Gelar Pengabdian Masyarakat, UAI Berhasil Tingkatkan Produktivitas Petani Cibereum
Kamis, 23 Oktober 2025 - 12:58 WIB
loading...
Produktivitas budidaya hortikultura petani Kampung Cibeureum, Desa Sukanagalih, Cianjur, Jawa Barat berhasil ditingkatkan melalui konservasi tanah dan air. Foto/istimewa
A
A
A
BOGOR - Produktivitas budidaya hortikultura petani Kampung Cibeureum, Desa Sukanagalih, Cianjur, Jawa Barat berhasil ditingkatkan melalui konservasi tanah dan air. Cara itu dinilai efektif dalam mengatasi kelangkaan air pada saat kemarau.
Hal itu menjadi fokus dalam kegiatan pengabdian masyarakat Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI Mereka terdiri atas Yunus Effendi, Liana Mailani, Syafitri Jumianto, Vania Intan Salsabila, Indri Rosemaya Whisnuwardani dan Cut Rizka.
“Konservasi tanah yang dilakukan adalah menggunakan asam humat dan menurunkan dosis pupuk hingga 50%. Konservasi air yang diupayakan adalah membangun sistem irigasi berupa penyediaan air di dalam embung yang terkoneksi dengan kolam,” ujar Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Nita Noriko di Jakarta, Kamis (23/10/2025).
Baca juga: Cerita Prabowo Hapus Utang Petani: 25 Tahun Tak Bisa Bayar, Sulit Dilunasi!
Nita menjelaskan, pembangunan sistem irigasi yang berasal dari 3 embung dan 4 kolam berhasil mengairi 10 hektare lahan pertanian sehingga kelangkaan air ketika musim kemarau dapat ditangani.
“Peningkatan produktivitas hortikultura belum diiringi dengan peningkatan ekonomi petani. Hal ini disebabkan harga penjualan yang tidak dapat dikendalikan oleh petani,” katanya.
Menurut Nita, solusi realistis menghadapi hal ini adalah usaha lain seperti peternakan ikan dan ayam dan pembuatan pupuk mandiri untuk mengurangi biaya pembelian pupuk. Potensi peternakan lain yang dapat dikembangkan adalah bebek manila dan budidaya maggot. Alternatif lain adalah usaha penyediaan pupuk organik yang mengombinasikan sampah pertanian dengan kotoran kambing dan asam humat.
Baca juga: CK Angkat Pertanian Ramah Lingkungan ke Pentas Nasional
“Metode pemberdayaan masyarakat yang diterapkan adalah meningkatkan motivasi berwirausaha dan merintis usaha bidang peternakan serta penyediaan pupuk. Jumlah petani yang diberdayakan adalah 10 orang. Langkah pertama pemberian motivasi untuk menjalankan usaha selain pertanian,” katanya.
Kemudian, petani memilih minat jenis usaha peternakan ikan, ayam, budidaya maggot atau pembuatan pupuk. Langkah selanjutnya, mengarahkan petani untuk menjalankan budidaya ikan yang sebelumnya diberikan edukasi terkait persiapan embung.
Selanjutnya, mengarahkan dua petani untuk menjalankan mini project peternakan ayam kampung dan bebek. Kemudian, mengarahkan dua petani untuk pembuatan pupuk organik spesial. “Mengarahkan petani mempromosikan hasil budidayanya. Dan monitoring dan evaluasi terhadap aktivitas yang sudah dilakukan. Waktu kegiatan yang dibutuhkan selama 8 bulan yaitu dari Maret hingga Oktober 2025.
“Hasil pemberdayaan masyarakat berhasil memberdayakan 2 orang petani bersama keluarganya menambah jumlah ayam yang pada awalnya 5 ekor menjadi 9 ekor, bebek dari 2 ekor menghasilkan 8 butir telur yang siap dijadikan anak bebek. Budi daya maggot berhasil dilaksanakan dengan memproduksi 2.5 kg maggot pada 2 bulan pertama yang dijadikan makanan ayam dan ikan nila,” beber dia.
