Pesan Mantan Dedengkot Tawuran di Jaktim untuk Pelajar: Sampai Kapan Mau Begini Terus?
Kamis, 11 Desember 2025 - 21:03 WIB
loading...
Mantan dedengkot tawuran di Jakarta Timur Rico Juniawan alias Kate berpesan untuk kalangan pelajar yang masih melakukan aksi tawuran. Rico mengajak generasi muda menjauhi aksi anarkis, unjuk rasa brutal, hingga vandalisme. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Mantan dedengkot tawuran di Jakarta Timur Rico Juniawan alias Kate berpesan untuk kalangan pelajar yang masih melakukan aksi tawuran. Rico mengajak generasi muda menjauhi aksi anarkis, unjuk rasa brutal, hingga vandalisme.
Dia menceritakan masa kelamnya yang pernah terlibat aksi tawuran brutal ketika duduk di bangku sekolah tepatnya saat SMK. “Ajakan teman dan pergaulan, ikut penataran, hingga akhirnya terlibat tawuran besar di Jakarta Timur. Momen paling kelam ketika seorang temannya meninggal akibat tawuran,” ujar Rico di Taman Teras, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2025).
Baca juga: Cegah Tawuran Pelajar, Polsek Cilandak Gandeng Kepala Sekolah
Titik balik hidupnya muncul ketika sekolah mengundang seorang motivator. Satu kalimat menghantam kesadarannya yakni sampai kapan mau begini terus?. Dari situlah Rico mulai mundur dari lingkungan tawuran dan memutuskan memperbaiki hidupnya.
Menurut dia, kondisi saat ini justru lebih mengkhawatirkan. Media sosial menjadi pemicu utama provokasi, ajang pembuktian diri, dan glamorisasi kekerasan. “Tawuran itu nggak ada untungnya. Paling mentok ya cuma jadi karyawan kasar. Hidup setelah sekolah jauh lebih besar dari sekadar gengsi di jalanan,” ungkapnya.
Dia menceritakan masa kelamnya yang pernah terlibat aksi tawuran brutal ketika duduk di bangku sekolah tepatnya saat SMK. “Ajakan teman dan pergaulan, ikut penataran, hingga akhirnya terlibat tawuran besar di Jakarta Timur. Momen paling kelam ketika seorang temannya meninggal akibat tawuran,” ujar Rico di Taman Teras, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2025).
Baca juga: Cegah Tawuran Pelajar, Polsek Cilandak Gandeng Kepala Sekolah
Titik balik hidupnya muncul ketika sekolah mengundang seorang motivator. Satu kalimat menghantam kesadarannya yakni sampai kapan mau begini terus?. Dari situlah Rico mulai mundur dari lingkungan tawuran dan memutuskan memperbaiki hidupnya.
Menurut dia, kondisi saat ini justru lebih mengkhawatirkan. Media sosial menjadi pemicu utama provokasi, ajang pembuktian diri, dan glamorisasi kekerasan. “Tawuran itu nggak ada untungnya. Paling mentok ya cuma jadi karyawan kasar. Hidup setelah sekolah jauh lebih besar dari sekadar gengsi di jalanan,” ungkapnya.
Lihat Juga :