo bersama perwakilan petani menyampaikan pernyataan sikap bersama terkait kondisi kritis perkebunan karet rakyat dan masa depan komoditas karet nasional. Petani menegaskan bahwa karet bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan sumber penghidupan jutaan keluarga desa, penjaga keseimbangan ekologi, serta bagian penting dari sejarah devisa Indonesia.
Kendati demikian, kondisi perkebunan karet rakyat saat ini dinilai semakin mengkhawatirkan. Banyak kebun karet rakyat telah menua, produksi terus menurun, harga belum berpihak kepada petani, dan dukungan kebijakan negara masih sangat terbatas.
Baca juga: Apkarindo Komitmen Bersama Mentan Majukan Lagi Karet Nasional
Dalam sambutannya, Ketua DPW Apkarindo Sumatera Selatan Supartijo menegaskan bahwa tanpa langkah cepat dan strategis dari pemerintah, karet rakyat terancam kehilangan masa depan. “Jika negara terus menunda keberpihakan, kita berisiko kehilangan bukan hanya karet sebagai komoditas strategis, tetapi juga petani karet itu sendiri,” ujarnya.
Melalui Rembug Petani Karet Sumatera Selatan, Apkarindo dan petani menyampaikan lima permintaan kepada pemerintah.
Pertama, peremajaan kebun karet rakyat harus menjadi prioritas nasional. Program peremajaan tidak boleh dilakukan secara sepihak dan memiskinkan petani, melainkan harus disertai pola tanaman sela berbasis komoditas dan kearifan lokal agar petani tetap memiliki penghasilan selama masa belum menghasilkan.
Kedua, petani meyakini harga karet global akan terus menguat, dengan puncak penguatan diperkirakan terjadi pada 2028. Negara diminta tidak membiarkan petani karet tumbang sebelum momentum kebangkitan harga tersebut tiba.
Ketiga, petani menegaskan bahwa kebun karet rakyat merupakan penjaga ekologi. Tanaman karet berperan penting dalam penyerapan karbon dan menjaga keseimbangan lingkungan, namun hingga kini kontribusi ekologis tersebut belum mendapat pengakuan dan insentif yang adil dibandingkan sektor lain.
Keempat, petani mendesak agar hilirisasi karet segera dimulai dari desa dan kawasan produksi, sehingga petani tidak terus diposisikan sebagai penjual bahan mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global.
Kelima, pemerintah diminta segera menghitung, mengakui, dan mengelola potensi perdagangan karbon dari kebun karet rakyat, agar jasa lingkungan yang dihasilkan petani karet tidak terus diabaikan.
Petani karet Prabumulih Asmudin mengungkapkan kondisi lapangan yang kian memprihatinkan. Menurutnya, produksi karet rakyat di Sumatera Selatan saat ini turun hampir 50 persen, bahkan sejumlah pabrik mulai mengalami kekurangan bahan baku.
“Petani hidup dari karet setetes demi setetes, tapi perhatian pemerintah masih sangat minim. Akibatnya, banyak petani terpaksa meninggalkan kebun atau beralih profesi,” kata Asmudin.
Sebagai pengelola Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB), ia juga merasakan langsung dampak penurunan produksi. “Dulu kami bisa melelang hingga 200 ton per bulan, sekarang tinggal sekitar 60 ton. Ini sangat memukul pendapatan petani,” ujarnya.
Melalui Rembug Petani Karet Sumatera Selatan, Apkarindo berharap pemerintah pusat dan daerah benar-benar hadir melalui bantuan bibit karet unggul, pupuk bersubsidi, pendampingan berkelanjutan, serta kebijakan yang melindungi petani karet. “Petani karet ingin kembali jaya, bukan sekadar bertahan hidup,” tegasnya.
