Rumah Belajar Melang Wujudkan Pemerataan Pendidikan di NTT
Senin, 15 Desember 2025 - 19:02 WIB
loading...
Anak-anak di perbukitan Alor, NTT tetap datang setiap akhir pekan ke Rumah Belajar Melang meski akses internet terbatas dan fasilitas pendidikan belum lengkap. Foto/Ist
A
A
A
ALOR - Anak-anak di perbukitan Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap datang setiap akhir pekan ke rumah sederhana bernama Rumah Belajar Melang meski akses internet terbatas dan fasilitas pendidikan belum lengkap. Rumah ini menjadi tempat anak-anak belajar, membaca, dan berbagi mimpi.
Rumah Belajar Melang didirikan Elvie Padafani bersama tiga relawan pengajar pada 2021. Setiap Sabtu dan Minggu, Rumah Belajar Melang terbuka bagi anak-anak di sekitar. Mereka belajar membaca, menulis, bahasa Indonesia dan Inggris dasar, hingga membuat kerajinan tangan yang dijual ke warga sekitar.
Baca juga: Program Rumah Belajar Dinilai Berhasil, JICT Terima Penghargaan dari Gubernur DKI
Dari ruang kecil itu, lahir semangat kebersamaan, anak-anak SMP dan SMA mengajari adik-adiknya yang masih SD, sementara Elvie mendampingi mereka dengan setulus hati tanpa memperoleh honor sepeser pun.
“Rumah Belajar Melang kami dirikan bukan karena kami punya banyak uang, tapi agar anak-anak punya tempat berkegiatan positif selagi akses internet di sini terbatas,” ujar Elvie, penggagas Rumah Belajar Melang, Senin (15/12/2025).
Kisah Elvie menggerakkan konten kreator muda asal Temanggung, Jawa Tengah Alwi Johan Yogatama untuk melakukan aksi nebeng dari Jawa Tengah menuju Alor. Perjalanan selama empat bulan ini dilakoni Alwi bukan karena kehabisan uang, melainkan untuk mendapatkan makna sembari menggalang dana untuk merenovasi Rumah Belajar Melang.
“Ini adalah institusi pendidikan bagi anak-anak Alor untuk belajar membaca dan bermimpi. Meski semangat mereka menggebu, tapi akses ke lokasi jauh, fasilitas masih terbatas, dan koleksi buku belum banyak,” ungkap Alwi.
Baca juga: Pelindo Dirikan Rumah Belajar untuk Anak Rentan Putus Sekolah di Jakarta Utara
Selama perjalanannya, Alwi menyaksikan langsung kesenjangan pembangunan. Sulitnya air bersih, terbatasnya transportasi, dan anak-anak yang berjalan kaki menyeberangi sungai demi sekolah. Dari situlah Alwi memahami makna sejati perjalanan bahwa langkah kecil, bila dijalani bersama, dapat menggerakkan perubahan besar.
“Anak sekolah di sini harus berjalan selama satu jam untuk ke sekolah, lalu bekerja mengumpulkan kayu bakar setelahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ungkapnya.
Terinspirasi oleh semangat itu, Polygon Bikes turut ambil bagian melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan menyalurkan lima unit sepeda bagi Rumah Belajar Melang, satu di antaranya untuk Elvie. Dukungan ini diharapkan mempermudah mobilitas Elvie serta membantu anak-anak yang berjalan jauh menuju sekolah atau rumah belajar.
“Bagi kami pendidikan anak adalah fondasi dasar dari kemajuan bangsa. Sayangnya, tidak semua anak-anak di Indonesia mendapatkan kesempatan emas itu. Masih banyak dari mereka yang kesulitan berangkat ke sekolah, meskipun begitu mereka tetap semangat. Maka dari itu, dengan membangun mobilitas yang baik, harapannya dapat membangun masa depan anak-anak yang baik juga,” ungkap Brand Marketing Polygon Bikes Alda Miranda.
Dari Alwi, Polygon turut memaknai arti perjalanan bahwa yang terpenting bukanlah kecepatan melaju melainkan seberapa besar dampak yang kita bagikan di setiap kilometer kayuhan.
“Dukungan ini untuk anak-anak Alor mampu bermimpi setinggi-tinggi mungkin, karena ketika pun kita terjatuh, kita akan jatuh di tengah taburan bintang-bintang. Kami turut menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada kak Alwi, yang sudah berbesar hati menjangkau anak-anak di Alor dengan program Nebeng-nya,” tutup Alda.
Aksi CSR ini adalah satu dari banyak aksi berkelanjutan Polygon mendukung semangat anak bangsa menaklukkan batas. Karena setiap langkah kecil kita adalah perjalanan besar bagi bangsa, Indonesia Bisa bersama Polygon.
