Pramono Perintahkan Kepala Dinas Kesehatan Cek Kabar Warga Baduy Ditolak RS, Ini Hasilnya
Kamis, 06 November 2025 - 16:56 WIB
loading...
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati untuk mengecek kabar warga Baduy Repan ditolak berobat di rumah sakit karena tidak memiliki KTP. Foto/Refi Sandi
A
A
A
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati untuk mengecek kabar warga Baduy Repan ditolak berobat di rumah sakit karena tidak memiliki KTP. Repan merupakan korban begal di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Setelah memerintahkan Kepala Dinkes mengecek, Pramono memastikan tidak ada penolakan dari rumah sakit terhadap Repan. Menurutnya, ada kendala bahasa saat proses komunikasi.
"Jadi, untuk warga Baduy, tidak benar ada penolakan dari rumah sakit. Saya secara khusus sudah memanggil kepala dinas. Mohon maaf, memang komunikasi yang terjadi karena warga Baduy ini, eh, mungkin bahasanya tidak ini sehingga ada hambatan itu," ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Baca juga: Warga Baduy Korban Begal Ditolak Rumah Sakit karena Tak Punya KTP, Pratikno: Kami Lacak Ya
"Tetapi, yang jelas tidak ada sama sekali larangan untuk rumah sakit. Bahkan, Kepala Dinas Kesehatan Bu Ani sendiri, akhirnya turun ke lapangan untuk mengecek itu. Jadi sama sekali itu enggak benar, ya," tambahnya.
Pramono menegaskan semua layanan kesehatan baik milik Pemprov DKI maupun tidak menjadi tanggung jawab pemerintah daerah (pemda). "Ya, mau maupun milik pemprov atau enggak, saya sudah minta sama Bu Ani, udah, semuanya tanggung jawab pemda," ucapnya.
Sebelumnya, seorang warga Baduy Dalam bernama Repan menjadi korban pencurian dengan kekerasan. Korban mengalami kehilangan uang Rp3 juta dan 10 botol madu dagangannya.
Adapun peristiwa yang menimpa Repan itu terjadi di kawasan Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Minggu (26/10) dan sempat viral di media sosial.
Ironisnya, Repan yang menjadi korban justru diduga tak mendapatkan pelayanan oleh salah satu rumah sakit di kawasan tersebut karena tidak memiliki KTP.
Setelah memerintahkan Kepala Dinkes mengecek, Pramono memastikan tidak ada penolakan dari rumah sakit terhadap Repan. Menurutnya, ada kendala bahasa saat proses komunikasi.
"Jadi, untuk warga Baduy, tidak benar ada penolakan dari rumah sakit. Saya secara khusus sudah memanggil kepala dinas. Mohon maaf, memang komunikasi yang terjadi karena warga Baduy ini, eh, mungkin bahasanya tidak ini sehingga ada hambatan itu," ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Baca juga: Warga Baduy Korban Begal Ditolak Rumah Sakit karena Tak Punya KTP, Pratikno: Kami Lacak Ya
"Tetapi, yang jelas tidak ada sama sekali larangan untuk rumah sakit. Bahkan, Kepala Dinas Kesehatan Bu Ani sendiri, akhirnya turun ke lapangan untuk mengecek itu. Jadi sama sekali itu enggak benar, ya," tambahnya.
Pramono menegaskan semua layanan kesehatan baik milik Pemprov DKI maupun tidak menjadi tanggung jawab pemerintah daerah (pemda). "Ya, mau maupun milik pemprov atau enggak, saya sudah minta sama Bu Ani, udah, semuanya tanggung jawab pemda," ucapnya.
Sebelumnya, seorang warga Baduy Dalam bernama Repan menjadi korban pencurian dengan kekerasan. Korban mengalami kehilangan uang Rp3 juta dan 10 botol madu dagangannya.
Adapun peristiwa yang menimpa Repan itu terjadi di kawasan Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Minggu (26/10) dan sempat viral di media sosial.
Ironisnya, Repan yang menjadi korban justru diduga tak mendapatkan pelayanan oleh salah satu rumah sakit di kawasan tersebut karena tidak memiliki KTP.
(rca)
Lihat Juga :