Tito Karnavian Merasa Diberi Tugas Ikut Merawat Sejarah dan Peradaban Aceh
Rabu, 12 November 2025 - 15:35 WIB
loading...
Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haythar secara simbolis menganugerahkan gelar kehormatan adat Aceh Petua Panglima Hukom Nanggroe kepada Tito Karnavian. Foto/Istimewa
A
A
A
ACEH - Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haythar secara simbolis menganugerahkan gelar kehormatan adat Aceh "Petua Panglima Hukom Nanggroe" kepada Tito Karnavian . Pemberian gelar tesebut diberikan Tito atas pengabdian sebagai Menteri Dalam Negeri sekaligus mantan Kapolri.
Tito dianggap telah menjaga stabilitas dan muruah Aceh sebagai daerah berkeistimewaan bersyariat Islam selama memimpin dua institusi tersebut. "Selama kepemimpinan sebagai Kapolri, beliau telah menunjukkan keteladanan dan kebijaksanaan, serta komitmen kuat dalam menegakkan hukum dam menjaga persaudaraan antaranak bangsa," katanya, Rabu (12/11/2025).
Selain itu, Tito juga dianggap berperan nyata menjaga keutuhan dan kedamaian Aceh serta memastikan semangat MoU Helsinki menjadi dasar pembangunan yang adil dan damai di Tanah Rencong. Malik Mahmud menjelaskan anugerah Gelar "Petua Panglima Hukom Nanggroe" memiliki makna luhur penasihat agung dalam bidang hukum dan keadilan bagi negeri.
Baca juga: Mendagri Sebut Satu Daerah Sangat Menentukan Keberhasilan Indonesia
Gelar itu merupakan simbol penghormatan kepada individu yang memilki integritas terhadap kemanusiaan. "Dengan penganugerahan ini rakyat Aceh menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam atas jasa dan pengabdian beliau bagi bangsa dan bagi Aceh secara khusus," kata Malik Mahmud.
Malik Mahmud berharap anugerah ini bisa menjadi bentuk lambang persaudaraan, untuk komitmen bersama menjaga persatuan antaranak bangsa yang diberkati Tuhan. "Atas nama rakyat Aceh, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi- tingginya dan ucapan yang tulus pada Prof. Dr. Jenderal (Purn) H. Muhammad Tito Karnavian. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi langkah- langkah beliau terhadap bangsa dan negara,"katanya.
Dalam kesempatan yang sama Tito menyampaikan terima kasihnya atas anugerah gelar yang diberikan lembaga Wali Nanggroe. Dia merasa bangga, karena lembaga Wali Nanggroe merupakan lembaga kebudayaan yang kredibel dan simpul pemersatu Aceh.
"Saya bahagia menerima penghormatan dari lembaga yang kredibel seperti Wali Nanggroe. Lembaga simpul pemersatu Aceh, yang diberi tugas merawat sejarah dan peradaban Aceh seperti lembaga-lembaga adat yang lain," kata Tito.
Tito mengaku tidak pernah membayangkan pada akhirnya diberi penghargaan dari Wali Nanggroe. Sebab, sejak lama, dia telah mengagumi adat dan identitas masyarakat Aceh, yang bersifat terbuka, namun tetap merawat nilai-nilai luhur dalam sendi masyarakat Aceh. Oleh karena itu, sudah seharusnya lembaga Wali Nanggroe diberi dukungan dari segi eksistensi dan anggaran.
"Lembaga ini harus diakui, karena Aceh punya adat, budaya, serta memberikan identitas kepada masyarakat Aceh. Jadi memperkuat Wali Nanggroe sangat penting. Sebagai Mendagri saya berkomitmen akan memperkuat Wali Nanggroe ini dari sisi organisasi, eksistensi dan anggaran," kata Tito.
Dia juga meminta masyarakat Aceh berperan aktif memanfaatkan lembaga Wali Nanggroe, untuk menjembatani segala program kerakyatan bagi masyarakat Aceh. Sebab, strategi budaya seringkali jauh lebih efektif untuk pembangunan.
"Jadi kita harapkan Wali Nanggroe bukan penghalang pembangunan. Tapi bisa jadi katalis percepatan pembangunan, melalui pendekatan budaya," kata Tito.
Tito tampak mengenakan pakaian adat Aceh lengkap dengan penutup kepala tradisional, Kupiah Meukeuto bersama rombongan tiba di Gedung Putih Wali Nanggroe Aceh sekitar pukul 10.00 WIB. Kapolri era 2016-2019 itu langsung diterima hangat oleh Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haythar, beserta pejabat jajaran Pemerintahan Provinsi Aceh.
Penyerahan gelar kehormatan kepada Tito ditandai dengan penyematan selempang, oleh Malik Mahmud kepada Tito di Pendopo Wali Nanggroe Aceh. Dalam pidatonya, Malik mengungkapkan jika anugerah ini diberikan sebagai bentuk penghargaan setinggi- tingginya atas dedikasi Tito menjaga keamanan nasional, khususnya Aceh.
