DPR dan DPD RI Soroti Sidak Gubernur Jabar ke Pabrik Air Mineral di Subang
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 11:16 WIB
loading...
Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono menyoroti langkah Gubernur Jabar Dedi Mulyadi yang melakukan sidak ke pabrik air mineral. Foto/istimewa
A
A
A
SUBANG - Langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) melakukan sidak ke pabrik air mineral di Subang, Jawa Barat mendapat sorotan dari sejumlah kalangan. Salah satunya dari anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono atau yang biasa disapa BHS dan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin.
Dia mengaku lebih percaya para ahli hidrogeologi bahwa sumber air pabrik mineral AQUA berasal dari air pegunungan. Apalagi, itu sudah dibuktikan berdasarkan hasil riset terlebih dulu.
“Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan ITB kan sudah menjelaskan secara rinci bahwa air ini memang air pegunungan. Itu juga dibuktikan berdasarkan hasil riset dengan melibatkan pusat aplikasi teknologi isotop Badan Riset dan Inovasi Nasional, BRIN,” ujarnya, Jumat (31/10/2025).
Menurut dia, produk air mineral yang skalanya sudah internasional pasti tidak main-main dalam menjalankan usahanya dan dipastikan sudah memenuhi semua persyaratan. Di antaranya Izin Pengambilan Air Tanah (SIPA) dari Badan Geologi, izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga dan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) dari Kementerian Perindustrian. “Saya yakin semua persyaratan itu pasti sudah mereka penuhi dan itu melibatkan kementerian dan lembaga,” ucapnya.
Baca juga: Canda Presiden Prabowo ke Dedi Mulyadi: Kalau Brengsek, Saya Usut Kau
Dia menilai KDM sudah melecehkan lembaga negara yang sudah memberikan izin bagi perusahaan tersebut dalam menjalankan usahanya. “Perizinan itu kan banyak melibatkan kementerian dan lembaga-lembaga lain. Itu artinya, KDM telah melecehkan atau menganggap institusi lain itu tidak bekerja dengan baik,” katanya.
Menurut dia, perusahaan air mineral tersebut sudah beritikad baik selama ini dalam membantu ekonomi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Kehadirannya banyak membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Termasuk ke penjual-penjual yang ada di pinggir jalan yang mendapatkan kehidupan dari menjual air minum kemasan itu. “Dari 67 juta UMKM di Indonesia, 70% nya itu jualan air kemasan, Bayangkan berapa ekonomi yang ditumbuhkan,” ungkapnya.
Selain memberikan kontribusi bagi perekonomian di Jawa Barat, perusahaan tersebut juga menyerap tenaga kerja di Jawa Barat. “Seharusnya ini adalah aset yang bagus bagi Jawa Barat. Masak KDM mau mematikan dan menghancurkannya,” tandasnya.
Baca juga: Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari
Dia mengungkap saat ini rakyat Jawa Barat sedang menuntut hak mereka mendapatkan jaringan pipa air minum. Saat ini, jaringan pipa air minum di Jawa Barat baru 25%. Padahal daerah itu memiliki banyak air sungai seperti Sungai Citarum.
“Jadi, sumber air minum yang dari PDAM di Jawa Barat itu seharusnya nyampe 100% ke seluruh masyarakatnya. Tapi, karena ketidakmampuan Pemprov Jawa Barat untuk menyalurkan pipa-pipa air minumnya ke masyarakat akibatnya rakyat Jawa Barat harus minum dari air kemasan. Jadi, tidak boleh disalahkan masyarakatnya,” ungkapnya.
Dia meminta KDM menyelesaikan masalah jaringan pipa air minum ini terlebih dahulu ketimbang mengurusi hal lain. “KDM itu urusi dulu jaringan pipa air minum yang ada di Jawa Barat ke masyarakat, baru urusi yang lain. Karena itu adalah hak rakyat,” cetusnya.
Dia meminta KDM melakukan riset dulu dengan melibatkan lembaga riset yang ada di Pemprov Jabar sebelum mengeluarkan satu statemen yang bisa membahayakan ekonomi di Jawa Barat.
Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, mengatakan memberikan apresiasi kepada kepala daerah yang aktif turun mengawasi semua kegiatan swasta.
“Tapi, saya juga mau sampaikan bahwa nggak usah ramai-ramai, nggak usah gaduh. Pengawasan bagus, efektif, tapi juga tidak perlu digembar-gemborkan sehingga tidak menimbulkan ekses yang kontra produktif terhadap keinginan investasi yang masuk,” katanya.
Seperti diketahui, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuding sumber air yang digunakan pabrik air mineral di Subang bukan berasal dari pegunungan tapi air bor.
