Kisah Jenderal TNI George Toisutta, Mantan KSAD yang Rutin Dengarkan Lantunan Surat Yasin
Minggu, 19 Oktober 2025 - 08:29 WIB
loading...
Jenderal TNI (Purn) George Toisutta yang pernah menjabat KSAD pada periode 2009-2011 ternyata memiliki kebiasaan mendengarkan lantunan Surat Yasin. Foto/Ist
A
A
A
JENDERAL TNI (Purn) George Toisutta yang pernah menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) periode 2009-2011 ternyata memiliki kebiasaan mendengarkan lantunan Surat Yasin. Sosok Jenderal asal Makassar, Sulawesi Selatan ini dikenal sebagai sosok prajurit tegas, gigih dan teladan.
George Toisutta yang lahir dari dari keluarga tentara awalnya tak serta-merta ingin meneruskan jejak sebagai prajurit TNI. Saat kecil, perawakan dan fisiknya kala itu tak memungkinkan diterima masuk jadi serdadu. Namun takdir berkata lain. Dia akhirnya mendaftar dan lolos pendidikan Akabri (Akademi Militer). Kariernya bahkan melesat jadi jenderal bintang empat dan menjadi KSAS.
Baca juga: 3 Jenderal TNI Asli Makassar Berkarier Moncer dan Harumkan Sulawesi Selatan
Dinas Sejarah (Disjarah) AD menulis, George kecil tebersit untuk menjadi guru. Ini sesuai keinginan kakeknya yang berharap sang cucu menjadi tenaga pendidik atau setidaknya kiai di kampung halaman. Tapi harapan itu tak pernah jadi kenyataan.
George jadi tentara berawal saat merantau ke Malang, Jawa Timur. Dimulai pada 1971 saat dia lulus dari SMA di Makassar. Lazim di masyarakat sana anggapan ‘jika ingin jadi orang, pergilah ke Jawa’. Orang dalam hal ini diartikan sukses. Mengapa harus merantau? Karena zaman itu kemajuan berpusat di Jawa.
Sekolah bagus dan berbagai fasilitas banyak di Jawa. Tak heran banyak muncul tokoh-tokoh bangsa dari Jawa. "George Toisutta memberanikan diri dengan berniat kuat bahkan tanpa sepengetahuan orang tua nekad pergi ke Jawa. Tujuannya adalah Malang, Jawa Timur,” tulis buku biografi “Jenderal George Toisutta: Sang Kapitan Elake Patiloe Manawa Kabaressi” terbitan Disjarahad 2012 (hal 25), dikutip Minggu (19/10/2025).
Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Letjen Sutiyoso Menyamar Jadi Sopir untuk Tangkap Pimpinan GAM di Pedalaman Aceh
Di Malang, George tinggal di orangtua angkat ayahnya. Di kota itu pula dia memutuskan untuk ikut seleksi masuk Akabri. Berbagai tes dilaluinya dengan lancar. Putra kedua dari pasangan Cristian H Toisutta-Siti Hasanah binti Komaruddin ini pun dinyatakan lulus seleksi.
Sejak itu, tepatnya pada 29 Januari 1973, dia resmi menjadi siswa Taruna dan menjalani pahit manis pendidikan di Lembah Tidar, Magelang. Perawakannya yang tinggi tegap menjadikan George terpilih sebagai pemegang stickmaster drumband Taruna Akabri.
“Ketika Jenderal George Toisutta masih menjadi taruna, beliau sangat menguasai musik, bahkan bila ada anggotanya yang salah siap-siap menerima bendol stickmater beliau,” kata Mayjen TNI Albiker Hutabarat, adik asuh George di Taruna, dalam wawancara dengan tim Disjarahad.
George lulus Akabri pada 1976. Setelah mengikuti pendidikan infanteri Sussarcab pada 1977 berbagai penugasan melekat pada pundaknya. Prajurit kelahiran 1 Juni 1953 ini mula-mula ditunjuk sebagai komandan peleton 1 Kompi Senapan-C Batalyon 741/BS Udayana di Singaraja, Bali.
Selanjutnya kariernya meningkat jadi kepala seksi operasi Yonif 741/BS. Perjalanan waktu melesatkan karier tentara alumnus Seskoad 1992 tersebut. Perwira yang pantang merokok ini dipercaya menjadi Danrindam II/Sriwijaya kala berpangkat kolonel.
Kala itu yang melantiknya yakni Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di masa-masa bertugas di Rindam Sriwijaya inilah banyak cerita menarik. George termasuk sosok yang dekat dengan staf termasuk ajudan maupun pengemudi kendaraan dinas. Dalam perjalanan dinas, dia kerap mengobrol dengan ajudan maupun sopir.
Saat itu, Kolonel Inf George ternyata memiliki kegemaran mendengarkan lantunan Alquran. “Terdapat satu kebiasaan khusus dari perwira kelahiran Makassar tersebut, ia hobi dengan kaset Yassin (Yasin). Bahkan bila ajudannya bisa mengaji, ajudan lah yang biasanya membaca Yassin,” tulis buku biografi George (hal 45).