Rembug ini ditutup dengan seruan persatuan petani untuk menjaga karet sebagai penopang desa, ekonomi daerah, dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam forum tersebut, Apkarindo bersama perwakilan petani menyampaikan pernyataan sikap bersama terkait kondisi kritis perkebunan karet rakyat dan masa depan komoditas karet nasional. Petani menegaskan bahwa karet bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan sumber penghidupan jutaan keluarga desa, penjaga keseimbangan ekologi, serta bagian penting dari sejarah devisa Indonesia.
Kendati demikian, kondisi perkebunan karet rakyat saat ini dinilai semakin mengkhawatirkan. Banyak kebun karet rakyat telah menua, produksi terus menurun, harga belum berpihak kepada petani, dan dukungan kebijakan negara masih sangat terbatas.
Baca juga: Apkarindo Komitmen Bersama Mentan Majukan Lagi Karet Nasional
Dalam sambutannya, Ketua DPW Apkarindo Sumatera Selatan Supartijo menegaskan bahwa tanpa langkah cepat dan strategis dari pemerintah, karet rakyat terancam kehilangan masa depan. “Jika negara terus menunda keberpihakan, kita berisiko kehilangan bukan hanya karet sebagai komoditas strategis, tetapi juga petani karet itu sendiri,” ujarnya.
Melalui Rembug Petani Karet Sumatera Selatan, Apkarindo dan petani menyampaikan lima permintaan kepada pemerintah.
Pertama, peremajaan kebun karet rakyat harus menjadi prioritas nasional. Program peremajaan tidak boleh dilakukan secara sepihak dan memiskinkan petani, melainkan harus disertai pola tanaman sela berbasis komoditas dan kearifan lokal agar petani tetap memiliki penghasilan selama masa belum menghasilkan.
Kedua, petani meyakini harga karet global akan terus menguat, dengan puncak penguatan diperkirakan terjadi pada 2028. Negara diminta tidak membiarkan petani karet tumbang sebelum momentum kebangkitan harga tersebut tiba.
Ketiga, petani menegaskan bahwa kebun karet rakyat merupakan penjaga ekologi. Tanaman karet berperan penting dalam penyerapan karbon dan menjaga keseimbangan lingkungan, namun hingga kini kontribusi ekologis tersebut belum mendapat pengakuan dan insentif yang adil dibandingkan sektor lain.
Keempat, petani mendesak agar hilirisasi karet segera dimulai dari desa dan kawasan produksi, sehingga petani tidak terus diposisikan sebagai penjual bahan mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global.
Kelima, pemerintah diminta segera menghitung, mengakui, dan mengelola potensi perdagangan karbon dari kebun karet rakyat, agar jasa lingkungan yang dihasilkan petani karet tidak terus diabaikan.
Petani karet Prabumulih Asmudin mengungkapkan kondisi lapangan yang kian memprihatinkan. Menurutnya, produksi karet rakyat di Sumatera Selatan saat ini turun hampir 50 persen, bahkan sejumlah pabrik mulai mengalami kekurangan bahan baku.
“Petani hidup dari karet setetes demi setetes, tapi perhatian pemerintah masih sangat minim. Akibatnya, banyak petani terpaksa meninggalkan kebun atau beralih profesi,” kata Asmudin.
Sebagai pengelola Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB), ia juga merasakan langsung dampak penurunan produksi. “Dulu kami bisa melelang hingga 200 ton per bulan, sekarang tinggal sekitar 60 ton. Ini sangat memukul pendapatan petani,” ujarnya.
Melalui Rembug Petani Karet Sumatera Selatan, Apkarindo berharap pemerintah pusat dan daerah benar-benar hadir melalui bantuan bibit karet unggul, pupuk bersubsidi, pendampingan berkelanjutan, serta kebijakan yang melindungi petani karet. “Petani karet ingin kembali jaya, bukan sekadar bertahan hidup,” tegasnya.
Rembug ini ditutup dengan seruan persatuan petani untuk menjaga karet sebagai penopang desa, ekonomi daerah, dan keberlanjutan lingkungan.
(rca)
Lihat Juga :