Ponsel Hilang, Nama Founder GYPEM Ahmad Qomaruddin Dicatut Penipuan Miliaran Rupiah
Kamis, 04 Desember 2025 - 15:49 WIB
loading...
Kasus kejahatan siber (cyber crime) menimpa Ahmad Qomaruddin, tokoh muda sekaligus Founder Global Youth and Peace Education Movement (GYPEM). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Kasus kejahatan siber (cyber crime) dengan modus pencurian identitas dan pengintaian digital (cyber stalking) kembali memakan korban. Kali ini menimpa Ahmad Qomaruddin, tokoh muda sekaligus Founder Global Youth and Peace Education Movement (GYPEM). Akibat hilangnya ponsel pribadinya pada Agustus lalu, Ahmad kini menghadapi serangan bertubi-tubi. Mulai dari peretasan akun media sosial, penyebaran fitnah asusila, hingga pencatutan nama untuk penipuan bernilai miliaran rupiah.
Dalam keterangannya, Ahmad mengungkapkan modus pelaku yang tergolong canggih dan meresahkan. Pelaku memanfaatkan fitur berbagi lokasi (geo-tagging) di Instagram milik Ahmad yang sempat aktif untuk memantau keberadaannya secara real-time. Baca juga: Kerugian Akibat Scamming Tembus Rp7,3 Triliun, OJK Sehari Terima 1.000 Aduan
"Kebetulan saya sedang menempuh studi (kuliah) di Yogyakarta, jadi saya punya rutinitas tempat tinggal (kos) dan hotel transit yang tetap. Pelaku mempelajari pola itu lewat lokasi di Instagram saya," katanya, Selasa (2/12/2025).
Ahmad menjelaskan, pelaku menggunakan data lokasi tersebut untuk membuat skenario percakapan palsu yang sangat meyakinkan. "Pelaku melihat saya sedang di titik A, lalu dia membuat chat palsu seolah-olah saya sedang di titik A. Korban jadi percaya karena lokasinya akurat. Padahal, saya sedang diintai. Ini membuat saya trauma karena privasi saya benar-benar dilanggar," imbuhnya.
Terkait beredarnya tangkapan layar percakapan tidak senonoh yang menyudutkan reputasinya sebagai pendidik, Ahmad memberikan bantahan tegas. Ia menyebut konten tersebut adalah hasil manipulasi konteks (framing).
Video yang beredar, menurut Ahmad, sejatinya adalah video dokumentasi perjalanan (traveling) biasa yang diambil pelaku dari arsip percakapan (chat) di HP-nya yang hilang. "Itu video lama, isinya cuma kabar perjalanan biasa ('Saya lagi di sini'). Tapi oleh pelaku, video netral itu dibingkai ulang dengan teks godaan atau narasi vulgar, seolah-olah saya mengirimnya untuk tujuan tidak senonoh," jelas penggerak pendidikan perdamaian ini.
Menurutnya, serangan ini bermotif pembunuhan karakter (character assassination) untuk merusak citra GYPEM yang fokus pada pendidikan moral dan perdamaian.
Deepfake AI dan Penipuan Miliaran Rupiah
Selain serangan moral, pelaku juga menggunakan teknologi Deepfake Audio (rekayasa suara AI) dan identitas KTP Ahmad untuk melakukan penipuan finansial. Nilai kerugian yang diklaim korban mencapai miliaran rupiah. Baca juga: Negara Tidak Boleh Kalah Melawan Kejahatan Siber
"Saya tegaskan, saya tidak bertanggung jawab atas segala transaksi hutang-piutang atau penipuan miliaran rupiah yang mengatasnamakan saya. Itu murni kriminalitas yang memanfaatkan data curian. Saya imbau masyarakat waspada," tegasnya.
Ahmad juga mengaku sempat kesulitan memberikan klarifikasi karena akses komunikasi digitalnya diputus. Akun media sosialnya hingga milik keluarga diretas (hack) secara masif oleh pelaku agar narasi fitnah tersebut tidak terbantahkan "Saya harap klarifikasi ini bisa memulihkan nama baik saya dan menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dengan fitur lokasi di media sosial," tuturnya.
Dalam keterangannya, Ahmad mengungkapkan modus pelaku yang tergolong canggih dan meresahkan. Pelaku memanfaatkan fitur berbagi lokasi (geo-tagging) di Instagram milik Ahmad yang sempat aktif untuk memantau keberadaannya secara real-time. Baca juga: Kerugian Akibat Scamming Tembus Rp7,3 Triliun, OJK Sehari Terima 1.000 Aduan
"Kebetulan saya sedang menempuh studi (kuliah) di Yogyakarta, jadi saya punya rutinitas tempat tinggal (kos) dan hotel transit yang tetap. Pelaku mempelajari pola itu lewat lokasi di Instagram saya," katanya, Selasa (2/12/2025).
Ahmad menjelaskan, pelaku menggunakan data lokasi tersebut untuk membuat skenario percakapan palsu yang sangat meyakinkan. "Pelaku melihat saya sedang di titik A, lalu dia membuat chat palsu seolah-olah saya sedang di titik A. Korban jadi percaya karena lokasinya akurat. Padahal, saya sedang diintai. Ini membuat saya trauma karena privasi saya benar-benar dilanggar," imbuhnya.
Terkait beredarnya tangkapan layar percakapan tidak senonoh yang menyudutkan reputasinya sebagai pendidik, Ahmad memberikan bantahan tegas. Ia menyebut konten tersebut adalah hasil manipulasi konteks (framing).
Video yang beredar, menurut Ahmad, sejatinya adalah video dokumentasi perjalanan (traveling) biasa yang diambil pelaku dari arsip percakapan (chat) di HP-nya yang hilang. "Itu video lama, isinya cuma kabar perjalanan biasa ('Saya lagi di sini'). Tapi oleh pelaku, video netral itu dibingkai ulang dengan teks godaan atau narasi vulgar, seolah-olah saya mengirimnya untuk tujuan tidak senonoh," jelas penggerak pendidikan perdamaian ini.
Menurutnya, serangan ini bermotif pembunuhan karakter (character assassination) untuk merusak citra GYPEM yang fokus pada pendidikan moral dan perdamaian.
Deepfake AI dan Penipuan Miliaran Rupiah
Selain serangan moral, pelaku juga menggunakan teknologi Deepfake Audio (rekayasa suara AI) dan identitas KTP Ahmad untuk melakukan penipuan finansial. Nilai kerugian yang diklaim korban mencapai miliaran rupiah. Baca juga: Negara Tidak Boleh Kalah Melawan Kejahatan Siber
"Saya tegaskan, saya tidak bertanggung jawab atas segala transaksi hutang-piutang atau penipuan miliaran rupiah yang mengatasnamakan saya. Itu murni kriminalitas yang memanfaatkan data curian. Saya imbau masyarakat waspada," tegasnya.
Ahmad juga mengaku sempat kesulitan memberikan klarifikasi karena akses komunikasi digitalnya diputus. Akun media sosialnya hingga milik keluarga diretas (hack) secara masif oleh pelaku agar narasi fitnah tersebut tidak terbantahkan "Saya harap klarifikasi ini bisa memulihkan nama baik saya dan menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dengan fitur lokasi di media sosial," tuturnya.
(poe)
Lihat Juga :