Anak Korban Banjir Sumbar Jalani Psikososial untuk Redakan Trauma Bencana

Sabtu, 06 Desember 2025 - 13:12 WIB
loading...
Anak Korban Banjir Sumbar...
Anak-anak yang menjadi korban banjir dan longsor di Sumatera Barat menjalani psikososial yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Foto/Ist
A A A
PADANG - Anak-anak yang menjadi korban banjir dan longsor di Sumatera Barat (Sumbar) mulai menjalani psikososial yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Melalui sesi mendongeng, anak-anak diajak mengurangi rasa trauma akibat bencana sekaligus diperkenalkan kembali pada dunia literasi.

Aktivis Anak Maia Janitra mengatakan bahwa mendongeng menjadi salah satu sarana efektif untuk mengembalikan semangat anak-anak setelah bencana, terutama di tengah tingginya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut jauh lebih baik dan efektif membiarkan anak bermain gawai sepanjang hari.

Baca juga: Kisah Pilu Guru di Pidie Jaya Selamatkan Diri ke Atap Rumah, Bertahan Hidup 3 Hari Hanya dengan Air Hujan

Interaksi langsung saat bercerita membantu pendamping memahami cara berpikir anak dan memperkuat hubungan emosional.



“Mendongeng mengajak anak lebih mengenal dunia melalui cerita. Di dalam dongeng kita bisa menyampaikan pesan moral yang mudah dipahami anak. Mereka menjadi lebih tenang dan lebih mampu mengelola emosi. Ini berbeda dengan gawai yang membuat mereka larut dalam dunia mereka sendiri,” ujar Maia saat mengisi Program Mobil Dukungan Psikososial oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemomdigi) di lokasi pengungsian Akademi Maritim Sapta Samudra, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang, Sabtu (6/12/2025).

Pada kegiatan yang dihadiri sekitar 120 anak yang terdampak bencana di Sumbar, Maia pun membagikan pengalaman sebelum-sebelumnya saat mendampingi anak-anak korban banjir.

Baca juga: Umrah di Tengah Bencana, Bupati Aceh Selatan Dicopot dari Ketua DPC Gerindra

Dikatakannya bahwa anak-anak tersebut memiliki cara unik dalam memaknai kehilangan, misalnya menganggap barang yang hilang sebagai bagian penting dari identitas diri atau status sosial, yang dipengaruhi lingkungan dan budaya belanja daring.

“Saat kita hadir dan berinteraksi, kita dapat membantu membentuk karakter mereka. Bukan untuk menyalahkan, tetapi mengarahkan agar memahami cara pandang yang lebih baik,” katanya.

Keterlibatan aktif orang tua juga jadi faktor penting untuk menjaga kesehatan emosional anak, terutama pascabencana.

“Jika anak bermain gawai seharian, mereka cenderung tantrum dan emosional. Namun ketika diajak berdongeng atau bercerita, mereka lebih tenang dan realistis,” ujarnya.

Ia mengingatkan resiko permainan digital yang bisa memicu agresivitas. Sedangkan dongeng membuka ruang imajinasi sehat dan melatih kemampuan berpikir anak. Maka orang tua diharap untuk lebih kreatif, seperti menggunakan media pendukung cerita atau memberikan hadiah kecil agar anak semakin antusias.

Dalam pendampingannya, Maia menemukan bahwa sejumlah anak korban banjir masih merasa takut ketika hujan turun atau mengingat peristiwa sebelumnya.

“Setelah mendengarkan cerita, mereka tampak lebih tenang. Dongeng menjadi salah satu bentuk terapi yang membantu anak mengurangi kecemasan,” ujarnya.

Program Mobil Dukungan Psikososial Kemkomdigi sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).

Regulasi tersebut bertujuan melindungi anak dari konten negatif di ruang digital seperti media sosial dan permainan daring (game online). PP Tunas pun mengatur akses digital berdasarkan usia, kewajiban platform menyediakan filter usia, serta perlunya persetujuan orang tua.

Kombinasi edukasi literasi dan pelindungan digital melalui PP Tunas diharapkan menjadi perisai agar anak tetap bisa tumbuh tanpa menjadi korban di ruang digital.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Fakta Gempa Kerak...
6 Fakta Gempa Kerak Dangkal M6,7 di Jalur Sesar Aktif Sulawesi Tengah
BMKG Pantau Potensi...
BMKG Pantau Potensi Likuefaksi usai Gempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
BMKG: 9 Gempa Susulan...
BMKG: 9 Gempa Susulan Terjadi Pascagempa M6,7 di Palu
BNPB: Bencana Banjir...
BNPB: Bencana Banjir hingga Karhutla Melanda 4 Daerah
Gempa M7,7 Filipina...
Gempa M7,7 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, BMKG: Tidak Masuk Zona Megathrust
Tsunami Terjadi di 3...
Tsunami Terjadi di 3 Wilayah Indonesia Pascagempa 7,7 di Filipina, BMKG: Ketinggian 9-18 Cm
25 Wilayah Indonesia...
25 Wilayah Indonesia Berpotensi Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Mindanao Filipina
Dasco Panggil Satgas...
Dasco Panggil Satgas Percepatan Penanganan Bencana Sumatera
Perkuat Penanganan Bencana...
Perkuat Penanganan Bencana Daerah, Kemendagri Dorong Transformasi Tata Kelola BPBD
Rekomendasi
Modernland Realty Catat...
Modernland Realty Catat Laba Bersih Rp241,12 Miliar di 2025
Blusukan ke Lampung,...
Blusukan ke Lampung, Jokowi: Saya Hadir untuk PSI
Seratus Tahun Sekali:...
Seratus Tahun Sekali: Krisis Chip Memory Bikin MacBook hingga iPad Naik Harga, iPhone Berikutnya?
Berita Terkini
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Sejak 2023, Kabel Udara...
Sejak 2023, Kabel Udara Sepanjang 11 Kilometer di Jakarta Barat Direlokasi
4 Pelaku Penyekapan...
4 Pelaku Penyekapan Karyawan Padel Langsung Ditahan
Transjakarta Alihkan...
Transjakarta Alihkan 25 Armada Rute Tn Abang-Blok M dan Tj Priok-Kampung Rambutan
Transjakarta Rute Tanah...
Transjakarta Rute Tanah AbangBlok M dan Tj PriokKp Rambutan Berhenti Beroperasi 1 Juli
MUI DKI: Paradigma Pengelolaan...
MUI DKI: Paradigma Pengelolaan Sampah Harus Diubah dari Mengelola kepada Mencegah
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved