Panas Ekstrem di Jakarta, Pramono Instruksikan Perluas Operasi Modifikasi Cuaca
Jum'at, 17 Oktober 2025 - 08:17 WIB
loading...
Pekerja melindungi tubuh dari terik matahari menggunakan payung saat berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (21/12/2023). Foto/Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Cuaca panas ekstrem melanda Jakarta dan sekitarnya beberapa hari ini. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi serius hal itu dengan mengeluarkan sejumlah instruksi.
Diketahui, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ), suhu udara di Jakarta pada Kamis, 16 Oktober 2025 mencapai 35 derajat Celsius, dengan kisaran suhu harian antara 26 hingga 34 derajat Celsius. Sedangkan pada Selasa, 14 Oktober 2025, suhu tercatat antara 34-37 derajat Celsius di beberapa wilayah, dan kondisi panas ekstrem ini diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025 akibat pengaruh gerak semu matahari dan Monsun Australia.
Untuk merespons kondisi ini, Pramono telah menginstruksikan jajaran terkait untuk melaksanakan langkah-langkah mitigasi guna mengurangi dampak cuaca panas ekstrem terhadap warga.
Baca Juga: Kenapa Cuaca Jakarta dan Sekitarnya Terasa Panas? Ini Penjelasan BMKG
"Pemprov DKI Jakarta serius menangani dampak cuaca panas ekstrem. Bapak Gubernur telah memerintahkan dinas-dinas terkait untuk segera bertindak dengan langkah konkret berbasis data, mulai dari modifikasi cuaca hingga edukasi masyarakat, demi menjaga kenyamanan dan kesehatan warga Jakarta. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadapi tantangan perubahan iklim," kata Staf Khusus (Stafsus) Gubernur Bidang Komunikasi Publik dan Sosial, Chico Hakim saat dikonfirmasi, Jumat (17/10/2025).
Chico menjelaskan sejumlah langkah yang menjadi instruksi gubernur meliputi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melanjutkan dan memperluas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatur distribusi curah hujan dan mengurangi intensitas panas, bekerja sama dengan BMKG untuk pemantauan cuaca ekstrem.
Kemudian Dinas Kesehatan (Dinkes) agar meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan (faskes) untuk menangani kasus terkait panas ekstrem, seperti dehidrasi, heatstroke, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Dinkes juga akan meluncurkan kampanye edukasi masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam puncak panas (pukul 10.00-14.00), memastikan asupan air yang cukup, dan mencari tempat teduh," ucapnya.
Selain itu, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mempercepat program penanaman pohon untuk mengurangi efek urban heat island, memperkuat sistem drainase guna mencegah banjir rob, dan memantau pohon rawan tumbang akibat angin kencang.
"Peningkatan Kapasitas Masyarakat dengan menggandeng komunitas untuk menyebarkan imbauan prioritas pejalan kaki dan pesepeda, serta mempercepat pengembangan kota transit ramah lingkungan guna mengurangi emisi kendaraan yang berkontribusi pada panas ekstrem jangka panjang," jelasnya.
Lebih lanjut, Pemprov DKI Jakarta mengimbau warga untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari BMKG, dan melaporkan kondisi darurat melalui layanan 112. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui JAKI, situs resmi Pemprov DKI Jakarta atau akun media sosial @DKIJakarta.
BMKG memprediksi cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025.
"BMKG memprediksi bahwa cuaca panas ekstrem ini akan mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025, seiring dengan masuknya musim hujan dan meningkatnya tutupan awan," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, Rabu (15/10/2025).
Guswanto menjelaskan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan suhu udara terasa lebih menyengat dari biasanya. Pertama, pergeseran semu matahari ke wilayah selatan Indonesia, yang meningkatkan intensitas radiasi matahari di wilayah Indonesia bagian selatan.
"Minimnya tutupan awan, sehingga sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi tanpa banyak hambatan. Kemudian masa pancaroba, yaitu peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, yang biasanya ditandai dengan suhu udara yang tinggi dan cuaca yang tidak menentu," ujarnya.
Diketahui, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ), suhu udara di Jakarta pada Kamis, 16 Oktober 2025 mencapai 35 derajat Celsius, dengan kisaran suhu harian antara 26 hingga 34 derajat Celsius. Sedangkan pada Selasa, 14 Oktober 2025, suhu tercatat antara 34-37 derajat Celsius di beberapa wilayah, dan kondisi panas ekstrem ini diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025 akibat pengaruh gerak semu matahari dan Monsun Australia.
Untuk merespons kondisi ini, Pramono telah menginstruksikan jajaran terkait untuk melaksanakan langkah-langkah mitigasi guna mengurangi dampak cuaca panas ekstrem terhadap warga.
Baca Juga: Kenapa Cuaca Jakarta dan Sekitarnya Terasa Panas? Ini Penjelasan BMKG
"Pemprov DKI Jakarta serius menangani dampak cuaca panas ekstrem. Bapak Gubernur telah memerintahkan dinas-dinas terkait untuk segera bertindak dengan langkah konkret berbasis data, mulai dari modifikasi cuaca hingga edukasi masyarakat, demi menjaga kenyamanan dan kesehatan warga Jakarta. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadapi tantangan perubahan iklim," kata Staf Khusus (Stafsus) Gubernur Bidang Komunikasi Publik dan Sosial, Chico Hakim saat dikonfirmasi, Jumat (17/10/2025).
Chico menjelaskan sejumlah langkah yang menjadi instruksi gubernur meliputi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melanjutkan dan memperluas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatur distribusi curah hujan dan mengurangi intensitas panas, bekerja sama dengan BMKG untuk pemantauan cuaca ekstrem.
Kemudian Dinas Kesehatan (Dinkes) agar meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan (faskes) untuk menangani kasus terkait panas ekstrem, seperti dehidrasi, heatstroke, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Dinkes juga akan meluncurkan kampanye edukasi masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam puncak panas (pukul 10.00-14.00), memastikan asupan air yang cukup, dan mencari tempat teduh," ucapnya.
Selain itu, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mempercepat program penanaman pohon untuk mengurangi efek urban heat island, memperkuat sistem drainase guna mencegah banjir rob, dan memantau pohon rawan tumbang akibat angin kencang.
"Peningkatan Kapasitas Masyarakat dengan menggandeng komunitas untuk menyebarkan imbauan prioritas pejalan kaki dan pesepeda, serta mempercepat pengembangan kota transit ramah lingkungan guna mengurangi emisi kendaraan yang berkontribusi pada panas ekstrem jangka panjang," jelasnya.
Lebih lanjut, Pemprov DKI Jakarta mengimbau warga untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari BMKG, dan melaporkan kondisi darurat melalui layanan 112. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui JAKI, situs resmi Pemprov DKI Jakarta atau akun media sosial @DKIJakarta.
BMKG memprediksi cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025.
"BMKG memprediksi bahwa cuaca panas ekstrem ini akan mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025, seiring dengan masuknya musim hujan dan meningkatnya tutupan awan," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, Rabu (15/10/2025).
Guswanto menjelaskan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan suhu udara terasa lebih menyengat dari biasanya. Pertama, pergeseran semu matahari ke wilayah selatan Indonesia, yang meningkatkan intensitas radiasi matahari di wilayah Indonesia bagian selatan.
"Minimnya tutupan awan, sehingga sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi tanpa banyak hambatan. Kemudian masa pancaroba, yaitu peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, yang biasanya ditandai dengan suhu udara yang tinggi dan cuaca yang tidak menentu," ujarnya.
(zik)
Lihat Juga :