BMKG Deteksi Potensi Siklon Tropis di Selatan Indonesia pada Periode Nataru
Senin, 08 Desember 2025 - 21:13 WIB
loading...
Ilustrasi/Dok SINDO
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) mendeteksi potensi munculnya bibit siklon atau siklon tropis di bagian selatan Indonesia selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Hal itu diungkapkan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani .
"Ada beberapa fenomena atmosfer yang aktif, yaitu dimulai dari Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), kemudian gelombang atmosfer, dan adanya potensi bibit siklon atau siklon tropis, terutama nanti dominannya di bagian selatan wilayah Indonesia, La Nina lemah, dan IOD (Indian Ocean Dipole) negatif," ungkap Teuku saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/12/2025).
Teuku mengungkapkan, fenomena atmosfer selama Nataru itu berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan, terkhusus pada pekan kedua Desember 2025 hingga pekan pertama Januari 2026. Ia mengatakan, aktifnya gelombang Rossby dan Kelvin berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Papua.
Baca Juga: Update Jumlah Korban Bencana Sumatera: 961 Orang Meninggal, 293 Hilang
"Serta MJO yang meningkatkan potensi hujan intensitas tinggi hingga sangat tinggi terutama Jawa, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi, Papua," tuturnya.
Pada periode Nataru, BMKG juga memantau adanya bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia yang terus dimonitor oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) BMKG. "Yang pertama 93W di Laut Filipina, dalam 3 sampai 4 hari ke depan ini cenderung melemah dan harapan kita agar tidak terlalu banyak memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia," tutur Teuku.
Selanjutnya, kata dia, di bagian selatan, ada bibit siklon 91S di Samudra Hindia Barat Sumatera. "Sirkulasi siklonik ini juga terjadi di Barat Aceh dan juga di Barat Lampung, Kalimantan Barat, dan Laut Arafuru. Potensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan intensitas hujan di sekitar wilayah tersebut," pungkasnya.
"Ada beberapa fenomena atmosfer yang aktif, yaitu dimulai dari Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), kemudian gelombang atmosfer, dan adanya potensi bibit siklon atau siklon tropis, terutama nanti dominannya di bagian selatan wilayah Indonesia, La Nina lemah, dan IOD (Indian Ocean Dipole) negatif," ungkap Teuku saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/12/2025).
Teuku mengungkapkan, fenomena atmosfer selama Nataru itu berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan, terkhusus pada pekan kedua Desember 2025 hingga pekan pertama Januari 2026. Ia mengatakan, aktifnya gelombang Rossby dan Kelvin berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Papua.
Baca Juga: Update Jumlah Korban Bencana Sumatera: 961 Orang Meninggal, 293 Hilang
"Serta MJO yang meningkatkan potensi hujan intensitas tinggi hingga sangat tinggi terutama Jawa, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi, Papua," tuturnya.
Pada periode Nataru, BMKG juga memantau adanya bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia yang terus dimonitor oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) BMKG. "Yang pertama 93W di Laut Filipina, dalam 3 sampai 4 hari ke depan ini cenderung melemah dan harapan kita agar tidak terlalu banyak memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia," tutur Teuku.
Selanjutnya, kata dia, di bagian selatan, ada bibit siklon 91S di Samudra Hindia Barat Sumatera. "Sirkulasi siklonik ini juga terjadi di Barat Aceh dan juga di Barat Lampung, Kalimantan Barat, dan Laut Arafuru. Potensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan intensitas hujan di sekitar wilayah tersebut," pungkasnya.
(zik)
Lihat Juga :