Kampung Berseri Sukses Berdayakan Masyarakat Enggros di Papua
Sabtu, 29 November 2025 - 21:11 WIB
loading...
Pemberdayaan masyarakat Enggros, Jayapura, Papua melalui Program Kampung Berseri berhasil memulihkan ekosistem, termasuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Foto/Ist
A
A
A
JAYAPURA - Pemberdayaan masyarakat Enggros, Jayapura, Papua melalui Program Kampung Berseri berhasil memulihkan ekosistem. Di antaranya termasuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.
Sebelumnya, kampung yang berada di pesisir ini menerima limpasan air dari empat sungai besar di Jayapura. Akumulasi sampah dari aliran sungai tersebut menyebabkan degradasi mangrove dan penurunan produktivitas penangkapan ikan hingga lebih dari 40%, sehingga mengganggu ketahanan pangan masyarakat adat yang bergantung pada sumber daya pesisir.
Baca juga: Bos Astra Ungkap Kolaborasi dan Kearifan Lokal di Kampung Berseri Desa Les Bali Utara
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro mengatakan, sejak 2017, Program Kampung Berseri Astra hadir mendampingi masyarakat memperkuat Enggros melalui empat pilar kontribusi sosial yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan dan Kewirausahaan.
Pendampingan ini diarahkan untuk membantu warga memperkuat fondasi keluarga yang lebih sehat, memulihkan ekosistem kampung, memperbaiki akses pendidikan anak-anak, serta memberdayakan ekonomi yang berbasis potensi lokal.
“Program ini bertujuan untuk memperkuat kekuatan komunitas yang tumbuh dari desa-desa Indonesia. Setiap kampung memiliki potensi, ketahanan, dan nilai-nilai yang apabila didukung dengan tepat dapat menjadi pendorong kemajuan. Kami berharap pendampingan ini terus memberi manfaat luas bagi peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat serta menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Dia menyebut, saat ini perubahan nyata mulai terlihat di Enggros. Penguatan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan fisik, tetapi juga membangun kapasitas warga untuk memimpin perubahan di kampungnya sendiri. Salah satu simbol perubahan itu adalah Petronela Merauje, tokoh penggerak Kampung Berseri Astra Enggros.
Gerakan kecil Petronela kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas dan memberi dampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat di Kampung Berseri. Masyarakat memusatkan upaya pada pemulihan Hutan Perempuan hutan mangrove adat seluas lebih dari 20 hektare yang mulai rusak akibat penumpukan sampah dan penebangan.
“Kini, warga telah menyemai lebih dari 8.000 bibit mangrove yang dirawat selama 5 hingga 7 bulan sebelum ditanam kembali,” ujarnya.
Kegiatan bersih pantai telah menurunkan volume sampah yang menumpuk di area pesisir hingga sekitar 30% dan berdampak langsung pada ketersediaan kerang dan kepiting, yang kembali meningkat dan menjadi sumber pangan serta pendapatan harian bagi keluarga.
Begitu juga dengan fasilitas belajar untuk PAUD dan SD di Enggros yang sebelumnya sangat terbatas. Lebih dari 70 anak PAUD dan SD tidak memiliki akses terhadap buku, perlengkapan belajar layak, maupun kegiatan literasi rutin. Melalui dukungan Kampung Berseri Astra, fasilitas pendidikan, perlengkapan belajar, buku bacaan, dan kegiatan literasi terstruktur kini hadir dan membantu peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk renovasi PAUD.
“Kaum perempuan juga mulai mengembangkan usaha berbasis olahan mangrove dan kerajinan daur ulang. Sebelum pendampingan, sebagian besar usaha warga hanya memberikan pemasukan harian yang sangat kecil. Dukungan alat produksi dan pelatihan membuat usaha kecil ini tumbuh lebih stabil, dengan rata-rata produksi harian kerajinan dan olahan mangrove meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya,” paparnya.
Pendapatan pelaku UMKM juga tercatat meningkat hingga 60% setelah pendampingan dilakukan. Salah satu keluarga bahkan berhasil mengembangkan usahanya menjadi depot air minum pertama di Enggros, yang kini melayani lebih dari 100 pelanggan dan menjadi sumber pendapatan utama keluarga.
“Sebelum 2017, akses layanan kesehatan dasar sangat terbatas. Kini, program kesehatan sudah berjalan lebih teratur melalui pemberian makanan tambahan bagi balita dan lansia, pemantauan gizi secara berkala oleh kader kesehatan, serta edukasi pola hidup bersih dan sehat yang membantu mengurangi risiko penyakit berbasis lingkungan,” ucapnya.
Sebanyak 50 balita kini telah menerima layanan Posyandu sebagai bagian dari peningkatan layanan kesehatan dasar di kampung. Enggros yang dulu terancam oleh sampah dan degradasi mangrove, kini bergerak menuju pemulihan ekologis, penguatan kesehatan keluarga, serta pendidikan anak yang lebih baik.
