Ratusan Lansia Ikut Operasi Katarak Gratis Kemensos di RSUD Reda Bolo NTT
Sabtu, 22 November 2025 - 21:23 WIB
loading...
A
A
A
Adapun Operasi dilakukan menggunakan dua teknik, yakni phacoemulsifikasi, dan SICS (Small Incision Cataract Surgery), menyesuaikan kondisi masing-masing pasien.
Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonu Wulla, memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini. Menurutnya, operasi katarak massal tidak hanya membantu memulihkan penglihatan warga, tetapi juga meningkatkan produktivitas masyarakat yang sebelumnya terhambat akibat gangguan penglihatan.
"Jumlah yang dilayani untuk program kali ini cukup banyak dari Kabupaten Sumba Barat Daya. Sehingga memang dengan penempatan di Sumpah Barat Daya, ini sangat berdampak baik bagi masyarakat," kata Bupati Ratu.
Bupati dan jajarannya menyatakan dukungan terhadap program pemerintah ini dan berharap akan ada program bantuan berikutnya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.
“Ini berkat bagi kami. Animo masyarakat sangat tinggi, dan banyak warga SBD akhirnya bisa ditangani. Kami siap mendukung agar program seperti ini berkelanjutan dan bisa dilakukan lebih sering,” kata Bupati Ratu.
Di tengah antrean panjang, terlihat pula sejumlah pasien lansia yang harus dipapah keluarga karena penglihatannya telah sangat terbatas. Beberapa di antaranya mengaku sudah tidak bisa beraktivitas mandiri, bahkan harus berhenti bekerja akibat katarak yang dibiarkan terlalu lama. Kehadiran layanan operasi gratis ini menjadi harapan baru bagi mereka untuk kembali melihat dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Salah satu penerima manfaat, Syarifa Muhammad Aly, masih mengingat jelas rasa haru yang ia rasakan ketika perban matanya dibuka pada pemeriksaan kontrol pagi itu. Setelah bertahun-tahun melihat dunia dengan kabur, ia akhirnya bisa melihat kembali dengan jelas.
“Waktu operasi, saya cuma merasa sedikit saja di mata. Tidak sakit,” tuturnya. Malam sebelum operasi pun ia mengaku bisa tertidur dengan tenang meski sempat cemas menunggu giliran.
Ketika dokter membuka perban dan menyatakan kondisi matanya baik, Syarifa tidak mampu menahan senyum. Ia mengatakan orang pertama yang dilihatnya adalah petugas yang mendampinginya selama proses operasi.
“Senang sekali, alhamdulillah,” ujarnya.
Yang membuatnya semakin terharu adalah perasaan lega mengetahui operasi berjalan lancar berkat dukungan pemerintah. “Senang sekali, ketemu semua, bisa lihat lagi. Alhamdulillah,” kata Syarifa sambil berkali-kali mengusap sudut matanya.
Hal senada disampaikan Hermina Edju, warga lain yang harus dua kali menunda operasi karena tekanan darah tinggi saat screening. “Awalnya tensi saya tinggi, jadi saya diberi waktu. Setelah minum obat, baru bisa operasi. Alhamdulillah lancar, dokternya santun sekali,” katanya.
Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonu Wulla, memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini. Menurutnya, operasi katarak massal tidak hanya membantu memulihkan penglihatan warga, tetapi juga meningkatkan produktivitas masyarakat yang sebelumnya terhambat akibat gangguan penglihatan.
"Jumlah yang dilayani untuk program kali ini cukup banyak dari Kabupaten Sumba Barat Daya. Sehingga memang dengan penempatan di Sumpah Barat Daya, ini sangat berdampak baik bagi masyarakat," kata Bupati Ratu.
Bupati dan jajarannya menyatakan dukungan terhadap program pemerintah ini dan berharap akan ada program bantuan berikutnya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.
“Ini berkat bagi kami. Animo masyarakat sangat tinggi, dan banyak warga SBD akhirnya bisa ditangani. Kami siap mendukung agar program seperti ini berkelanjutan dan bisa dilakukan lebih sering,” kata Bupati Ratu.
Di tengah antrean panjang, terlihat pula sejumlah pasien lansia yang harus dipapah keluarga karena penglihatannya telah sangat terbatas. Beberapa di antaranya mengaku sudah tidak bisa beraktivitas mandiri, bahkan harus berhenti bekerja akibat katarak yang dibiarkan terlalu lama. Kehadiran layanan operasi gratis ini menjadi harapan baru bagi mereka untuk kembali melihat dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Salah satu penerima manfaat, Syarifa Muhammad Aly, masih mengingat jelas rasa haru yang ia rasakan ketika perban matanya dibuka pada pemeriksaan kontrol pagi itu. Setelah bertahun-tahun melihat dunia dengan kabur, ia akhirnya bisa melihat kembali dengan jelas.
“Waktu operasi, saya cuma merasa sedikit saja di mata. Tidak sakit,” tuturnya. Malam sebelum operasi pun ia mengaku bisa tertidur dengan tenang meski sempat cemas menunggu giliran.
Ketika dokter membuka perban dan menyatakan kondisi matanya baik, Syarifa tidak mampu menahan senyum. Ia mengatakan orang pertama yang dilihatnya adalah petugas yang mendampinginya selama proses operasi.
“Senang sekali, alhamdulillah,” ujarnya.
Yang membuatnya semakin terharu adalah perasaan lega mengetahui operasi berjalan lancar berkat dukungan pemerintah. “Senang sekali, ketemu semua, bisa lihat lagi. Alhamdulillah,” kata Syarifa sambil berkali-kali mengusap sudut matanya.
Hal senada disampaikan Hermina Edju, warga lain yang harus dua kali menunda operasi karena tekanan darah tinggi saat screening. “Awalnya tensi saya tinggi, jadi saya diberi waktu. Setelah minum obat, baru bisa operasi. Alhamdulillah lancar, dokternya santun sekali,” katanya.
Lihat Juga :