Pengusaha Muda dari Banyumas Ini Buktikan 'Wong Ndeso' Bisa Tembus Pasar Digital
Kamis, 20 November 2025 - 21:57 WIB
loading...
Vilantika Vida Rahayu membuktikan bahwa perempuan desa bisa sukses. FOTO/IST
A
A
A
BANYUMAS - Istilah wong ndeso kerap kali dilekatkan pada gambaran keterbelakangan dan minimnya kesempatan. Namun anggapan itu perlahan dipatahkan oleh generasi muda desa yang mampu menembus batas digital. Salah satunya adalah Vilantika Vida Rahayu, perempuan asal Desa Rawaheng, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, yang kini dikenal sebagai pengusaha sukses di bidang produk feminine care.
Lahir dan dibesarkan di lingkungan pedesaan yang dikelilingi persawahan, Vida menghabiskan masa kecilnya tanpa ekspektasi besar. Tidak ada yang menyangka bahwa suatu hari ia akan membangun bisnis sendiri dan mempekerjakan karyawan. "Hidup saya dulu mengalir seperti anak desa pada umumnya," katanya.
Vida melanjutkan pendidikan di SMK jurusan Farmasi. Ia memilih jurusan tersebut bukan karena ambisi tertentu, melainkan karena dianggap pilihan aman. Selepas lulus, ia bekerja sebagai karyawan di beberapa tempat. Meski belum terpikir menjadi pengusaha, pengalaman itu kelak menjadi modal mental yang penting.
Perubahan besar terjadi saat pandemi melanda. Ketika banyak sektor runtuh, Vida justru melihat peluang dari maraknya bisnis online. Ia mulai menjadi konten kreator dan affiliator untuk produk orang lain. Dari sinilah ia belajar ritme penjualan digital dan strategi komunikasi.
Pengalamannya sebagai promotor produk orang lain membuka matanya: ia bisa membangun sesuatu sendiri.
Berbekal pengetahuan dasar farmasi, Vida memberanikan diri memulai bisnis feminine care dengan brand Ammazmore. Ia memulai dengan modal kecil dan pengalaman terbatas. Namun tekad dan konsistensi menjadi kunci utama.
Setiap hari ia melakukan siaran langsung di media sosial untuk memperkenalkan produk, menjelaskan manfaat, dan membangun kepercayaan konsumen. Ia juga melengkapi produknya dengan legalitas dari BPOM. "Saya tidak mau menjual produk yang meragukan. Legalitas itu wajib," tegasnya.
Perlahan, usahanya berkembang. Vida kini memiliki kantor operasional sendiri yang digunakan untuk penyimpanan produk, ruang live streaming, hingga pusat pengiriman. Ia juga mempekerjakan lebih dari empat karyawan tetap yang ia sebut sebagai "partner perjalanan".
Meski enggan memamerkan pendapatan, Vida mengakui bahwa penghasilannya kini mencapai "dua digit per bulan". Angka yang terbilang besar, terlebih ia menjalankan bisnis dari rumah di pedesaan.
Keberaniannya memasuki pasar spesifik membuat produknya cepat dikenal dan diminati. Edukasi kepada konsumen juga menjadi bagian penting dalam strategi bisnisnya.
Vida mengaku hampir tidak pernah mengambil hari libur. Baginya, konsistensi adalah fondasi utama. "Kalau saya berhenti sehari saja, rasanya ada yang kurang," ucapnya sambil tertawa.
Lahir dan dibesarkan di lingkungan pedesaan yang dikelilingi persawahan, Vida menghabiskan masa kecilnya tanpa ekspektasi besar. Tidak ada yang menyangka bahwa suatu hari ia akan membangun bisnis sendiri dan mempekerjakan karyawan. "Hidup saya dulu mengalir seperti anak desa pada umumnya," katanya.
Vida melanjutkan pendidikan di SMK jurusan Farmasi. Ia memilih jurusan tersebut bukan karena ambisi tertentu, melainkan karena dianggap pilihan aman. Selepas lulus, ia bekerja sebagai karyawan di beberapa tempat. Meski belum terpikir menjadi pengusaha, pengalaman itu kelak menjadi modal mental yang penting.
Perubahan besar terjadi saat pandemi melanda. Ketika banyak sektor runtuh, Vida justru melihat peluang dari maraknya bisnis online. Ia mulai menjadi konten kreator dan affiliator untuk produk orang lain. Dari sinilah ia belajar ritme penjualan digital dan strategi komunikasi.
Pengalamannya sebagai promotor produk orang lain membuka matanya: ia bisa membangun sesuatu sendiri.
Berbekal pengetahuan dasar farmasi, Vida memberanikan diri memulai bisnis feminine care dengan brand Ammazmore. Ia memulai dengan modal kecil dan pengalaman terbatas. Namun tekad dan konsistensi menjadi kunci utama.
Setiap hari ia melakukan siaran langsung di media sosial untuk memperkenalkan produk, menjelaskan manfaat, dan membangun kepercayaan konsumen. Ia juga melengkapi produknya dengan legalitas dari BPOM. "Saya tidak mau menjual produk yang meragukan. Legalitas itu wajib," tegasnya.
Perlahan, usahanya berkembang. Vida kini memiliki kantor operasional sendiri yang digunakan untuk penyimpanan produk, ruang live streaming, hingga pusat pengiriman. Ia juga mempekerjakan lebih dari empat karyawan tetap yang ia sebut sebagai "partner perjalanan".
Meski enggan memamerkan pendapatan, Vida mengakui bahwa penghasilannya kini mencapai "dua digit per bulan". Angka yang terbilang besar, terlebih ia menjalankan bisnis dari rumah di pedesaan.
Keberaniannya memasuki pasar spesifik membuat produknya cepat dikenal dan diminati. Edukasi kepada konsumen juga menjadi bagian penting dalam strategi bisnisnya.
Vida mengaku hampir tidak pernah mengambil hari libur. Baginya, konsistensi adalah fondasi utama. "Kalau saya berhenti sehari saja, rasanya ada yang kurang," ucapnya sambil tertawa.
(abd)
Lihat Juga :