Ketum GPA Serukan Empati Nasional Bantu Korban Bencana Sumatera
Selasa, 09 Desember 2025 - 16:22 WIB
loading...
Ketua Umum PP GPA Aminullah Siagian menyampaikan duka mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera. Foto/SindoNews
A
A
A
SUMBAR - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GPA), Aminullah Siagian, menyampaikan duka mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut). Aminullah juga menyerukan empati nasional kepada masyarakat Indonesia.
“Duka Sumatera adalah duka kita semua. Ini ujian kesabaran dari Allah, mari kita terima dengan ikhlas, tetapi jangan berhenti memperbaiki diri. Kita wajib hadir ringankan rakyat yang sedang menderita,” ujar Aminullah, Selasa (9/11/2025).
Menurut Aminullah, musibah ini harus dipandang sebagai ujian kesabaran dari Allah SWT, yang diterima dengan ikhlas namun tetap diiringi usaha memperbaiki diri dan memperbaiki tata kelola lingkungan di Indonesia.
Baca juga: Kementerian LH Setop Kegiatan Perusahaan di DAS Batang Toru, Ada Tambang Emas hingga Kelapa Sawit
“Banjir dan longsor bukan semata kejadian alam, tetapi diperburuk oleh kerusakan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun,” katanya.
Aminullah menyebutkan faktor-faktor seperti deforestasi massif, Ilegal logging, tambang yang merusak kontur tanah, serta lemahnya pengawasan sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah hulu.
Aminullah juga menyoroti dugaan keterlibatan sejumlah korporasi besar yang beroperasi dekat kawasan hutan, termasuk perusahaan yang sebelumnya banyak disorot publik terkait isu lingkungan.
Baca juga: Bupati Aceh Selatan Akhirnya Minta Maaf Usai Kepergok Pergi Umrah di Tengah Bencana
“Kami mencatat sejumlah entitas usaha yang disebut-sebut warga dan pemerhati lingkungan terlibat dalam rusaknya hulu sungai. Pemerintah harus turun menyelidiki dengan tegas dan transparan,” ujarnya.
Aminullah menegaskan evaluasi menyeluruh adalah kewajiban negara, bukan sekadar respons jangka pendek. Sebagai bentuk kehadiran langsung, PP GPA merencanakan kunjungan solidaritas serta penyaluran bantuan ke Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu daerah paling parah terdampak banjir.
Namun, hingga saat ini pihaknya tidak dapat menghubungi pengurus GPA Kabupaten Aceh Tamiang lantaran jaringan komunikasi di wilayah tersebut masih terputus.
“Komunikasi terputus total. Pengurus GPA Tamiang belum bisa dihubungi sejak tadi malam. Kami mohon atensi pemerintah agar jadi prioritas, karena jaringan komunikasi adalah kebutuhan dasar rakyat saat bencana. Banyak warga ingin menghubungi keluarga mereka", ungkapnya.
Aminullah juga memberikan catatan kepada jajaran kementerian agar tidak saling lempar pernyataan yang membuat gaduh, terutama saat rakyat sedang berjuang menyelamatkan keluarga dan harta benda.
“Ini bukan momentum untuk cari pembenaran atau panggung politik. Para menteri jangan saling berdebat di ruang publik. Fokus pada kerja, koordinasi, dan implementasi di lapangan", sebut Amin.
Aminullah mencontohkan langkah Presiden Prabowo Subianto atau Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit yang langsung memimpin operasionalisasi penanganan bencana dari lokasi, memberikan instruksi cepat kepada aparat, serta memobilisasi logistik untuk korban.
“Kepemimpinan harus hadir di tengah rakyat, bukan hanya lewat konferensi pers. Langkah Presiden Prabowo dan Kapolri yang turun langsung itu yang harus ditiru jajaran di bawahnya. Saat rakyat kita menangis, tidak ada ruang untuk perpecahan. Mari jadikan solidaritas sebagai kekuatan. Bangun kembali rumah, hutan, dan harapan masyarakat," katanya.
“Duka Sumatera adalah duka kita semua. Ini ujian kesabaran dari Allah, mari kita terima dengan ikhlas, tetapi jangan berhenti memperbaiki diri. Kita wajib hadir ringankan rakyat yang sedang menderita,” ujar Aminullah, Selasa (9/11/2025).
Menurut Aminullah, musibah ini harus dipandang sebagai ujian kesabaran dari Allah SWT, yang diterima dengan ikhlas namun tetap diiringi usaha memperbaiki diri dan memperbaiki tata kelola lingkungan di Indonesia.
Baca juga: Kementerian LH Setop Kegiatan Perusahaan di DAS Batang Toru, Ada Tambang Emas hingga Kelapa Sawit
“Banjir dan longsor bukan semata kejadian alam, tetapi diperburuk oleh kerusakan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun,” katanya.
Aminullah menyebutkan faktor-faktor seperti deforestasi massif, Ilegal logging, tambang yang merusak kontur tanah, serta lemahnya pengawasan sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah hulu.
Aminullah juga menyoroti dugaan keterlibatan sejumlah korporasi besar yang beroperasi dekat kawasan hutan, termasuk perusahaan yang sebelumnya banyak disorot publik terkait isu lingkungan.
Baca juga: Bupati Aceh Selatan Akhirnya Minta Maaf Usai Kepergok Pergi Umrah di Tengah Bencana
“Kami mencatat sejumlah entitas usaha yang disebut-sebut warga dan pemerhati lingkungan terlibat dalam rusaknya hulu sungai. Pemerintah harus turun menyelidiki dengan tegas dan transparan,” ujarnya.
Aminullah menegaskan evaluasi menyeluruh adalah kewajiban negara, bukan sekadar respons jangka pendek. Sebagai bentuk kehadiran langsung, PP GPA merencanakan kunjungan solidaritas serta penyaluran bantuan ke Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu daerah paling parah terdampak banjir.
Namun, hingga saat ini pihaknya tidak dapat menghubungi pengurus GPA Kabupaten Aceh Tamiang lantaran jaringan komunikasi di wilayah tersebut masih terputus.
“Komunikasi terputus total. Pengurus GPA Tamiang belum bisa dihubungi sejak tadi malam. Kami mohon atensi pemerintah agar jadi prioritas, karena jaringan komunikasi adalah kebutuhan dasar rakyat saat bencana. Banyak warga ingin menghubungi keluarga mereka", ungkapnya.
Aminullah juga memberikan catatan kepada jajaran kementerian agar tidak saling lempar pernyataan yang membuat gaduh, terutama saat rakyat sedang berjuang menyelamatkan keluarga dan harta benda.
“Ini bukan momentum untuk cari pembenaran atau panggung politik. Para menteri jangan saling berdebat di ruang publik. Fokus pada kerja, koordinasi, dan implementasi di lapangan", sebut Amin.
Aminullah mencontohkan langkah Presiden Prabowo Subianto atau Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit yang langsung memimpin operasionalisasi penanganan bencana dari lokasi, memberikan instruksi cepat kepada aparat, serta memobilisasi logistik untuk korban.
“Kepemimpinan harus hadir di tengah rakyat, bukan hanya lewat konferensi pers. Langkah Presiden Prabowo dan Kapolri yang turun langsung itu yang harus ditiru jajaran di bawahnya. Saat rakyat kita menangis, tidak ada ruang untuk perpecahan. Mari jadikan solidaritas sebagai kekuatan. Bangun kembali rumah, hutan, dan harapan masyarakat," katanya.
(cip)
Lihat Juga :