Gelar Pengabdian Masyarakat, UI Edukasi Masyarakat Tak Diskriminasi Anak ADHA
Sabtu, 08 November 2025 - 19:00 WIB
loading...
Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (UI) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Yayasan Vina Smart Era Jakarta Barat. Foto/istimewa
A
A
A
DEPOK - Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (UI) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Yayasan Vina Smart Era Jakarta Barat. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap anak HIV/AIDS (ADHA).
Program pengabdian masyarakat bertajuk “Pencegahan Diskriminasi terhadap Anak dalam HIV/AIDS (ADHA)” ini dipimpin Sapto Priyanto, dan Amanah Nurish, dengan dukungan para mahasiswa dari Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB).
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 22 Oktober 2025 ini dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat. Dibuka dengan penampilan penuh makna dari anak-anak dengan HIV/AIDS (ADIV) yang membawakan lagu dan puisi sebagai simbol semangat dan harapan.
Baca juga: Kampus Bukan Perusahaan, UI Diminta Fokus Tingkatkan Akademik
Dalam kegiatan itu, para narasumber menyoroti pentingnya peningkatan pemahaman publik mengenai HIV/AIDS, terutama dalam konteks pencegahan penularan dari orang tua ke anak serta penghapusan stigma sosial terhadap Orang dengan HIV (ODIV) dan Anak dengan HIV (ADIV).
Pendiri Vina Smart Era Ropina Tarigan atau Vina Tarigan menegaskan banyak anak-anak yang positif HIV meninggal karena faktor disikriminasi sosial, akibatnya mereka tidak lagi tertib dalam mengonsumsi obat sehingga lebih banyak yang tak tertolong.
“Banyak anak meninggal bukan karena penyakitnya, melainkan karena diskriminasi sosial, terutama di lingkungan sekolah yang masih menolak anak-anak yang terdeteksi positif HIV, sehingga mereka tidak disiplin lagi dalam mengkonsumsi obat,” kata Vina, Sabtu (8/11/2025).
Baca juga: Kuliah Umum di SPPB UI, Ibas Dorong Kebangsaan Progresif
Ia juga turut membagikan pengalaman perjuangannya dalam mendirikan yayasan Vina Smart Era . Ia mengaku awalnya sempat mendapat penolakan keras dari lingkungan sekitar. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat pun pada akhirnya bisa lebih melek dan mau menerima keadaan dengan memberikan dukungan dalam penanganan anak-anak terpapar HIV.
“Tetapi lambat laun dengan ketulusan dan pendampingan, kini masyarakat mulai berubah. Kebahagiaan terbesar kami adalah ketika anak-anak merasa diterima oleh masyarakat,” ujarnya.
Atas kehadiran dan kepedulian civitas akademika dari Universitas Indonesia tersebut, Vina mengaku bersyukur dan berterima kasih. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Universitas Indonesia atas kepeduliannya terhadap Anak dengan HIV/ AIDS,” ucap Vina.
Dosen pendamping yakni Amanah Nurish juga menyinggung soal tantangan dalam akses layanan kesehatan, seperti kendala birokrasi BPJS Kesehatan dalam pengadaan obat HIV, efek samping obat yang berat, serta kurangnya edukasi bagi tenaga kesehatan seperti bidan terkait pencegahan penularan dari ibu ke anak.
“Kita perlu mengedukasi tidak hanya masyarakat, tetapi juga institusi yang melayani mereka. Diskriminasi di tingkat manapun dapat berdampak fatal bagi tumbuh kembang anak,” ujar Nurish.
Sementara itu, Sapto Priyanto menyampaikan edukasi masyarakat menjadi penting untuk mencapai target pemerintah Triple Zero tahun 2030: Zero Infection, Zero Discrimination, dan Zero Death.
