TNI dan Pemda Bangun Jalan dan Jembatan di Pelosok Kolaka Timur
Senin, 15 Desember 2025 - 12:51 WIB
loading...
TMMD ke-126 berhasil menyelesaikan sejumlah pembangunan infrastruktur, mulai dari perbaikan jalan dan jembatan hingga pembuatan sumur bor di Kolaka Timur. Foto/Ist
A
A
A
KOLAKA TIMUR - Kolaborasi TNI dan Pemkab Kolata Timur melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) berhasil menyelesaikan sejumlah pembangunan infrastruktur, mulai dari perbaikan jalan dan jembatan hingga pembuatan sumur bor. Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Program TMMD ke-126 Tahun 2025 di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dilaksanakan selama satu bulan, sejak 8 Oktober hingga 6 November di Desa Alaha, Desa Tonggauna, dan Desa Purau, Kecamatan Ueesi.
Baca juga: Prabowo Pastikan Penanganan Bencana Sumatera Dipercepat, TNI-Polri Jadi Garda Terdepan
Komandan Kodim 1412/Kolaka, Letkol Infanteri Choky Gunawan, menjelaskan pihaknya bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat berhasil menyelesaikan pengaspalan jalan sepanjang 10,5 kilometer.
“Kemudian di sepanjang ruas jalan tersebut kami juga membangun 12 unit deker untuk mengatasi kerusakan jalan yang cukup parah di wilayah itu. Dengan adanya deker, aliran air dari lereng kanan dan kiri dapat dialirkan ke samping, sehingga usia pakai jalan menjadi lebih panjang dibandingkan sebelumnya,” ujar Choky dalam Kartika Podcast TNI AD, dikutip Senin (15/12/2025).
Choky mengungkapkan, penetapan tiga desa di Kecamatan Ueesa sebagai lokasi TMMD berawal dari kunjungannya bersama Bupati Kolaka Timur Yosep Sahaka saat meninjau calon lokasi Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yon TP) di Desa Tonggauna.
“Desa Tonggauna berada di ujung kecamatan dan merupakan daerah yang sangat terpencil. Saat kami meninjau lokasi, kami harus melewati lebih dari 100 kilometer jalan dengan kondisi rusak. Ketika musim kemarau sangat berdebu, sementara saat hujan berubah menjadi berlumpur dan sulit dilalui kendaraan. Bahkan ada jembatan yang putus sehingga harus menyeberang menggunakan pincara atau rakit,” jelasnya.
Kondisi tersebut yang melatarbelakangi TMMD diarahkan ke wilayah tersebut, dengan harapan program ini dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus mempercepat pembangunan infrastruktur.
Choky menambahkan, buruknya infrastruktur di kawasan tersebut berdampak langsung pada tingginya biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok. Ia mencontohkan harga beras yang di wilayah perkotaan sekitar Rp600 ribu per 50 kilogram, namun di desa-desa terpencil ini bisa mencapai Rp1 juta.
“Biaya transportasi dari desa ke kota sekali jalan bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Jika pulang pergi, dalam sehari bisa menghabiskan sekitar Rp300 ribu. Inilah pentingnya pembangunan jalan dan jembatan menuju tiga desa di wilayah ujung tersebut,” ujar Choky.
Baca juga: Akses ke Lokasi Bencana Sumatera Terputus, TNI Bangun 6 Jembatan Bailey
Selain pengaspalan jalan, TMMD ke-126 juga merehabilitasi jembatan penghubung Desa Alaha dan Desa Tonggauna yang sebelumnya hampir roboh. Kini, jembatan tersebut sudah dapat dilalui kembali secara normal. Choky mengaku terharu melihat partisipasi masyarakat dalam proses perbaikan jembatan tersebut.
“Hampir seluruh masyarakat Desa Alaha, Tonggauna, dan Purau datang membantu tanpa diminta. Mereka bersama prajurit TNI bahkan menginap di sekitar jembatan. Kayu-kayu besar untuk landasan jembatan diangkat bersama-sama dari hutan. Ini merupakan wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat,” tutur Choky.
Tak hanya pembangunan fisik, TMMD di Kolaka Timur juga melaksanakan berbagai kegiatan nonfisik, seperti penyuluhan stunting, kesehatan, bahaya narkoba, hingga pembinaan wawasan kebangsaan.
“Kami membangun lima sumur bor untuk kebutuhan air bersih, merehabilitasi dua unit rumah tidak layak huni (RTLH), serta memberikan penyuluhan-penyuluhan,” jelasnya.
Bupati Kolaka Timur Yosep Sahaka menyampaikan apresiasi atas keberhasilan program TMMD ke-126 dan berharap program tersebut dapat kembali dilaksanakan di wilayahnya pada tahun mendatang.
“Sekarang masyarakat di sana sudah tersenyum ketika melintas di wilayah tersebut. Daerah yang sebelumnya sering tergenang air kini sudah tidak lagi. Jembatan menuju kawasan transmigrasi yang hampir roboh juga kini sudah bisa dilalui dengan normal,” ujar Yosep.