Tito dianggap berhasil menjaga keamanan nasional, memperkuat perdamaian di Aceh, serta menegakkan nilai-nilai keadilan dan kebangsaan, di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tito dianggap telah menjaga stabilitas dan muruah Aceh sebagai daerah berkeistimewaan bersyariat Islam selama memimpin dua institusi tersebut. "Selama kepemimpinan sebagai Kapolri, beliau telah menunjukkan keteladanan dan kebijaksanaan, serta komitmen kuat dalam menegakkan hukum dam menjaga persaudaraan antaranak bangsa," katanya, Rabu (12/11/2025).
Selain itu, Tito juga dianggap berperan nyata menjaga keutuhan dan kedamaian Aceh serta memastikan semangat MoU Helsinki menjadi dasar pembangunan yang adil dan damai di Tanah Rencong. Malik Mahmud menjelaskan anugerah Gelar "Petua Panglima Hukom Nanggroe" memiliki makna luhur penasihat agung dalam bidang hukum dan keadilan bagi negeri.
Baca juga: Mendagri Sebut Satu Daerah Sangat Menentukan Keberhasilan Indonesia
Gelar itu merupakan simbol penghormatan kepada individu yang memilki integritas terhadap kemanusiaan. "Dengan penganugerahan ini rakyat Aceh menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam atas jasa dan pengabdian beliau bagi bangsa dan bagi Aceh secara khusus," kata Malik Mahmud.
Malik Mahmud berharap anugerah ini bisa menjadi bentuk lambang persaudaraan, untuk komitmen bersama menjaga persatuan antaranak bangsa yang diberkati Tuhan. "Atas nama rakyat Aceh, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi- tingginya dan ucapan yang tulus pada Prof. Dr. Jenderal (Purn) H. Muhammad Tito Karnavian. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi langkah- langkah beliau terhadap bangsa dan negara,"katanya.
Dalam kesempatan yang sama Tito menyampaikan terima kasihnya atas anugerah gelar yang diberikan lembaga Wali Nanggroe. Dia merasa bangga, karena lembaga Wali Nanggroe merupakan lembaga kebudayaan yang kredibel dan simpul pemersatu Aceh.
"Saya bahagia menerima penghormatan dari lembaga yang kredibel seperti Wali Nanggroe. Lembaga simpul pemersatu Aceh, yang diberi tugas merawat sejarah dan peradaban Aceh seperti lembaga-lembaga adat yang lain," kata Tito.
Tito mengaku tidak pernah membayangkan pada akhirnya diberi penghargaan dari Wali Nanggroe. Sebab, sejak lama, dia telah mengagumi adat dan identitas masyarakat Aceh, yang bersifat terbuka, namun tetap merawat nilai-nilai luhur dalam sendi masyarakat Aceh. Oleh karena itu, sudah seharusnya lembaga Wali Nanggroe diberi dukungan dari segi eksistensi dan anggaran.
"Lembaga ini harus diakui, karena Aceh punya adat, budaya, serta memberikan identitas kepada masyarakat Aceh. Jadi memperkuat Wali Nanggroe sangat penting. Sebagai Mendagri saya berkomitmen akan memperkuat Wali Nanggroe ini dari sisi organisasi, eksistensi dan anggaran," kata Tito.
Dia juga meminta masyarakat Aceh berperan aktif memanfaatkan lembaga Wali Nanggroe, untuk menjembatani segala program kerakyatan bagi masyarakat Aceh. Sebab, strategi budaya seringkali jauh lebih efektif untuk pembangunan.
"Jadi kita harapkan Wali Nanggroe bukan penghalang pembangunan. Tapi bisa jadi katalis percepatan pembangunan, melalui pendekatan budaya," kata Tito.
Tito tampak mengenakan pakaian adat Aceh lengkap dengan penutup kepala tradisional, Kupiah Meukeuto bersama rombongan tiba di Gedung Putih Wali Nanggroe Aceh sekitar pukul 10.00 WIB. Kapolri era 2016-2019 itu langsung diterima hangat oleh Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haythar, beserta pejabat jajaran Pemerintahan Provinsi Aceh.
Penyerahan gelar kehormatan kepada Tito ditandai dengan penyematan selempang, oleh Malik Mahmud kepada Tito di Pendopo Wali Nanggroe Aceh. Dalam pidatonya, Malik mengungkapkan jika anugerah ini diberikan sebagai bentuk penghargaan setinggi- tingginya atas dedikasi Tito menjaga keamanan nasional, khususnya Aceh.
Tito dianggap berhasil menjaga keamanan nasional, memperkuat perdamaian di Aceh, serta menegakkan nilai-nilai keadilan dan kebangsaan, di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(rca)
Lihat Juga :