“Saya sempat mengira memanfaatkan air mata air pegunungan sebagaimana yang sering digambarkan dalam iklan. Namun kenyataannya berbeda. Artinya di dalam pikiran saya bahwa airnya adalah air mata air. Karena namanya air pegunungan kan? Tapi kenapa dibor,” ujarnya.
Dia mengaku lebih percaya para ahli hidrogeologi bahwa sumber air pabrik mineral AQUA berasal dari air pegunungan. Apalagi, itu sudah dibuktikan berdasarkan hasil riset terlebih dulu.
“Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan ITB kan sudah menjelaskan secara rinci bahwa air ini memang air pegunungan. Itu juga dibuktikan berdasarkan hasil riset dengan melibatkan pusat aplikasi teknologi isotop Badan Riset dan Inovasi Nasional, BRIN,” ujarnya, Jumat (31/10/2025).
Menurut dia, produk air mineral yang skalanya sudah internasional pasti tidak main-main dalam menjalankan usahanya dan dipastikan sudah memenuhi semua persyaratan. Di antaranya Izin Pengambilan Air Tanah (SIPA) dari Badan Geologi, izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga dan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) dari Kementerian Perindustrian. “Saya yakin semua persyaratan itu pasti sudah mereka penuhi dan itu melibatkan kementerian dan lembaga,” ucapnya.
Baca juga: Canda Presiden Prabowo ke Dedi Mulyadi: Kalau Brengsek, Saya Usut Kau
Dia menilai KDM sudah melecehkan lembaga negara yang sudah memberikan izin bagi perusahaan tersebut dalam menjalankan usahanya. “Perizinan itu kan banyak melibatkan kementerian dan lembaga-lembaga lain. Itu artinya, KDM telah melecehkan atau menganggap institusi lain itu tidak bekerja dengan baik,” katanya.
Menurut dia, perusahaan air mineral tersebut sudah beritikad baik selama ini dalam membantu ekonomi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Kehadirannya banyak membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Termasuk ke penjual-penjual yang ada di pinggir jalan yang mendapatkan kehidupan dari menjual air minum kemasan itu. “Dari 67 juta UMKM di Indonesia, 70% nya itu jualan air kemasan, Bayangkan berapa ekonomi yang ditumbuhkan,” ungkapnya.
Selain memberikan kontribusi bagi perekonomian di Jawa Barat, perusahaan tersebut juga menyerap tenaga kerja di Jawa Barat. “Seharusnya ini adalah aset yang bagus bagi Jawa Barat. Masak KDM mau mematikan dan menghancurkannya,” tandasnya.
Baca juga: Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari
Dia mengungkap saat ini rakyat Jawa Barat sedang menuntut hak mereka mendapatkan jaringan pipa air minum. Saat ini, jaringan pipa air minum di Jawa Barat baru 25%. Padahal daerah itu memiliki banyak air sungai seperti Sungai Citarum.
“Jadi, sumber air minum yang dari PDAM di Jawa Barat itu seharusnya nyampe 100% ke seluruh masyarakatnya. Tapi, karena ketidakmampuan Pemprov Jawa Barat untuk menyalurkan pipa-pipa air minumnya ke masyarakat akibatnya rakyat Jawa Barat harus minum dari air kemasan. Jadi, tidak boleh disalahkan masyarakatnya,” ungkapnya.
Dia meminta KDM menyelesaikan masalah jaringan pipa air minum ini terlebih dahulu ketimbang mengurusi hal lain. “KDM itu urusi dulu jaringan pipa air minum yang ada di Jawa Barat ke masyarakat, baru urusi yang lain. Karena itu adalah hak rakyat,” cetusnya.
Dia meminta KDM melakukan riset dulu dengan melibatkan lembaga riset yang ada di Pemprov Jabar sebelum mengeluarkan satu statemen yang bisa membahayakan ekonomi di Jawa Barat.
Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, mengatakan memberikan apresiasi kepada kepala daerah yang aktif turun mengawasi semua kegiatan swasta.
“Tapi, saya juga mau sampaikan bahwa nggak usah ramai-ramai, nggak usah gaduh. Pengawasan bagus, efektif, tapi juga tidak perlu digembar-gemborkan sehingga tidak menimbulkan ekses yang kontra produktif terhadap keinginan investasi yang masuk,” katanya.
Seperti diketahui, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuding sumber air yang digunakan pabrik air mineral di Subang bukan berasal dari pegunungan tapi air bor.
“Saya sempat mengira memanfaatkan air mata air pegunungan sebagaimana yang sering digambarkan dalam iklan. Namun kenyataannya berbeda. Artinya di dalam pikiran saya bahwa airnya adalah air mata air. Karena namanya air pegunungan kan? Tapi kenapa dibor,” ujarnya.
(cip)
Lihat Juga :