Letkol Inf. Choky Gunawan menegaskan bahwa pembangunan jembatan gantung di sejumlah wilayah terpencil Kabupaten Kolaka Timur menjadi prioritas lanjutan setelah keberhasilan pelaksanaan TMMD ke-126. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses anak-anak menuju sekolah melalui pembangunan jembatan gantung di wilayah-wilayah tertentu di daerah-daerah terpencil.
“Kemudian baru-baru ini juga ada program jembatan gantung untuk anak sekolah di Kolaka Timur. Ada beberapa sungai yang perlu kita perhatikan untuk buat jembatan gantung. Jadi, kita berpedoman kepada tugas pokok dulu, dan kita kolaborasi sinergi untuk bisa segera action dan hasilnya berdampak ke masyarakat langsung,” ujar Choky.
Choky menjelaskan bahwa TMMD ke-126 yang berlangsung selama satu bulan telah menyelesaikan sejumlah pekerjaan besar, termasuk pengerasan jalan 10,5 kilometer, pembangunan 12 deker, rehab jembatan, lima sumur bor, hingga perbaikan rumah tidak layak huni.
Seluruh capaian itu membawa Kodim 1412 Kolaka meraih tiga penghargaan, yakni Dansatgas Terbaik, Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) Terbaik, dan Wartawan Elektronik Terbaik.
Namun, ia menegaskan bahwa masih banyak kebutuhan infrastruktur yang harus dikejar. Salah satu yang paling mendesak adalah akses aman bagi pelajar di pedalaman Kolaka Timur. Dia menilai jembatan gantung menjadi solusi ideal untuk wilayah dengan kontur sungai lebar, curam, dan rawan banjir.
“Jadi, kami tambahkan kondisi di sana karena memang daerah terpencil, jauh dari kota 100 km lebih, kemudian kontur medannya naik turun juga, jalannya rusak, sehingga harga di desa-desa tersebut tinggi,” ungkapnya.
Choky turut menjelaskan bahwa kondisi jalan rusak membuat biaya hidup masyarakat sangat tinggi. Karena itu, pembangunan jembatan gantung dan peningkatan akses desa dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
“Contoh beras di kota Kolaka Timur mungkin Rp 600 ribu, di sana sudah sampai Rp 1 juta. Dan semua bahan makanan juga tinggi, sehingga mereka bertanam untuk makan sendiri. Ongkos mereka untuk naik turun dari desa tersebut ke kota, itu satu kali jalan Rp 100 ribu sampai Rp150 ribu,” katanya.
Ke depannya, dia berharap ada dari kementerian dan pihak lain untuk ikut membantu perbaikan jalan.
Choky juga menceritakan bagaimana masyarakat ikut terlibat penuh selama pembangunan jembatan dan jalan. Keterlibatan masyarakat ini menjadi bukti kuat kemanunggalan TNI dan rakyat dalam membangun desa.
Program TMMD ke-126 Tahun 2025 di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dilaksanakan selama satu bulan, sejak 8 Oktober hingga 6 November di Desa Alaha, Desa Tonggauna, dan Desa Purau, Kecamatan Ueesi.
Baca juga: Prabowo Pastikan Penanganan Bencana Sumatera Dipercepat, TNI-Polri Jadi Garda Terdepan
Komandan Kodim 1412/Kolaka, Letkol Infanteri Choky Gunawan, menjelaskan pihaknya bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat berhasil menyelesaikan pengaspalan jalan sepanjang 10,5 kilometer.
“Kemudian di sepanjang ruas jalan tersebut kami juga membangun 12 unit deker untuk mengatasi kerusakan jalan yang cukup parah di wilayah itu. Dengan adanya deker, aliran air dari lereng kanan dan kiri dapat dialirkan ke samping, sehingga usia pakai jalan menjadi lebih panjang dibandingkan sebelumnya,” ujar Choky dalam Kartika Podcast TNI AD, dikutip Senin (15/12/2025).
Choky mengungkapkan, penetapan tiga desa di Kecamatan Ueesa sebagai lokasi TMMD berawal dari kunjungannya bersama Bupati Kolaka Timur Yosep Sahaka saat meninjau calon lokasi Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yon TP) di Desa Tonggauna.
“Desa Tonggauna berada di ujung kecamatan dan merupakan daerah yang sangat terpencil. Saat kami meninjau lokasi, kami harus melewati lebih dari 100 kilometer jalan dengan kondisi rusak. Ketika musim kemarau sangat berdebu, sementara saat hujan berubah menjadi berlumpur dan sulit dilalui kendaraan. Bahkan ada jembatan yang putus sehingga harus menyeberang menggunakan pincara atau rakit,” jelasnya.
Kondisi tersebut yang melatarbelakangi TMMD diarahkan ke wilayah tersebut, dengan harapan program ini dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus mempercepat pembangunan infrastruktur.
Choky menambahkan, buruknya infrastruktur di kawasan tersebut berdampak langsung pada tingginya biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok. Ia mencontohkan harga beras yang di wilayah perkotaan sekitar Rp600 ribu per 50 kilogram, namun di desa-desa terpencil ini bisa mencapai Rp1 juta.
