Candi Jago Malang, Bangunan Era Singasari Jadi Saksi Raja Majapahit Satukan Dua Agama
Sabtu, 27 September 2025 - 07:56 WIB
loading...
Candi Jago Malang menjadi saksi dua kerajaan besar yang menjunjung kerukunan beragama. Foto/SindoNews
A
A
A
SEMARANG - Candi Jago Malang menjadi saksi dua kerajaan besar yang menjunjung kerukunan beragama. Candi ini didirikan sebagai bentuk pendarmaaan kepada Raja Singasari Wisnuwardhana, yang mampu menyatukan dua kubu yang bertikai di Kerajaan Singasari sejak era Ken Arok.
Juru pelihara Candi Jago Malang Imam Pinarko mengungkapkan, Candi Jago merupakan bangunan yang dibangun era Raja Wisnuwardhana bertahta di abad 12. Candi ini dibuat satu masa dengan Candi Kidal yang berada saat ini masuk Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, atau berjarak sekitar kurang lebih 7 kilometer keduanya.
"Candi ini dibuat di abad 12 saat era Raja Wisnuwardhana raja keempat Singasari. Kalau umumnya candi dijadikan tempat ibadah atau sembayang, ini tidak. Jadi agak unik, ini jadi tempat pendarmaaan sama seperti Candi Kidal," ucap Imam Pinarko.
Baca juga: Kisah Kaisar Khubilai Khan Gagal Kuasai Selat Malaka Akibat Singasari Tancapkan Kekuasaan
Dari fungsinya Candi Jago ini disebut memiliki keunikan sama halnya dengan Candi Kidal. Dimana semasa pemerintahan Kerajaan Singasari, candi biasanya kalau tidak difungsikan sebagai tempat ibadah, bisa juga sebagai tempat pendarmaaan. Tapi Candi Jago ini memiliki fungsi keduanya, makanya disebut candi keagungan.
"Ini keunikan era Tumapel, candi untuk pendarmaaan, kedua tempat ibadah, umumnya candi-candi jadi tempat ibadah tempat graha, candi bentar, tugu peringatan, tapi candi Kidal, Candi Saptorenggo (Singosari), dan Jago digunakan pendarmaaan seorang raja," kata dia.
Baca juga: 7 Perwira Tinggi Bareskrim Dimutasi Kapolri pada September 2025, Ini Daftar Namanya
Meski dibangun sejak era Wisnuwardhana, ternyata candi ini tidaklah selesai sepenuhnya. Proses pembangunan dilanjutkan di masa Kertanagara. Tapi semasa Kertanagara sendiri banyaknya peperangan yang terjadi membuat candi ini akhirnya sempat terlupakan. Maka ketika masa Kerajaan Majapahit muncul, di bawah pemerintahan Hayam Wuruk sebagai raja dan Gajah Mada sebagai mahapatihnya, diputuskan diteruskan pembangunannya.
"Era Majapahit Hayam Wuruk dan Gajah Mada senang keliling wilayah leluhur, jadi setiap candi-candi yang belum selesai diselesaikan, di sini diutus sama Hayam Wuruk untuk menyelesaikan candi itu. Yang paling tercatatkan ya Candi Jajago ini, diteruskan pembangunannya tahun 1343, arsiteknya Adityawarman," jelasnya.
Menariknya karena candi ini adalah candi yang diagungkan, dan memang besar. Struktur bangunan asli candi lebih besar dari bangunan saat ini. Sebab dari catatan - catatan sejarah memang candi ini ada tubuh dan atas candi, sementara yang ditemukan saat ini hanyalah bagian kaki candi. Bangunan aslinya diduga runtuh atau bisa terkubur di bawah tanah dan permukiman padat penduduk di sekelilingnya.
"Candi semuanya tiga tingkat. Ini tinggal kakinya, kalau tubuh dan puncaknya ada ya bisa lebih tinggi lagi. Mungkin kalau dulu bisa naik, candi ini diyakini bertumpang - tumpang seperti pura," ujarnya.
Keunikan candi ini juga muncul ketika penemuan struktur bangunan batu bata era Kerajaan Majapahit di sisi selatan candi. Penemuan itu berada di bawah permukaan tanah sedalam dua meter, yang awalnya dikira talud atau saluran pengairan kuno. Hal ini membuktikan bahwa area utama candi sebenarnya lebih luas lagi dan memanjang ke arah barat dan selatan, tapi saat ini terkubur dan sudah jadi permukiman penduduk.
"Ditemukan susunan batu bata terbuat dari Majapahit, di sebelah selatan ditemukan siku yang luar biasa. Bangunan talud, ada fragmen temuan Majapahit menghilangkan kata talud tadi otomatis bangunan, kalau penyangga penahan tidak seperti itu. Ada temuan fragmen Majapahit, jadi bisa lebih lebar lagi," paparnya.