“Budidaya ikan berhasil dilakukan pada 3 kolam dan menghasilkan ikan dengan ukuran panjang 20 cm dan lebar 10 cm. Petani juga sudah dapat membuat pupuk organik yang prosesnya dapat dipersingkat dari 3 bulan menjadi 28 hari dan dimanfaatkan untuk pertanian,” pungkasnya.
Hal itu menjadi fokus dalam kegiatan pengabdian masyarakat Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI Mereka terdiri atas Yunus Effendi, Liana Mailani, Syafitri Jumianto, Vania Intan Salsabila, Indri Rosemaya Whisnuwardani dan Cut Rizka.
“Konservasi tanah yang dilakukan adalah menggunakan asam humat dan menurunkan dosis pupuk hingga 50%. Konservasi air yang diupayakan adalah membangun sistem irigasi berupa penyediaan air di dalam embung yang terkoneksi dengan kolam,” ujar Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Nita Noriko di Jakarta, Kamis (23/10/2025).
Baca juga: Cerita Prabowo Hapus Utang Petani: 25 Tahun Tak Bisa Bayar, Sulit Dilunasi!
Nita menjelaskan, pembangunan sistem irigasi yang berasal dari 3 embung dan 4 kolam berhasil mengairi 10 hektare lahan pertanian sehingga kelangkaan air ketika musim kemarau dapat ditangani.
“Peningkatan produktivitas hortikultura belum diiringi dengan peningkatan ekonomi petani. Hal ini disebabkan harga penjualan yang tidak dapat dikendalikan oleh petani,” katanya.
Menurut Nita, solusi realistis menghadapi hal ini adalah usaha lain seperti peternakan ikan dan ayam dan pembuatan pupuk mandiri untuk mengurangi biaya pembelian pupuk. Potensi peternakan lain yang dapat dikembangkan adalah bebek manila dan budidaya maggot. Alternatif lain adalah usaha penyediaan pupuk organik yang mengombinasikan sampah pertanian dengan kotoran kambing dan asam humat.
Baca juga: CK Angkat Pertanian Ramah Lingkungan ke Pentas Nasional
“Metode pemberdayaan masyarakat yang diterapkan adalah meningkatkan motivasi berwirausaha dan merintis usaha bidang peternakan serta penyediaan pupuk. Jumlah petani yang diberdayakan adalah 10 orang. Langkah pertama pemberian motivasi untuk menjalankan usaha selain pertanian,” katanya.
Kemudian, petani memilih minat jenis usaha peternakan ikan, ayam, budidaya maggot atau pembuatan pupuk. Langkah selanjutnya, mengarahkan petani untuk menjalankan budidaya ikan yang sebelumnya diberikan edukasi terkait persiapan embung.
Selanjutnya, mengarahkan dua petani untuk menjalankan mini project peternakan ayam kampung dan bebek. Kemudian, mengarahkan dua petani untuk pembuatan pupuk organik spesial. “Mengarahkan petani mempromosikan hasil budidayanya. Dan monitoring dan evaluasi terhadap aktivitas yang sudah dilakukan. Waktu kegiatan yang dibutuhkan selama 8 bulan yaitu dari Maret hingga Oktober 2025.
“Hasil pemberdayaan masyarakat berhasil memberdayakan 2 orang petani bersama keluarganya menambah jumlah ayam yang pada awalnya 5 ekor menjadi 9 ekor, bebek dari 2 ekor menghasilkan 8 butir telur yang siap dijadikan anak bebek. Budi daya maggot berhasil dilaksanakan dengan memproduksi 2.5 kg maggot pada 2 bulan pertama yang dijadikan makanan ayam dan ikan nila,” beber dia.
“Budidaya ikan berhasil dilakukan pada 3 kolam dan menghasilkan ikan dengan ukuran panjang 20 cm dan lebar 10 cm. Petani juga sudah dapat membuat pupuk organik yang prosesnya dapat dipersingkat dari 3 bulan menjadi 28 hari dan dimanfaatkan untuk pertanian,” pungkasnya.
(cip)
Lihat Juga :