“Melalui kegiatan pengabdian ini, UI berkomitmen menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat, khususnya untuk membangun empati,” ucap Sapto.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi refleksi yang menekankan pentingnya kolaborasi antara universitas, komunitas, dan lembaga pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang bebas diskriminasi serta mendukung hak-hak anak dengan HIV/AIDS.
Program pengabdian masyarakat bertajuk “Pencegahan Diskriminasi terhadap Anak dalam HIV/AIDS (ADHA)” ini dipimpin Sapto Priyanto, dan Amanah Nurish, dengan dukungan para mahasiswa dari Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB).
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 22 Oktober 2025 ini dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat. Dibuka dengan penampilan penuh makna dari anak-anak dengan HIV/AIDS (ADIV) yang membawakan lagu dan puisi sebagai simbol semangat dan harapan.
Baca juga: Kampus Bukan Perusahaan, UI Diminta Fokus Tingkatkan Akademik
Dalam kegiatan itu, para narasumber menyoroti pentingnya peningkatan pemahaman publik mengenai HIV/AIDS, terutama dalam konteks pencegahan penularan dari orang tua ke anak serta penghapusan stigma sosial terhadap Orang dengan HIV (ODIV) dan Anak dengan HIV (ADIV).
Pendiri Vina Smart Era Ropina Tarigan atau Vina Tarigan menegaskan banyak anak-anak yang positif HIV meninggal karena faktor disikriminasi sosial, akibatnya mereka tidak lagi tertib dalam mengonsumsi obat sehingga lebih banyak yang tak tertolong.
“Banyak anak meninggal bukan karena penyakitnya, melainkan karena diskriminasi sosial, terutama di lingkungan sekolah yang masih menolak anak-anak yang terdeteksi positif HIV, sehingga mereka tidak disiplin lagi dalam mengkonsumsi obat,” kata Vina, Sabtu (8/11/2025).
Baca juga: Kuliah Umum di SPPB UI, Ibas Dorong Kebangsaan Progresif
Ia juga turut membagikan pengalaman perjuangannya dalam mendirikan yayasan Vina Smart Era . Ia mengaku awalnya sempat mendapat penolakan keras dari lingkungan sekitar. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat pun pada akhirnya bisa lebih melek dan mau menerima keadaan dengan memberikan dukungan dalam penanganan anak-anak terpapar HIV.
“Tetapi lambat laun dengan ketulusan dan pendampingan, kini masyarakat mulai berubah. Kebahagiaan terbesar kami adalah ketika anak-anak merasa diterima oleh masyarakat,” ujarnya.
Atas kehadiran dan kepedulian civitas akademika dari Universitas Indonesia tersebut, Vina mengaku bersyukur dan berterima kasih. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Universitas Indonesia atas kepeduliannya terhadap Anak dengan HIV/ AIDS,” ucap Vina.
Dosen pendamping yakni Amanah Nurish juga menyinggung soal tantangan dalam akses layanan kesehatan, seperti kendala birokrasi BPJS Kesehatan dalam pengadaan obat HIV, efek samping obat yang berat, serta kurangnya edukasi bagi tenaga kesehatan seperti bidan terkait pencegahan penularan dari ibu ke anak.
“Kita perlu mengedukasi tidak hanya masyarakat, tetapi juga institusi yang melayani mereka. Diskriminasi di tingkat manapun dapat berdampak fatal bagi tumbuh kembang anak,” ujar Nurish.
Sementara itu, Sapto Priyanto menyampaikan edukasi masyarakat menjadi penting untuk mencapai target pemerintah Triple Zero tahun 2030: Zero Infection, Zero Discrimination, dan Zero Death.
“Melalui kegiatan pengabdian ini, UI berkomitmen menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat, khususnya untuk membangun empati,” ucap Sapto.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi refleksi yang menekankan pentingnya kolaborasi antara universitas, komunitas, dan lembaga pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang bebas diskriminasi serta mendukung hak-hak anak dengan HIV/AIDS.
(cip)
Lihat Juga :