Kisah Marsinah, Aktivis Buruh Asal Nganjuk yang Jadi Pahlawan Nasional
Senin, 10 November 2025 - 12:10 WIB
loading...
Marsinah, aktivis buruh yang tewas tragis pada 1993 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, Senin (10/11/2025). Foto/Binti Mufarida
A
A
A
SETELAH 32 tahun berlalu, akhirnya keadilan moral untuk Marsinah datang dari negara. Aktivis buruh yang tewas tragis pada 1993 itu resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto hari ini, Senin (10/11/2025), dalam upacara di Istana Negara.
Momen tersebut membuat ahli waris Marsinah menangis haru, sekaligus menandai pengakuan negara terhadap sosok buruh perempuan yang selama puluhan tahun menjadi simbol perjuangan dan keberanian kelas pekerja melawan ketidakadilan.
Baca juga: Prabowo Umumkan 10 Pahlawan Nasional, Ini Daftar Nama-namanya
Penghargaan ini diberikan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional, melengkapi deretan nama yang berjasa dalam perjuangan kemanusiaan dan hak-hak buruh di Indonesia.
Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia merupakan buruh pabrik arloji di PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, sekaligus aktivis serikat buruh independen. Meski hidup sederhana dan hanya berpendidikan SMA, Marsinah dikenal cerdas, vokal, dan berani menjadi juru bicara rekan-rekannya.
Pada April - Mei 1993, Marsinah memimpin negosiasi ratusan buruh yang menuntut kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari, sesuai imbauan Gubernur Jawa Timur kala itu. Aksi mogok kerja dilakukan pada 3-4 Mei 1993, dan Marsinah hadir sebagai negosiator utama.
Baca juga: Marsinah Jadi Pahlawan Nasional, Fotonya Dicium Berkali-kali Sang Adik
Namun perjuangannya dibalas dengan represi. Pada 5 Mei 1993, setelah ia mendatangi Kodim Sidoarjo untuk mencari rekan-rekannya yang dipaksa mengundurkan diri, Marsinah diculik dan hilang. Empat hari kemudian, 8 Mei 1993, tubuhnya ditemukan di Wilangan, Nganjuk penuh luka penyiksaan.
Pembunuhan ini mengejutkan publik dan menarik perhatian dunia internasional. Banyak pihak meyakini adanya keterlibatan aparat militer, tetapi tidak pernah ada pelaku yang benar-benar diadili. Kasus Marsinah kemudian menyimbolkan gelapnya represi Orde Baru terhadap buruh.
Kasus Marsinah memicu gerakan besar dari aktivis perempuan, organisasi buruh, dan lembaga HAM. Sejak 1993, berbagai kelompok membentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM) melakukan kampanye, investigasi, hingga tekanan publik. Marsinah juga dianugerahi Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama.
Setiap Hari Buruh 1 Mei, namanya selalu dikibarkan sebagai ikon perlawanan terhadap penindasan buruh. Usulan agar Marsinah menjadi Pahlawan Nasional terus bergulir dari tingkat daerah hingga nasional. Hari ini, perjuangan panjang itu mencapai akhirnyanegara mengakui keberanian Marsinah sebagai bagian dari sejarah bangsa.
Di luar gelar resmi, warisan Marsinah terus hidup melalui karya budaya: Film Marsinah, Cry Justice (2001); Lagu “Marsinah” milik band Marjinal; Lagu keroncong ciptaan MasGat; Monumen Pahlawan Buruh Marsinah di Nganjuk; Drama monolog Marsinah Menggugat karya Ratna Sarumpaet.
Selama tiga dekade, Marsinah dipandang sebagai wajah perjuangan buruh perempuan Indonesia yang berani berbicara ketika banyak memilih diam, dan membayar mahal atas keberanian itu.
Dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025, kisah Marsinah tidak lagi menjadi catatan kelam yang luput dari perhatian negara. Tetapi kini tercatat resmi sebagai bagian dari perjuangan bangsa dalam menegakkan kemanusiaan, keadilan, dan hak-hak pekerja. (MG/Nesya Naila Naulia)
Momen tersebut membuat ahli waris Marsinah menangis haru, sekaligus menandai pengakuan negara terhadap sosok buruh perempuan yang selama puluhan tahun menjadi simbol perjuangan dan keberanian kelas pekerja melawan ketidakadilan.
Baca juga: Prabowo Umumkan 10 Pahlawan Nasional, Ini Daftar Nama-namanya
Penghargaan ini diberikan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional, melengkapi deretan nama yang berjasa dalam perjuangan kemanusiaan dan hak-hak buruh di Indonesia.
Buruh Pabrik yang Melawan Demi Keadilan
Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia merupakan buruh pabrik arloji di PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, sekaligus aktivis serikat buruh independen. Meski hidup sederhana dan hanya berpendidikan SMA, Marsinah dikenal cerdas, vokal, dan berani menjadi juru bicara rekan-rekannya.
Pada April - Mei 1993, Marsinah memimpin negosiasi ratusan buruh yang menuntut kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari, sesuai imbauan Gubernur Jawa Timur kala itu. Aksi mogok kerja dilakukan pada 3-4 Mei 1993, dan Marsinah hadir sebagai negosiator utama.
Baca juga: Marsinah Jadi Pahlawan Nasional, Fotonya Dicium Berkali-kali Sang Adik
Namun perjuangannya dibalas dengan represi. Pada 5 Mei 1993, setelah ia mendatangi Kodim Sidoarjo untuk mencari rekan-rekannya yang dipaksa mengundurkan diri, Marsinah diculik dan hilang. Empat hari kemudian, 8 Mei 1993, tubuhnya ditemukan di Wilangan, Nganjuk penuh luka penyiksaan.
Pembunuhan ini mengejutkan publik dan menarik perhatian dunia internasional. Banyak pihak meyakini adanya keterlibatan aparat militer, tetapi tidak pernah ada pelaku yang benar-benar diadili. Kasus Marsinah kemudian menyimbolkan gelapnya represi Orde Baru terhadap buruh.
Simbol Perlawanan Terhadap Penindasan
Kasus Marsinah memicu gerakan besar dari aktivis perempuan, organisasi buruh, dan lembaga HAM. Sejak 1993, berbagai kelompok membentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM) melakukan kampanye, investigasi, hingga tekanan publik. Marsinah juga dianugerahi Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama.
Setiap Hari Buruh 1 Mei, namanya selalu dikibarkan sebagai ikon perlawanan terhadap penindasan buruh. Usulan agar Marsinah menjadi Pahlawan Nasional terus bergulir dari tingkat daerah hingga nasional. Hari ini, perjuangan panjang itu mencapai akhirnyanegara mengakui keberanian Marsinah sebagai bagian dari sejarah bangsa.
Di luar gelar resmi, warisan Marsinah terus hidup melalui karya budaya: Film Marsinah, Cry Justice (2001); Lagu “Marsinah” milik band Marjinal; Lagu keroncong ciptaan MasGat; Monumen Pahlawan Buruh Marsinah di Nganjuk; Drama monolog Marsinah Menggugat karya Ratna Sarumpaet.
Selama tiga dekade, Marsinah dipandang sebagai wajah perjuangan buruh perempuan Indonesia yang berani berbicara ketika banyak memilih diam, dan membayar mahal atas keberanian itu.
Dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025, kisah Marsinah tidak lagi menjadi catatan kelam yang luput dari perhatian negara. Tetapi kini tercatat resmi sebagai bagian dari perjuangan bangsa dalam menegakkan kemanusiaan, keadilan, dan hak-hak pekerja. (MG/Nesya Naila Naulia)
(shf)
Lihat Juga :