Polisi Temukan Bukti Serbuk Diduga Bahan Peledak di SMAN 72 Jakarta
Sabtu, 08 November 2025 - 16:09 WIB
loading...
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memaparkan menyatakan polisi telah menemukan dua alat bukti dalam kasus ledakan di SMAN 72, Kelapa Gading, Jakarta Utara, yakni sebuah catatan serta serbuk yang diduga bahan peledak. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memaparkan sejumlah temuan dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dalam kasus ledakan di SMAN 72, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Listyo mengatakan bahwa penyidik sudah mengantongi setidaknya dua alat bukti yaitu sebuah catatan hingga serbuk yang diduga bahan peledak.
"Ditemukan beberapa bukti pendukung yang tentunya ini sedang kita kumpulkan," kata Listyo Sigit di Rumah Sakit Islam (RSI) Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (8/11/2025).
Baca juga: 20 Korban Ledakan di SMA 72 Kelapa Gading Dibawa ke Rumah Sakit, 1 Pelaku Ditangkap
"Ada tulisan, kemudian ada barang bukti serbuk yang diperkirakan bisa menimbulkan potensi terjadinya ledakan," sambungnya.
Selain itu, Listyo juga membenarkan bahwa terduga pelaku peledakan merupakan siswa di sekolah tersebut. Namun, untuk motif dari perbuatan pelaku, kata Listyo, penyidik masih mendalaminya.
"Terduga pelaku saat ini merupakan salah satu siswa ya di SMA tersebut," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah, menduga kuat pelaku melakukan hal tersebut imbas dari konten negatif di media sosial.
Baca juga: Wamenko Polkam Pastikan Senjata Api di Lokasi Ledakan SMAN 72 Hanya Mainan
"Saya kira ini perlu jadi atensi terutama Komdigi, perlu ada sistem perlindungan yang lebih ketat lagi terhadap konten-konten negatif supaya bisa memberikan perlindungan kepada anak-anak," kata dia.
Margaret lalu menjelaskan upaya penanganan dari KPAI, khususnya kepada korban anak dari insiden tersebut. Ke depan, ia berharap lingkungan pendidikan bisa menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman bagi para siswa.
"Pertama fokus kepada layanan kesehatan kepada anak-anak yang jadi korban luka di semua tempat. Tentu pemulihan ini sifatnya bukan sekadar fisik karena beberapa gangguan pendengaran harus sampe tuntas," ucap dia.
Selain fisik, penaganan trauma dan healing juga menjadi prioritas bagi pihak kepolisian maupun KPAI.
"Tidak hanya bagi anak-anak yang luka tapi anak-anak yang sekolah tentu butuh pendampingan untuk mengatasi trauma. Ini perlu jadi atensi bersama terkait keberadaan kasus di satuan pendidikan," pungkasnya.
"Ditemukan beberapa bukti pendukung yang tentunya ini sedang kita kumpulkan," kata Listyo Sigit di Rumah Sakit Islam (RSI) Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (8/11/2025).
Baca juga: 20 Korban Ledakan di SMA 72 Kelapa Gading Dibawa ke Rumah Sakit, 1 Pelaku Ditangkap
"Ada tulisan, kemudian ada barang bukti serbuk yang diperkirakan bisa menimbulkan potensi terjadinya ledakan," sambungnya.
Selain itu, Listyo juga membenarkan bahwa terduga pelaku peledakan merupakan siswa di sekolah tersebut. Namun, untuk motif dari perbuatan pelaku, kata Listyo, penyidik masih mendalaminya.
"Terduga pelaku saat ini merupakan salah satu siswa ya di SMA tersebut," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah, menduga kuat pelaku melakukan hal tersebut imbas dari konten negatif di media sosial.
Baca juga: Wamenko Polkam Pastikan Senjata Api di Lokasi Ledakan SMAN 72 Hanya Mainan
"Saya kira ini perlu jadi atensi terutama Komdigi, perlu ada sistem perlindungan yang lebih ketat lagi terhadap konten-konten negatif supaya bisa memberikan perlindungan kepada anak-anak," kata dia.
Margaret lalu menjelaskan upaya penanganan dari KPAI, khususnya kepada korban anak dari insiden tersebut. Ke depan, ia berharap lingkungan pendidikan bisa menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman bagi para siswa.
"Pertama fokus kepada layanan kesehatan kepada anak-anak yang jadi korban luka di semua tempat. Tentu pemulihan ini sifatnya bukan sekadar fisik karena beberapa gangguan pendengaran harus sampe tuntas," ucap dia.
Selain fisik, penaganan trauma dan healing juga menjadi prioritas bagi pihak kepolisian maupun KPAI.
"Tidak hanya bagi anak-anak yang luka tapi anak-anak yang sekolah tentu butuh pendampingan untuk mengatasi trauma. Ini perlu jadi atensi bersama terkait keberadaan kasus di satuan pendidikan," pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :