Yayasan Astri Bakti Insani Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Mental
Minggu, 14 Desember 2025 - 17:20 WIB
loading...
Masyarakat diimbau mengenali tanda-tanda masalah kesehatan mental sejak dini. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental semakin penting di tengah meningkatnya tuntutan hidup modern, tekanan pekerjaan, kebutuhan ekonomi serta pengaruh lingkungan dan interaksi sosial. Namun stigma negatif serta minimnya literasi menyangkut penanganan kesehatan mental masih menjadi hambatan utama bagi banyak orang.
Hal itu dibahas dalam seminar bertema “It’s Okay Not to Be Okay” yang digelar Yayasan Astri Bakti Insani dalam rangka peringatan Ulang Tahun ke-13 Rumah Sakit Izza, di Auditorium Al Izza Preschool, Karawang, Jawa Barat.
Direktur RS Izza Karawang, Dik Adi Nugraha menyebut kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan kesehatan mental merupakan bagian integral dari kualitas hidup seseorang, dan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kondisi mental yang sehat membantu individu berpikir jernih, mengelola emosi, serta menghadapi tantangan hidup secara adaptif.
Baca juga: Bullying Makin Mengerikan, Psikiater IPB Ungkap Gangguan Kesehatan Mental pada Remaja
“Terkait masalah kesehatan mental, kalau bicara data saat ini di Indonesia sendiri sebetulnya ada 1 berbanding 5 orang pernah mengalami masalah mental. Mungkin saat ini yang terlihat di lapangan itu seperti fenomena gunung es. Hanya di atasnya saja yang terlihat. Tetapi di bawah itu masalah sebenarnya luar biasa besar sekali. Maka dari itu kami bersama-sama bergabung, untuk mulai menggaungkan penanganan masalah kesehatan mental,” ujarnya, Minggu (14/12/2025).
Namun, stigma yang muncul dan perasaan tabu sering membuat banyak orang memilih diam dan memendam masalah, sehingga meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi.
Psikolog dari Universitas Padjadjaran Bandung (Unpad) Marissa S. Purba dan Psikiater P. Beta Ayu Natalia memaparkan perspektif profesional mengenai pentingnya mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan mental, menjaga komunikasi yang sehat, serta tidak menunda untuk melibatkan tenaga profesional.
Baca juga: Mengkhawatirkan, Indonesia Darurat Kesehatan Mental dan Kesadaran Digital
Keduanya menekankan penanganan kesehatan mental tidak selalu dimulai dari langkah besar, melainkan dari kesadaran diri, dukungan lingkungan terdekat, dan akses bantuan yang tepat.
“Yang paling penting adalah mendengarkan, mengajak anak beraktivitas, dan menciptakan rasa aman. Melalui pemahaman yang tepat, dukungan lingkungan, dan keberanian untuk mencari bantuan profesional, kesehatan mental diharapkan tidak lagi menjadi isu yang disembunyikan, melainkan bagian penting dari kualitas hidup sehari-hari," ujar Marissa.
Senada, Beta Ayu Natalia menambahkan, kalau dalam konteks jiwa berarti seseorang harus tahu apa kekurangannya dalam menjalani kehidupan. Apakah cara mengatasi stres atau masalah yang dihadapinya sudah baik atau belum.
”Apakah dia masih menyimpan respons trauma dari hal-hal di masa lalu. Kadang orang tidak paham dengan sendirinya. Di sinilah butuh seorang ahli atau profesional. Jadi jangan sampai sudah pada taraf merasa tidak nyaman baru datang ke psikiater atau psikolog,” katanya.
Sedangkan dari perspektif keluarga disampaikan Hindrawati dan Bagus Utomo, caregiver yaitu orang terdekat yang memiliki pengalaman mendampingi anggota keluarga tercintanya saat menghadapi krisis kesehatan mental. Keduanya menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini, menjaga komunikasi yang empatik, serta menciptakan lingkungan keluarga yang suportif sebagai fondasi dalam proses pemulihan jangka panjang.
Kegiatan ini diharapkan masyarakat semakin memahami kesehatan mental bukanlah isu yang tabu, melainkan bagian penting dari kehidupan manusia yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Setiap orang dapat mengalami masa-masa sulit dan kerentanan emosional, namun hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya.
”Keluarga adalah lini pertama, bagaimana membentuk karakter anak dan karakter manusia. Kalau keluarga tidak membentuk dengan karakter yang baik, kemungkinan anak akan mencari pelampiasan yang lain. Kita harus memperbaiki pola hidup, pola pikir sehingga jiwa kita agar tertata dengan baik,” ungkap Ketua Yayasan Astri Bakti Insani, Bagus Jatmiko.
