Ikuti Ngaji Budaya di Yogyakarta, Mahasiswa: Rawat Keterhubungan Seni dan Keagamaan
Minggu, 16 November 2025 - 21:45 WIB
loading...
Ngaji Budaya yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dipadati ribuan peserta. Foto/istimewa
A
A
A
YOGYAKARTA - Ngaji Budaya yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dipadati ribuan peserta. Mereka terdiri dari mahasiswa, penyuluh agama, anggota majelis taklim, dan masyarakat umum tampak antusias mengikuti acara.
Kasubdit Seni Budaya dan Siaran Keagamaan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Wida Sukmawati mengatakan, Ngaji Budaya di Yogyakarta menjadi salah satu rangkaian program yang dirancang untuk mendekatkan generasi muda pada ruang dialog agama dan budaya.
"Kami melihat bagaimana pendekatan budaya mampu membuka pintu diskusi yang lebih luas. Lebih dari seribu peserta yang hadir menjadi bukti bahwa anak-anak muda membutuhkan ruang keagamaan yang ekspresif, humanis, dan dekat dengan realitas keseharian mereka,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Baca juga: Gelar Ngaji Budaya di UIN Walisongo, Kemenag Ajak Anak Muda Cintai Seni dan Agama
Menurut Wida menyampaikan mayoritas peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Tingginya kehadiran tersebut menjadi indikator bahwa generasi muda menaruh minat besar pada ruang edukasi yang menggabungkan agama dan budaya tanpa menciptakan sekat yang kaku.
Wida menambahkan, penyelenggaraan Ngaji Budaya berangkat dari kebutuhan menghadirkan pendekatan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman. Generasi muda, kini lebih responsif terhadap media ekspresif seperti seni dan musik.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas kebangsaan, merawat keragaman, serta menghindarkan masyarakat dari pola pikir ekstrem.
Baca juga: Nasaruddin Umar: Ngaji Budaya Muharam, Upaya Menajamkan Hati melalui Seni
Bagi banyak peserta, Ngaji Budaya bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi pengalaman yang memberi perspektif baru. Muhammad Robby, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, mengaku mendapatkan wawasan yang memperkaya cara pandangnya.
“Ngaji Budaya memberi wawasan kepada saya bahwa doa, seni, dan tradisi bisa berjalan bersama. Saya pulang bukan hanya dengan ilmu baru, tetapi juga semangat untuk melestarikan budaya lokal dalam dakwah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nur Husna, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Husna menilai Ngaji Budaya menjadi ruang penting untuk merawat keterhubungan antara seni dan keagamaan.
“Acara seperti ini penting. Kita belajar menjaga warisan budaya sambil berdialog soal agama tanpa menghakimi. Ini ruang yang membuat kita merasa aman untuk belajar dan berdiskusi,” tuturnya.
Kasubdit Seni Budaya dan Siaran Keagamaan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Wida Sukmawati mengatakan, Ngaji Budaya di Yogyakarta menjadi salah satu rangkaian program yang dirancang untuk mendekatkan generasi muda pada ruang dialog agama dan budaya.
"Kami melihat bagaimana pendekatan budaya mampu membuka pintu diskusi yang lebih luas. Lebih dari seribu peserta yang hadir menjadi bukti bahwa anak-anak muda membutuhkan ruang keagamaan yang ekspresif, humanis, dan dekat dengan realitas keseharian mereka,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Baca juga: Gelar Ngaji Budaya di UIN Walisongo, Kemenag Ajak Anak Muda Cintai Seni dan Agama
Menurut Wida menyampaikan mayoritas peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Tingginya kehadiran tersebut menjadi indikator bahwa generasi muda menaruh minat besar pada ruang edukasi yang menggabungkan agama dan budaya tanpa menciptakan sekat yang kaku.
Wida menambahkan, penyelenggaraan Ngaji Budaya berangkat dari kebutuhan menghadirkan pendekatan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman. Generasi muda, kini lebih responsif terhadap media ekspresif seperti seni dan musik.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas kebangsaan, merawat keragaman, serta menghindarkan masyarakat dari pola pikir ekstrem.
Baca juga: Nasaruddin Umar: Ngaji Budaya Muharam, Upaya Menajamkan Hati melalui Seni
Bagi banyak peserta, Ngaji Budaya bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi pengalaman yang memberi perspektif baru. Muhammad Robby, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, mengaku mendapatkan wawasan yang memperkaya cara pandangnya.
“Ngaji Budaya memberi wawasan kepada saya bahwa doa, seni, dan tradisi bisa berjalan bersama. Saya pulang bukan hanya dengan ilmu baru, tetapi juga semangat untuk melestarikan budaya lokal dalam dakwah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nur Husna, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Husna menilai Ngaji Budaya menjadi ruang penting untuk merawat keterhubungan antara seni dan keagamaan.
“Acara seperti ini penting. Kita belajar menjaga warisan budaya sambil berdialog soal agama tanpa menghakimi. Ini ruang yang membuat kita merasa aman untuk belajar dan berdiskusi,” tuturnya.
(cip)
Lihat Juga :