Sebenarnya tak mengherankan soal kebiasaan itu. Kakenya berasal dari Desa Siri Sori Islam, Saparua. Ia seorang imam masjid di Ambon. Inilah yang mengilhami George untuk memelajari dan memperdalam Islam. Sang kakek itu yang dulu berharap George kelak jadi guru ngaji. Karier lulusan kursus dasar Para pada 1977 tersebut kian mencorong.
George dipromosikan sebagai Kasdivif 1/Kostrad dan menyandang bintang emas di pundak alias Brigjen. Setelah itu Kasgartap 1/Kodam Jaya dan berlanjut ke Kasdam Jaya. Pangkat mayjen dilaluinya dengan menduduki jabatan Pangkoops TNI di Aceh, kemudian Panglima Divisi 1/Kostrad.
George melesat jadi Pangdam XVII/Trikora, setelah itu Pangdam III/Siliwangi. Tiga bintang emas menancap di pundaknya kala dia dipromosikan sebagai Pangkostrad. Ketika Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo memasuki masa pensiun dari KSAD, nama George nyaring terdengar sebagai calon kuat. George pun melesat jadi KSAD.
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memiliki kenangan khusus terhadap juniornya itu. Setelah dilantik jadi KSAD, George mengundang Prabowo ke Markas Besar Angkatan Darat. Yang bikin Prabowo terharu, George yang saat itu didampingi para asistenya bahkan memeluk penuh kehangatan Prabowo.
Di depan para asistennya, Jenderal yang pernah meramaikan bursa ketua umum PSSI itu tak ragu menunjukkan bahwa Prabowo adalah abangnya.
"Saya terharu, walaupun dia sudah mencapai pangkat dan jabatan yang puncak di dalam TNI Angkatan Darat, tapi beliau masih menghormati dan memeluk saya. Beliau angkat saya, dan beliau umumkan ke semua bahwa beliau anggap saya sebagai abangnya. Beliau bercerita, ‘Ini dulu waktu saya dalam kesulitan, Mas Bowo lah yang memperhatikan dan membantu saya,’” ucap Prabowo dalam buku biografinya, Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto (hal 245).
“Saya bangga karena adik saya yang saya banggakan berhasil berprestasi dan mencapai jabatan tertinggi. Mereka-mereka berhasil menyalip saya dalam karier, tapi mereka tidak lupa,” kata mantan Danjen Kopassus ini. Di akhir hayatnya, George Toissuta wafat pada Rabu, 12 Juni 2019 di RSPAD Gator Soebroto, Jakarta Pusat. Jenazahnya dimakamkan di tanah kelahiran, Makassar, Sulawesi Selatan.
George Toisutta yang lahir dari dari keluarga tentara awalnya tak serta-merta ingin meneruskan jejak sebagai prajurit TNI. Saat kecil, perawakan dan fisiknya kala itu tak memungkinkan diterima masuk jadi serdadu. Namun takdir berkata lain. Dia akhirnya mendaftar dan lolos pendidikan Akabri (Akademi Militer). Kariernya bahkan melesat jadi jenderal bintang empat dan menjadi KSAS.
Baca juga: 3 Jenderal TNI Asli Makassar Berkarier Moncer dan Harumkan Sulawesi Selatan
Dinas Sejarah (Disjarah) AD menulis, George kecil tebersit untuk menjadi guru. Ini sesuai keinginan kakeknya yang berharap sang cucu menjadi tenaga pendidik atau setidaknya kiai di kampung halaman. Tapi harapan itu tak pernah jadi kenyataan.
George jadi tentara berawal saat merantau ke Malang, Jawa Timur. Dimulai pada 1971 saat dia lulus dari SMA di Makassar. Lazim di masyarakat sana anggapan ‘jika ingin jadi orang, pergilah ke Jawa’. Orang dalam hal ini diartikan sukses. Mengapa harus merantau? Karena zaman itu kemajuan berpusat di Jawa.
Sekolah bagus dan berbagai fasilitas banyak di Jawa. Tak heran banyak muncul tokoh-tokoh bangsa dari Jawa. "George Toisutta memberanikan diri dengan berniat kuat bahkan tanpa sepengetahuan orang tua nekad pergi ke Jawa. Tujuannya adalah Malang, Jawa Timur,” tulis buku biografi “Jenderal George Toisutta: Sang Kapitan Elake Patiloe Manawa Kabaressi” terbitan Disjarahad 2012 (hal 25), dikutip Minggu (19/10/2025).
Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Letjen Sutiyoso Menyamar Jadi Sopir untuk Tangkap Pimpinan GAM di Pedalaman Aceh
Di Malang, George tinggal di orangtua angkat ayahnya. Di kota itu pula dia memutuskan untuk ikut seleksi masuk Akabri. Berbagai tes dilaluinya dengan lancar. Putra kedua dari pasangan Cristian H Toisutta-Siti Hasanah binti Komaruddin ini pun dinyatakan lulus seleksi.