“Kami mendukung pembangunan bangsa melalui program Kampung Berseri Astra yang tersebar di seluruh pelosok negeri guna mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, kampung yang berada di pesisir ini menerima limpasan air dari empat sungai besar di Jayapura. Akumulasi sampah dari aliran sungai tersebut menyebabkan degradasi mangrove dan penurunan produktivitas penangkapan ikan hingga lebih dari 40%, sehingga mengganggu ketahanan pangan masyarakat adat yang bergantung pada sumber daya pesisir.
Baca juga: Bos Astra Ungkap Kolaborasi dan Kearifan Lokal di Kampung Berseri Desa Les Bali Utara
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro mengatakan, sejak 2017, Program Kampung Berseri Astra hadir mendampingi masyarakat memperkuat Enggros melalui empat pilar kontribusi sosial yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan dan Kewirausahaan.
Pendampingan ini diarahkan untuk membantu warga memperkuat fondasi keluarga yang lebih sehat, memulihkan ekosistem kampung, memperbaiki akses pendidikan anak-anak, serta memberdayakan ekonomi yang berbasis potensi lokal.
“Program ini bertujuan untuk memperkuat kekuatan komunitas yang tumbuh dari desa-desa Indonesia. Setiap kampung memiliki potensi, ketahanan, dan nilai-nilai yang apabila didukung dengan tepat dapat menjadi pendorong kemajuan. Kami berharap pendampingan ini terus memberi manfaat luas bagi peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat serta menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Dia menyebut, saat ini perubahan nyata mulai terlihat di Enggros. Penguatan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan fisik, tetapi juga membangun kapasitas warga untuk memimpin perubahan di kampungnya sendiri. Salah satu simbol perubahan itu adalah Petronela Merauje, tokoh penggerak Kampung Berseri Astra Enggros.
Gerakan kecil Petronela kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas dan memberi dampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat di Kampung Berseri. Masyarakat memusatkan upaya pada pemulihan Hutan Perempuan hutan mangrove adat seluas lebih dari 20 hektare yang mulai rusak akibat penumpukan sampah dan penebangan.
“Kini, warga telah menyemai lebih dari 8.000 bibit mangrove yang dirawat selama 5 hingga 7 bulan sebelum ditanam kembali,” ujarnya.
Kegiatan bersih pantai telah menurunkan volume sampah yang menumpuk di area pesisir hingga sekitar 30% dan berdampak langsung pada ketersediaan kerang dan kepiting, yang kembali meningkat dan menjadi sumber pangan serta pendapatan harian bagi keluarga.
Begitu juga dengan fasilitas belajar untuk PAUD dan SD di Enggros yang sebelumnya sangat terbatas. Lebih dari 70 anak PAUD dan SD tidak memiliki akses terhadap buku, perlengkapan belajar layak, maupun kegiatan literasi rutin. Melalui dukungan Kampung Berseri Astra, fasilitas pendidikan, perlengkapan belajar, buku bacaan, dan kegiatan literasi terstruktur kini hadir dan membantu peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk renovasi PAUD.
“Kaum perempuan juga mulai mengembangkan usaha berbasis olahan mangrove dan kerajinan daur ulang. Sebelum pendampingan, sebagian besar usaha warga hanya memberikan pemasukan harian yang sangat kecil. Dukungan alat produksi dan pelatihan membuat usaha kecil ini tumbuh lebih stabil, dengan rata-rata produksi harian kerajinan dan olahan mangrove meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya,” paparnya.
Pendapatan pelaku UMKM juga tercatat meningkat hingga 60% setelah pendampingan dilakukan. Salah satu keluarga bahkan berhasil mengembangkan usahanya menjadi depot air minum pertama di Enggros, yang kini melayani lebih dari 100 pelanggan dan menjadi sumber pendapatan utama keluarga.
“Sebelum 2017, akses layanan kesehatan dasar sangat terbatas. Kini, program kesehatan sudah berjalan lebih teratur melalui pemberian makanan tambahan bagi balita dan lansia, pemantauan gizi secara berkala oleh kader kesehatan, serta edukasi pola hidup bersih dan sehat yang membantu mengurangi risiko penyakit berbasis lingkungan,” ucapnya.
Sebanyak 50 balita kini telah menerima layanan Posyandu sebagai bagian dari peningkatan layanan kesehatan dasar di kampung. Enggros yang dulu terancam oleh sampah dan degradasi mangrove, kini bergerak menuju pemulihan ekologis, penguatan kesehatan keluarga, serta pendidikan anak yang lebih baik.
“Kami mendukung pembangunan bangsa melalui program Kampung Berseri Astra yang tersebar di seluruh pelosok negeri guna mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia,” ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :