Edukasi Kesehatan Baduta, FK Unair Dukung Surabaya Zero Stunting
Sabtu, 29 November 2025 - 15:23 WIB
loading...
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya melakukan pendampingan kesehatan pada anak di bawah dua tahun (baduta). Foto/Istimewa
A
A
A
SURABAYA - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya melakukan pendampingan kesehatan pada anak di bawah dua tahun (baduta). Kegiatan bertajuk Bakti Mahasiswa 2025: Vitamin ini meliputi penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat di wilayah Kecamatan Tambaksari, Surabaya.
Menurut Wakil Dekan III FK Unair, Dr. Sulistiawati dr., M.Kes, pendampingan terhadap masyarakat di wilayah Tambaksari sudah memasuki tahun kedua. Pendampingan ini difokuskan pada stunting maupun yang menuju stunting. Pihaknya mendukung Surabaya bebas stunting.
“Dengan kerjasama ini kita berharap, mahasiswa baru FK Unair bisa memberi kontribusi nyata terhadap masyarakat. Minimal memberikan edukasi dan persepsi yang benar terhadap orang tua baduta dan keluarga mengenai penanganan kesehatan,” kata Dr Sulis yang juga dosen pembina kegiatan ini, Sabtu (29/11/2025).
Baca juga: Guru Besar Unair Ungkap Peran Penting ASI Booster Bagi Ibu Menyusui
Stunting menjadi fokus kegiatan ini karena selain program nasional, memang kondisi di lapangan ada masalah yang mengharuskan FK Unair dengan menggandeng sejumlah pihak untuk turun dan melakukan pendampingan. Salah satu tujuannya agar angka stunting tidak bertambah, kalau bisa malah mencapai nol alias zero stunting.
Ketua Tim Kerja Kesehatan dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Surabaya Dr Sri Lestari mengapresiasi langkah mahasiswa. Pihaknya memang sudah mengarahkan masing-masing kampus untuk menjadi pendamping di wilayah masing-masing, seperti FK Unair membina wilayah Tambaksari ini.
“Saat ini, Pemkot Surabaya bukan hanya menurunkan angka stunting, tapi melakukan pencegahan. Sehingga intervensi intervensi diperlukan untuk mencapai target tersebut,” katanya.
Angka stunting di Surabaya berdasarkan aplikasi Sayang Warga cenderung stagnan. Tercatat ada 304 anak mengalami stunting dan pra stunting mencapai 350 anak. Angka ini tidak tersebar di 31 kecamatan, hanya di beberapa kawasan yang masuk wilayah kerja 63 puskesmas.
“Salah satunya di sini, Tambaksari yang menjadi perhatian. PR-nya masih banyak. Pendampingan di sini sangat diperlukan,” terangnya.
Menurut Wakil Dekan III FK Unair, Dr. Sulistiawati dr., M.Kes, pendampingan terhadap masyarakat di wilayah Tambaksari sudah memasuki tahun kedua. Pendampingan ini difokuskan pada stunting maupun yang menuju stunting. Pihaknya mendukung Surabaya bebas stunting.
“Dengan kerjasama ini kita berharap, mahasiswa baru FK Unair bisa memberi kontribusi nyata terhadap masyarakat. Minimal memberikan edukasi dan persepsi yang benar terhadap orang tua baduta dan keluarga mengenai penanganan kesehatan,” kata Dr Sulis yang juga dosen pembina kegiatan ini, Sabtu (29/11/2025).
Baca juga: Guru Besar Unair Ungkap Peran Penting ASI Booster Bagi Ibu Menyusui
Stunting menjadi fokus kegiatan ini karena selain program nasional, memang kondisi di lapangan ada masalah yang mengharuskan FK Unair dengan menggandeng sejumlah pihak untuk turun dan melakukan pendampingan. Salah satu tujuannya agar angka stunting tidak bertambah, kalau bisa malah mencapai nol alias zero stunting.
Ketua Tim Kerja Kesehatan dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Surabaya Dr Sri Lestari mengapresiasi langkah mahasiswa. Pihaknya memang sudah mengarahkan masing-masing kampus untuk menjadi pendamping di wilayah masing-masing, seperti FK Unair membina wilayah Tambaksari ini.
“Saat ini, Pemkot Surabaya bukan hanya menurunkan angka stunting, tapi melakukan pencegahan. Sehingga intervensi intervensi diperlukan untuk mencapai target tersebut,” katanya.
Angka stunting di Surabaya berdasarkan aplikasi Sayang Warga cenderung stagnan. Tercatat ada 304 anak mengalami stunting dan pra stunting mencapai 350 anak. Angka ini tidak tersebar di 31 kecamatan, hanya di beberapa kawasan yang masuk wilayah kerja 63 puskesmas.
“Salah satunya di sini, Tambaksari yang menjadi perhatian. PR-nya masih banyak. Pendampingan di sini sangat diperlukan,” terangnya.
(rca)
Lihat Juga :