Mencekam! Kisah Pergantian Komandan Brimob Anton Soedjarwo Memicu Pengepungan Mabes Polri
Minggu, 02 November 2025 - 12:40 WIB
loading...
Pada 1968 Kombes Pol Anton Soedjarwo menjabat Komandan Resimen Pelopor Brimob. Diketahui, Anton Soedjarwo juga Kapolri periode 4 Desember 1982-6 Juni 1986. Foto: Dok Buku 40 Tahun ABRI, Mabes ABRI-Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI
A
A
A
PERGANTIANKombes Pol Anton Soedjarwo pada tahun 1968 yang saat itu menjabat Komandan Resimen Pelopor Brimob memicu pengepungan Mabes Polri. Wakil Komandan Resimen Pelopor Brimob AKBP Soetrisno Ilham memimpin langsung pengepungan tersebut.
Perwira polisi itu membawa seluruh anggota Brimob menggunakan truk. Mereka hanya minta satu tuntutan yakni pencabutan Surat Keputusan (SK) penggantian Anton Soedjarwo.
Jika tak dipenuhi, Soetrisno dan pasukannya akan terus mengepung Mabes Polri hingga batas waktu tidak ditentukan. Pergantian Anton Soedjarwo memang menimbulkan kecurigaan.
Baca juga: Kisah Jenderal TNI M Jusuf Selamat dari Berondongan Senjata Pemberontak
Berbagai pihak mencurigai adanya maksud-maksud tertentu yang melatarbelakangi pergantian tersebut. Diceritakan dalam buku Resimen Pelopor (Edisi Revisi), Pasukan Elite Yang Terlupakan, penulis Anton Agus Setyawan dan Andi M Darlis, Januari 2013, setibanya di MabesPolri, Soetrisno langsung memerintahkan pasukannya menutup seluruh akses menuju Mabes Polri.
Dia juga menempatkan penembak jitu atau sniper di beberapa titik strategis kemudian memerintahkan mereka melepaskan tembakan peringatan kepada siapa pun yang keluar dari Mabes Polri, termasuk Kapolri Jenderal Pol Soetjipto Joedodihardjo.
Suasana di Mabes Polri amat mencekam. Beberapa kali pasukan Brimob melepaskan tembakan peringatan ketika ada perwira Polri yang nekat keluar dari kompleks Mabes Polri.
Untuk mencegah konflik yang lebih besar, Mabes Polri akhirnya memenuhi tuntutan tersebut. Terlebih dalam situasi politik yang tidak menentu, konflik antaranggota Polri akan berakibat sangat tidak menguntungkan bagi Korps Bhayangkara.
Buntut pengepungan Pelopor Brimob yakni mundurnya Kapolri Soetjipto. Sementara, bagi personel Resimen Pelopor, peristiwa pengepungan membawa efek yang tidak menguntungkan jika ditimbang secara politis.
Mundurnya Kapolri Soetjipto setelah pengepungan Brimob merupakan akumulasi dari ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Soetjipto sejak paruh kedua tahun 1967. Soetjipto menjabat mulai 9 Mei 1965-15 Mei 1968.
Jika dirunut ternyata konflik di kalangan Jenderal Polri tidak terlepas dari kisruh politik pasca Gerakan 30 September yang memecah TNI dan Polri menjadi dua kubu yakni pro Soekarno dan pro Orde Baru.
Sebenarnya dalam tubuh Polri tidak terjadi gejolak yang berarti. Tekanan justru datang dari pihak luar yang menghendaki Polri dibersihkan dari para pendukung Soekarno.
Dan, salah satu sasaran pembersihan adalah Anton Soedjarwo yang dianggap pendukung Soekarno. Setelah dipulihkan kembali menjadi Komandan Resimen Pelopor Brimob, karier Anton Soedjarwo melesat dengan menyandang Jenderal Polisi bintang 4 dengan jabatan Kapolri periode 4 Desember 1982-6 Juni 1986.
Perwira polisi itu membawa seluruh anggota Brimob menggunakan truk. Mereka hanya minta satu tuntutan yakni pencabutan Surat Keputusan (SK) penggantian Anton Soedjarwo.
Jika tak dipenuhi, Soetrisno dan pasukannya akan terus mengepung Mabes Polri hingga batas waktu tidak ditentukan. Pergantian Anton Soedjarwo memang menimbulkan kecurigaan.
Baca juga: Kisah Jenderal TNI M Jusuf Selamat dari Berondongan Senjata Pemberontak
Berbagai pihak mencurigai adanya maksud-maksud tertentu yang melatarbelakangi pergantian tersebut. Diceritakan dalam buku Resimen Pelopor (Edisi Revisi), Pasukan Elite Yang Terlupakan, penulis Anton Agus Setyawan dan Andi M Darlis, Januari 2013, setibanya di MabesPolri, Soetrisno langsung memerintahkan pasukannya menutup seluruh akses menuju Mabes Polri.
Dia juga menempatkan penembak jitu atau sniper di beberapa titik strategis kemudian memerintahkan mereka melepaskan tembakan peringatan kepada siapa pun yang keluar dari Mabes Polri, termasuk Kapolri Jenderal Pol Soetjipto Joedodihardjo.
Suasana di Mabes Polri amat mencekam. Beberapa kali pasukan Brimob melepaskan tembakan peringatan ketika ada perwira Polri yang nekat keluar dari kompleks Mabes Polri.
Untuk mencegah konflik yang lebih besar, Mabes Polri akhirnya memenuhi tuntutan tersebut. Terlebih dalam situasi politik yang tidak menentu, konflik antaranggota Polri akan berakibat sangat tidak menguntungkan bagi Korps Bhayangkara.
Buntut pengepungan Pelopor Brimob yakni mundurnya Kapolri Soetjipto. Sementara, bagi personel Resimen Pelopor, peristiwa pengepungan membawa efek yang tidak menguntungkan jika ditimbang secara politis.
Mundurnya Kapolri Soetjipto setelah pengepungan Brimob merupakan akumulasi dari ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Soetjipto sejak paruh kedua tahun 1967. Soetjipto menjabat mulai 9 Mei 1965-15 Mei 1968.
Jika dirunut ternyata konflik di kalangan Jenderal Polri tidak terlepas dari kisruh politik pasca Gerakan 30 September yang memecah TNI dan Polri menjadi dua kubu yakni pro Soekarno dan pro Orde Baru.
Sebenarnya dalam tubuh Polri tidak terjadi gejolak yang berarti. Tekanan justru datang dari pihak luar yang menghendaki Polri dibersihkan dari para pendukung Soekarno.
Dan, salah satu sasaran pembersihan adalah Anton Soedjarwo yang dianggap pendukung Soekarno. Setelah dipulihkan kembali menjadi Komandan Resimen Pelopor Brimob, karier Anton Soedjarwo melesat dengan menyandang Jenderal Polisi bintang 4 dengan jabatan Kapolri periode 4 Desember 1982-6 Juni 1986.
(jon)
Lihat Juga :