“Biaya transportasi dari desa ke kota sekali jalan bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Jika pulang pergi, dalam sehari bisa menghabiskan sekitar Rp300 ribu. Inilah pentingnya pembangunan jalan dan jembatan menuju tiga desa di wilayah ujung tersebut,” ujar Choky.
Baca juga: Akses ke Lokasi Bencana Sumatera Terputus, TNI Bangun 6 Jembatan Bailey
Selain pengaspalan jalan, TMMD ke-126 juga merehabilitasi jembatan penghubung Desa Alaha dan Desa Tonggauna yang sebelumnya hampir roboh. Kini, jembatan tersebut sudah dapat dilalui kembali secara normal. Choky mengaku terharu melihat partisipasi masyarakat dalam proses perbaikan jembatan tersebut.
“Hampir seluruh masyarakat Desa Alaha, Tonggauna, dan Purau datang membantu tanpa diminta. Mereka bersama prajurit TNI bahkan menginap di sekitar jembatan. Kayu-kayu besar untuk landasan jembatan diangkat bersama-sama dari hutan. Ini merupakan wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat,” tutur Choky.
Tak hanya pembangunan fisik, TMMD di Kolaka Timur juga melaksanakan berbagai kegiatan nonfisik, seperti penyuluhan stunting, kesehatan, bahaya narkoba, hingga pembinaan wawasan kebangsaan.
“Kami membangun lima sumur bor untuk kebutuhan air bersih, merehabilitasi dua unit rumah tidak layak huni (RTLH), serta memberikan penyuluhan-penyuluhan,” jelasnya.
Bupati Kolaka Timur Yosep Sahaka menyampaikan apresiasi atas keberhasilan program TMMD ke-126 dan berharap program tersebut dapat kembali dilaksanakan di wilayahnya pada tahun mendatang.
“Sekarang masyarakat di sana sudah tersenyum ketika melintas di wilayah tersebut. Daerah yang sebelumnya sering tergenang air kini sudah tidak lagi. Jembatan menuju kawasan transmigrasi yang hampir roboh juga kini sudah bisa dilalui dengan normal,” ujar Yosep.
Pembangunan Jembatan Gantung Jadi Prioritas TNI
Letkol Inf. Choky Gunawan menegaskan bahwa pembangunan jembatan gantung di sejumlah wilayah terpencil Kabupaten Kolaka Timur menjadi prioritas lanjutan setelah keberhasilan pelaksanaan TMMD ke-126. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses anak-anak menuju sekolah melalui pembangunan jembatan gantung di wilayah-wilayah tertentu di daerah-daerah terpencil.
“Kemudian baru-baru ini juga ada program jembatan gantung untuk anak sekolah di Kolaka Timur. Ada beberapa sungai yang perlu kita perhatikan untuk buat jembatan gantung. Jadi, kita berpedoman kepada tugas pokok dulu, dan kita kolaborasi sinergi untuk bisa segera action dan hasilnya berdampak ke masyarakat langsung,” ujar Choky.
Choky menjelaskan bahwa TMMD ke-126 yang berlangsung selama satu bulan telah menyelesaikan sejumlah pekerjaan besar, termasuk pengerasan jalan 10,5 kilometer, pembangunan 12 deker, rehab jembatan, lima sumur bor, hingga perbaikan rumah tidak layak huni.
Seluruh capaian itu membawa Kodim 1412 Kolaka meraih tiga penghargaan, yakni Dansatgas Terbaik, Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) Terbaik, dan Wartawan Elektronik Terbaik.
Namun, ia menegaskan bahwa masih banyak kebutuhan infrastruktur yang harus dikejar. Salah satu yang paling mendesak adalah akses aman bagi pelajar di pedalaman Kolaka Timur. Dia menilai jembatan gantung menjadi solusi ideal untuk wilayah dengan kontur sungai lebar, curam, dan rawan banjir.
“Jadi, kami tambahkan kondisi di sana karena memang daerah terpencil, jauh dari kota 100 km lebih, kemudian kontur medannya naik turun juga, jalannya rusak, sehingga harga di desa-desa tersebut tinggi,” ungkapnya.
Choky turut menjelaskan bahwa kondisi jalan rusak membuat biaya hidup masyarakat sangat tinggi. Karena itu, pembangunan jembatan gantung dan peningkatan akses desa dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
“Contoh beras di kota Kolaka Timur mungkin Rp 600 ribu, di sana sudah sampai Rp 1 juta. Dan semua bahan makanan juga tinggi, sehingga mereka bertanam untuk makan sendiri. Ongkos mereka untuk naik turun dari desa tersebut ke kota, itu satu kali jalan Rp 100 ribu sampai Rp150 ribu,” katanya.
Ke depannya, dia berharap ada dari kementerian dan pihak lain untuk ikut membantu perbaikan jalan.
Choky juga menceritakan bagaimana masyarakat ikut terlibat penuh selama pembangunan jembatan dan jalan. Keterlibatan masyarakat ini menjadi bukti kuat kemanunggalan TNI dan rakyat dalam membangun desa.
(shf)
Lihat Juga :