Dukungan dari keluarga, teman, lingkungan kerja, maupun tenaga profesional menjadi hal yang paling berharga dalam proses pemulihan. Dengan membuka ruang diskusi, berbagi pengalaman, dan memberikan edukasi, seminar ini diharapkan bisa menghapus stigma, meningkatkan literasi kesehatan mental, serta mendorong terciptanya budaya peduli dan saling mendukung di tengah masyarakat.
Hal itu dibahas dalam seminar bertema “It’s Okay Not to Be Okay” yang digelar Yayasan Astri Bakti Insani dalam rangka peringatan Ulang Tahun ke-13 Rumah Sakit Izza, di Auditorium Al Izza Preschool, Karawang, Jawa Barat.
Direktur RS Izza Karawang, Dik Adi Nugraha menyebut kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan kesehatan mental merupakan bagian integral dari kualitas hidup seseorang, dan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kondisi mental yang sehat membantu individu berpikir jernih, mengelola emosi, serta menghadapi tantangan hidup secara adaptif.
Baca juga: Bullying Makin Mengerikan, Psikiater IPB Ungkap Gangguan Kesehatan Mental pada Remaja
“Terkait masalah kesehatan mental, kalau bicara data saat ini di Indonesia sendiri sebetulnya ada 1 berbanding 5 orang pernah mengalami masalah mental. Mungkin saat ini yang terlihat di lapangan itu seperti fenomena gunung es. Hanya di atasnya saja yang terlihat. Tetapi di bawah itu masalah sebenarnya luar biasa besar sekali. Maka dari itu kami bersama-sama bergabung, untuk mulai menggaungkan penanganan masalah kesehatan mental,” ujarnya, Minggu (14/12/2025).
Namun, stigma yang muncul dan perasaan tabu sering membuat banyak orang memilih diam dan memendam masalah, sehingga meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi.
Psikolog dari Universitas Padjadjaran Bandung (Unpad) Marissa S. Purba dan Psikiater P. Beta Ayu Natalia memaparkan perspektif profesional mengenai pentingnya mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan mental, menjaga komunikasi yang sehat, serta tidak menunda untuk melibatkan tenaga profesional.
Baca juga: Mengkhawatirkan, Indonesia Darurat Kesehatan Mental dan Kesadaran Digital
Keduanya menekankan penanganan kesehatan mental tidak selalu dimulai dari langkah besar, melainkan dari kesadaran diri, dukungan lingkungan terdekat, dan akses bantuan yang tepat.
“Yang paling penting adalah mendengarkan, mengajak anak beraktivitas, dan menciptakan rasa aman. Melalui pemahaman yang tepat, dukungan lingkungan, dan keberanian untuk mencari bantuan profesional, kesehatan mental diharapkan tidak lagi menjadi isu yang disembunyikan, melainkan bagian penting dari kualitas hidup sehari-hari," ujar Marissa.
Senada, Beta Ayu Natalia menambahkan, kalau dalam konteks jiwa berarti seseorang harus tahu apa kekurangannya dalam menjalani kehidupan. Apakah cara mengatasi stres atau masalah yang dihadapinya sudah baik atau belum.
”Apakah dia masih menyimpan respons trauma dari hal-hal di masa lalu. Kadang orang tidak paham dengan sendirinya. Di sinilah butuh seorang ahli atau profesional. Jadi jangan sampai sudah pada taraf merasa tidak nyaman baru datang ke psikiater atau psikolog,” katanya.
Sedangkan dari perspektif keluarga disampaikan Hindrawati dan Bagus Utomo, caregiver yaitu orang terdekat yang memiliki pengalaman mendampingi anggota keluarga tercintanya saat menghadapi krisis kesehatan mental. Keduanya menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini, menjaga komunikasi yang empatik, serta menciptakan lingkungan keluarga yang suportif sebagai fondasi dalam proses pemulihan jangka panjang.
Kegiatan ini diharapkan masyarakat semakin memahami kesehatan mental bukanlah isu yang tabu, melainkan bagian penting dari kehidupan manusia yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Setiap orang dapat mengalami masa-masa sulit dan kerentanan emosional, namun hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya.
”Keluarga adalah lini pertama, bagaimana membentuk karakter anak dan karakter manusia. Kalau keluarga tidak membentuk dengan karakter yang baik, kemungkinan anak akan mencari pelampiasan yang lain. Kita harus memperbaiki pola hidup, pola pikir sehingga jiwa kita agar tertata dengan baik,” ungkap Ketua Yayasan Astri Bakti Insani, Bagus Jatmiko.
Dukungan dari keluarga, teman, lingkungan kerja, maupun tenaga profesional menjadi hal yang paling berharga dalam proses pemulihan. Dengan membuka ruang diskusi, berbagi pengalaman, dan memberikan edukasi, seminar ini diharapkan bisa menghapus stigma, meningkatkan literasi kesehatan mental, serta mendorong terciptanya budaya peduli dan saling mendukung di tengah masyarakat.
(cip)
Lihat Juga :