Pengungsi Korban Bencana Sumbar Terserang 10 Jenis Penyakit, ISPA Terbanyak
Sabtu, 06 Desember 2025 - 08:52 WIB
loading...
Sebanyak 10 jenis penyakit menyerang pengungsi korban bencana Sumatera Barat (Sumbar) sejak 25 November hingga 2 Desember 2025. Foto: Kemenkes
A
A
A
PADANG - Sebanyak 10 jenis penyakit menyerang pengungsi korban bencana Sumatera Barat (Sumbar) sejak 25 November hingga 2 Desember 2025. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ISPA merupakan kasus penyakit terbanyak.
"ISPA tercatat sebanyak 181 kasus," tulis Pusat Krisis (Puskris) Kemenkes, Sabtu (6/12/2025). Kemudian, demam 131 kasus, darah tinggi 103 kasus, infeksi kulit 79 kasus, alergi 54 kasus, flu 43 kasus, nyeri otot 34 kasus, sakit kepala 32 kasus, vertigo 30 kasus, dan asam lambung 28 kasus.
Baca juga: Listrik Sumbar Sudah Menyala 100%, Infrastruktur Terdampak Bencana Kembali Pulih
Di luar kasus yang ditemukan di lapangan, Puskris menyiagakan untuk mengantisipasi potensi beberapa penyakit. Puskris dan Dinas Kesehatan Sumbar telah melakukan kesiapsiagaan untuk mencegah timbulnya kasus penyakit di tengah masyarakat.
Di wilayah Sumbar, pihaknya dan Dinas Kesehatan Sumbar telah memobilisasi tim pendampingan manajemen krisis kesehatan. Puskris merilis potensi peningkatan penyakit di antaranya berbasis lingkungan seperti diare dan ISPA, berbasis pada zoonosis, penyakit leptospirosis, serta potensi penyakit lainnya yaitu malaria, DBD, chikungunya, campak, difteri, serta pertussis.
Kepala Bidang SDK Dinas Kesehatan Sumbar Saiful Jamal mengatakan, kondisi air dan sanitasi menjadi perhatian dinasnya untuk masyarakat di pos pengungsian atau sekitar tempat tinggal. Tim kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Sumbar dan berbagai pihak telah turun ke lapangan.
“Tim ini memantau potensi kondisi yang dapat memicu terjadinya penyakit di tengah masyarakat di wilayah kabupaten dan kota terdampak bencana,” ujar Saiful di Posko Terpadu Sumbar, Jumat (5/12/2025).
Pihaknya telah memantau ketersediaan air dan sanitasi di lokasi pengungsian. Tim kesehatan lingkungan juga menghitung kebutuhan toilet portabel, memastikan ketersediaan air dan sanitasi, serta memantau penyakit yang mungkin berkembang setiap hari.
Dia menekankan pada warga yang memiliki kondisi tertentu, khususnya bagi warga yang harus dirawat secara rutin seperti pasien cuci darah atau mereka yang harus mengonsumsi obat secara rutin.
Saiful yang juga Ketua HEOC berpesan kondisi sekarang masyarakat dengan perawatan khusus, pasien dengan obat rutin segera melapor ke puskesmas, pustu, bidan desa agar pasien khusus dapat terlayani. Ini sesuai arahan Menteri Kesehatan.
Saat ini pusat operasi kedaruratan kesehatan atau HEOC telah diaktifkan di tingkat provinsi. Dengan adanya pusat ini, tenaga kesehatan dari sektor pemerintah maupun non-pemerintah terlebih dahulu berkoordinasi sebelum memberikan pelayanan medis.
Puskris juga memobilisasi tenaga cadangan kesehatan (TCK) dari regional Sumbar. Sejumlah tenaga medis dan tenaga kesehatan diperbantukan untuk memberikan pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan yang terdampak bencana di antaranya tenaga medis dan kesehatan dari RSU Dadi Makassar ke RSUD Sikaping dan RS Khusus Daerah Dadi menuju RSUD Lubung Basung, keduanya berada di Kabupaten Agam.
"ISPA tercatat sebanyak 181 kasus," tulis Pusat Krisis (Puskris) Kemenkes, Sabtu (6/12/2025). Kemudian, demam 131 kasus, darah tinggi 103 kasus, infeksi kulit 79 kasus, alergi 54 kasus, flu 43 kasus, nyeri otot 34 kasus, sakit kepala 32 kasus, vertigo 30 kasus, dan asam lambung 28 kasus.
Baca juga: Listrik Sumbar Sudah Menyala 100%, Infrastruktur Terdampak Bencana Kembali Pulih
Di luar kasus yang ditemukan di lapangan, Puskris menyiagakan untuk mengantisipasi potensi beberapa penyakit. Puskris dan Dinas Kesehatan Sumbar telah melakukan kesiapsiagaan untuk mencegah timbulnya kasus penyakit di tengah masyarakat.
Di wilayah Sumbar, pihaknya dan Dinas Kesehatan Sumbar telah memobilisasi tim pendampingan manajemen krisis kesehatan. Puskris merilis potensi peningkatan penyakit di antaranya berbasis lingkungan seperti diare dan ISPA, berbasis pada zoonosis, penyakit leptospirosis, serta potensi penyakit lainnya yaitu malaria, DBD, chikungunya, campak, difteri, serta pertussis.
Kepala Bidang SDK Dinas Kesehatan Sumbar Saiful Jamal mengatakan, kondisi air dan sanitasi menjadi perhatian dinasnya untuk masyarakat di pos pengungsian atau sekitar tempat tinggal. Tim kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Sumbar dan berbagai pihak telah turun ke lapangan.
“Tim ini memantau potensi kondisi yang dapat memicu terjadinya penyakit di tengah masyarakat di wilayah kabupaten dan kota terdampak bencana,” ujar Saiful di Posko Terpadu Sumbar, Jumat (5/12/2025).
Pihaknya telah memantau ketersediaan air dan sanitasi di lokasi pengungsian. Tim kesehatan lingkungan juga menghitung kebutuhan toilet portabel, memastikan ketersediaan air dan sanitasi, serta memantau penyakit yang mungkin berkembang setiap hari.
Dia menekankan pada warga yang memiliki kondisi tertentu, khususnya bagi warga yang harus dirawat secara rutin seperti pasien cuci darah atau mereka yang harus mengonsumsi obat secara rutin.
Saiful yang juga Ketua HEOC berpesan kondisi sekarang masyarakat dengan perawatan khusus, pasien dengan obat rutin segera melapor ke puskesmas, pustu, bidan desa agar pasien khusus dapat terlayani. Ini sesuai arahan Menteri Kesehatan.
Saat ini pusat operasi kedaruratan kesehatan atau HEOC telah diaktifkan di tingkat provinsi. Dengan adanya pusat ini, tenaga kesehatan dari sektor pemerintah maupun non-pemerintah terlebih dahulu berkoordinasi sebelum memberikan pelayanan medis.
Puskris juga memobilisasi tenaga cadangan kesehatan (TCK) dari regional Sumbar. Sejumlah tenaga medis dan tenaga kesehatan diperbantukan untuk memberikan pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan yang terdampak bencana di antaranya tenaga medis dan kesehatan dari RSU Dadi Makassar ke RSUD Sikaping dan RS Khusus Daerah Dadi menuju RSUD Lubung Basung, keduanya berada di Kabupaten Agam.
(jon)
Lihat Juga :