Selain mendukung Rumah Belajar Melang, Polygon turut menyumbangkan 7 unit untuk satuan tugas (satgas) yang menangani banjir dan tanah longsor di Sumatera. Melalui organisasi non-profit WWF dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sepeda tersebut disalurkan untuk mempercepat pendistribusian kebutuhan pokok, mengevakuasi korban, mempermudah pemantauan titik banjir, serta menjangkau area terdampak yang sulit dilewati kendaraan bermesin.
Rumah Belajar Melang didirikan Elvie Padafani bersama tiga relawan pengajar pada 2021. Setiap Sabtu dan Minggu, Rumah Belajar Melang terbuka bagi anak-anak di sekitar. Mereka belajar membaca, menulis, bahasa Indonesia dan Inggris dasar, hingga membuat kerajinan tangan yang dijual ke warga sekitar.
Baca juga: Program Rumah Belajar Dinilai Berhasil, JICT Terima Penghargaan dari Gubernur DKI
Dari ruang kecil itu, lahir semangat kebersamaan, anak-anak SMP dan SMA mengajari adik-adiknya yang masih SD, sementara Elvie mendampingi mereka dengan setulus hati tanpa memperoleh honor sepeser pun.
“Rumah Belajar Melang kami dirikan bukan karena kami punya banyak uang, tapi agar anak-anak punya tempat berkegiatan positif selagi akses internet di sini terbatas,” ujar Elvie, penggagas Rumah Belajar Melang, Senin (15/12/2025).
Kisah Elvie menggerakkan konten kreator muda asal Temanggung, Jawa Tengah Alwi Johan Yogatama untuk melakukan aksi nebeng dari Jawa Tengah menuju Alor. Perjalanan selama empat bulan ini dilakoni Alwi bukan karena kehabisan uang, melainkan untuk mendapatkan makna sembari menggalang dana untuk merenovasi Rumah Belajar Melang.
“Ini adalah institusi pendidikan bagi anak-anak Alor untuk belajar membaca dan bermimpi. Meski semangat mereka menggebu, tapi akses ke lokasi jauh, fasilitas masih terbatas, dan koleksi buku belum banyak,” ungkap Alwi.
Baca juga: Pelindo Dirikan Rumah Belajar untuk Anak Rentan Putus Sekolah di Jakarta Utara
Selama perjalanannya, Alwi menyaksikan langsung kesenjangan pembangunan. Sulitnya air bersih, terbatasnya transportasi, dan anak-anak yang berjalan kaki menyeberangi sungai demi sekolah. Dari situlah Alwi memahami makna sejati perjalanan bahwa langkah kecil, bila dijalani bersama, dapat menggerakkan perubahan besar.
“Anak sekolah di sini harus berjalan selama satu jam untuk ke sekolah, lalu bekerja mengumpulkan kayu bakar setelahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ungkapnya.
Terinspirasi oleh semangat itu, Polygon Bikes turut ambil bagian melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan menyalurkan lima unit sepeda bagi Rumah Belajar Melang, satu di antaranya untuk Elvie. Dukungan ini diharapkan mempermudah mobilitas Elvie serta membantu anak-anak yang berjalan jauh menuju sekolah atau rumah belajar.
“Bagi kami pendidikan anak adalah fondasi dasar dari kemajuan bangsa. Sayangnya, tidak semua anak-anak di Indonesia mendapatkan kesempatan emas itu. Masih banyak dari mereka yang kesulitan berangkat ke sekolah, meskipun begitu mereka tetap semangat. Maka dari itu, dengan membangun mobilitas yang baik, harapannya dapat membangun masa depan anak-anak yang baik juga,” ungkap Brand Marketing Polygon Bikes Alda Miranda.
Dari Alwi, Polygon turut memaknai arti perjalanan bahwa yang terpenting bukanlah kecepatan melaju melainkan seberapa besar dampak yang kita bagikan di setiap kilometer kayuhan.
“Dukungan ini untuk anak-anak Alor mampu bermimpi setinggi-tinggi mungkin, karena ketika pun kita terjatuh, kita akan jatuh di tengah taburan bintang-bintang. Kami turut menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada kak Alwi, yang sudah berbesar hati menjangkau anak-anak di Alor dengan program Nebeng-nya,” tutup Alda.
Aksi CSR ini adalah satu dari banyak aksi berkelanjutan Polygon mendukung semangat anak bangsa menaklukkan batas. Karena setiap langkah kecil kita adalah perjalanan besar bagi bangsa, Indonesia Bisa bersama Polygon.
Selain mendukung Rumah Belajar Melang, Polygon turut menyumbangkan 7 unit untuk satuan tugas (satgas) yang menangani banjir dan tanah longsor di Sumatera. Melalui organisasi non-profit WWF dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sepeda tersebut disalurkan untuk mempercepat pendistribusian kebutuhan pokok, mengevakuasi korban, mempermudah pemantauan titik banjir, serta menjangkau area terdampak yang sulit dilewati kendaraan bermesin.
(shf)
Lihat Juga :