Sejak itu, tepatnya pada 29 Januari 1973, dia resmi menjadi siswa Taruna dan menjalani pahit manis pendidikan di Lembah Tidar, Magelang. Perawakannya yang tinggi tegap menjadikan George terpilih sebagai pemegang stickmaster drumband Taruna Akabri.
“Ketika Jenderal George Toisutta masih menjadi taruna, beliau sangat menguasai musik, bahkan bila ada anggotanya yang salah siap-siap menerima bendol stickmater beliau,” kata Mayjen TNI Albiker Hutabarat, adik asuh George di Taruna, dalam wawancara dengan tim Disjarahad.
George lulus Akabri pada 1976. Setelah mengikuti pendidikan infanteri Sussarcab pada 1977 berbagai penugasan melekat pada pundaknya. Prajurit kelahiran 1 Juni 1953 ini mula-mula ditunjuk sebagai komandan peleton 1 Kompi Senapan-C Batalyon 741/BS Udayana di Singaraja, Bali.
Selanjutnya kariernya meningkat jadi kepala seksi operasi Yonif 741/BS. Perjalanan waktu melesatkan karier tentara alumnus Seskoad 1992 tersebut. Perwira yang pantang merokok ini dipercaya menjadi Danrindam II/Sriwijaya kala berpangkat kolonel.
Kala itu yang melantiknya yakni Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di masa-masa bertugas di Rindam Sriwijaya inilah banyak cerita menarik. George termasuk sosok yang dekat dengan staf termasuk ajudan maupun pengemudi kendaraan dinas. Dalam perjalanan dinas, dia kerap mengobrol dengan ajudan maupun sopir.
Saat itu, Kolonel Inf George ternyata memiliki kegemaran mendengarkan lantunan Alquran. “Terdapat satu kebiasaan khusus dari perwira kelahiran Makassar tersebut, ia hobi dengan kaset Yassin (Yasin). Bahkan bila ajudannya bisa mengaji, ajudan lah yang biasanya membaca Yassin,” tulis buku biografi George (hal 45).
Sebenarnya tak mengherankan soal kebiasaan itu. Kakenya berasal dari Desa Siri Sori Islam, Saparua. Ia seorang imam masjid di Ambon. Inilah yang mengilhami George untuk memelajari dan memperdalam Islam. Sang kakek itu yang dulu berharap George kelak jadi guru ngaji. Karier lulusan kursus dasar Para pada 1977 tersebut kian mencorong.
George dipromosikan sebagai Kasdivif 1/Kostrad dan menyandang bintang emas di pundak alias Brigjen. Setelah itu Kasgartap 1/Kodam Jaya dan berlanjut ke Kasdam Jaya. Pangkat mayjen dilaluinya dengan menduduki jabatan Pangkoops TNI di Aceh, kemudian Panglima Divisi 1/Kostrad.
George melesat jadi Pangdam XVII/Trikora, setelah itu Pangdam III/Siliwangi. Tiga bintang emas menancap di pundaknya kala dia dipromosikan sebagai Pangkostrad. Ketika Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo memasuki masa pensiun dari KSAD, nama George nyaring terdengar sebagai calon kuat. George pun melesat jadi KSAD.
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memiliki kenangan khusus terhadap juniornya itu. Setelah dilantik jadi KSAD, George mengundang Prabowo ke Markas Besar Angkatan Darat. Yang bikin Prabowo terharu, George yang saat itu didampingi para asistenya bahkan memeluk penuh kehangatan Prabowo.
Di depan para asistennya, Jenderal yang pernah meramaikan bursa ketua umum PSSI itu tak ragu menunjukkan bahwa Prabowo adalah abangnya.
"Saya terharu, walaupun dia sudah mencapai pangkat dan jabatan yang puncak di dalam TNI Angkatan Darat, tapi beliau masih menghormati dan memeluk saya. Beliau angkat saya, dan beliau umumkan ke semua bahwa beliau anggap saya sebagai abangnya. Beliau bercerita, ‘Ini dulu waktu saya dalam kesulitan, Mas Bowo lah yang memperhatikan dan membantu saya,’” ucap Prabowo dalam buku biografinya, Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto (hal 245).
“Saya bangga karena adik saya yang saya banggakan berhasil berprestasi dan mencapai jabatan tertinggi. Mereka-mereka berhasil menyalip saya dalam karier, tapi mereka tidak lupa,” kata mantan Danjen Kopassus ini. Di akhir hayatnya, George Toissuta wafat pada Rabu, 12 Juni 2019 di RSPAD Gator Soebroto, Jakarta Pusat. Jenazahnya dimakamkan di tanah kelahiran, Makassar, Sulawesi Selatan.
(shf)
Lihat Juga :