Temuan adanya struktur bangunan era Kerajaan Majapahit itu menguatkan bukti seusai Kakawin Nagarakretagama dan Pararaton, candi ini diteruskan pembuatannya oleh Hayam Wuruk. Apalagi di masa Hayam Wuruk yang berusaha menyatukan aliran agama Hindu dan Buddha, demi persatuan. Makanya candi ini dipengaruhi aliran sinkritisme secara keagamaan.
"Sinkritisme perpaduan dua agama Hindu dan Buddha,, di Jawa Timur biasanya Buddha Hindu, kalau di Jawa Tengah Hindu Buddha, kalau di sini di bawahnya Buddha Hindu-nya di atas, menyatukan dua agama Hindu Buddha, sekarang ibarat NU Muhammadiyah, kalau dulu lebih dikenal Siwa Buddha Tantrayana, itu aliran yang sangat luar biasa yang menguasai di era Tumapel," pungkasnya.
Juru pelihara Candi Jago Malang Imam Pinarko mengungkapkan, Candi Jago merupakan bangunan yang dibangun era Raja Wisnuwardhana bertahta di abad 12. Candi ini dibuat satu masa dengan Candi Kidal yang berada saat ini masuk Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, atau berjarak sekitar kurang lebih 7 kilometer keduanya.
"Candi ini dibuat di abad 12 saat era Raja Wisnuwardhana raja keempat Singasari. Kalau umumnya candi dijadikan tempat ibadah atau sembayang, ini tidak. Jadi agak unik, ini jadi tempat pendarmaaan sama seperti Candi Kidal," ucap Imam Pinarko.
Baca juga: Kisah Kaisar Khubilai Khan Gagal Kuasai Selat Malaka Akibat Singasari Tancapkan Kekuasaan
Dari fungsinya Candi Jago ini disebut memiliki keunikan sama halnya dengan Candi Kidal. Dimana semasa pemerintahan Kerajaan Singasari, candi biasanya kalau tidak difungsikan sebagai tempat ibadah, bisa juga sebagai tempat pendarmaaan. Tapi Candi Jago ini memiliki fungsi keduanya, makanya disebut candi keagungan.
"Ini keunikan era Tumapel, candi untuk pendarmaaan, kedua tempat ibadah, umumnya candi-candi jadi tempat ibadah tempat graha, candi bentar, tugu peringatan, tapi candi Kidal, Candi Saptorenggo (Singosari), dan Jago digunakan pendarmaaan seorang raja," kata dia.
Baca juga: 7 Perwira Tinggi Bareskrim Dimutasi Kapolri pada September 2025, Ini Daftar Namanya
Meski dibangun sejak era Wisnuwardhana, ternyata candi ini tidaklah selesai sepenuhnya. Proses pembangunan dilanjutkan di masa Kertanagara. Tapi semasa Kertanagara sendiri banyaknya peperangan yang terjadi membuat candi ini akhirnya sempat terlupakan. Maka ketika masa Kerajaan Majapahit muncul, di bawah pemerintahan Hayam Wuruk sebagai raja dan Gajah Mada sebagai mahapatihnya, diputuskan diteruskan pembangunannya.
"Era Majapahit Hayam Wuruk dan Gajah Mada senang keliling wilayah leluhur, jadi setiap candi-candi yang belum selesai diselesaikan, di sini diutus sama Hayam Wuruk untuk menyelesaikan candi itu. Yang paling tercatatkan ya Candi Jajago ini, diteruskan pembangunannya tahun 1343, arsiteknya Adityawarman," jelasnya.
Menariknya karena candi ini adalah candi yang diagungkan, dan memang besar. Struktur bangunan asli candi lebih besar dari bangunan saat ini. Sebab dari catatan - catatan sejarah memang candi ini ada tubuh dan atas candi, sementara yang ditemukan saat ini hanyalah bagian kaki candi. Bangunan aslinya diduga runtuh atau bisa terkubur di bawah tanah dan permukiman padat penduduk di sekelilingnya.
"Candi semuanya tiga tingkat. Ini tinggal kakinya, kalau tubuh dan puncaknya ada ya bisa lebih tinggi lagi. Mungkin kalau dulu bisa naik, candi ini diyakini bertumpang - tumpang seperti pura," ujarnya.
Keunikan candi ini juga muncul ketika penemuan struktur bangunan batu bata era Kerajaan Majapahit di sisi selatan candi. Penemuan itu berada di bawah permukaan tanah sedalam dua meter, yang awalnya dikira talud atau saluran pengairan kuno. Hal ini membuktikan bahwa area utama candi sebenarnya lebih luas lagi dan memanjang ke arah barat dan selatan, tapi saat ini terkubur dan sudah jadi permukiman penduduk.
"Ditemukan susunan batu bata terbuat dari Majapahit, di sebelah selatan ditemukan siku yang luar biasa. Bangunan talud, ada fragmen temuan Majapahit menghilangkan kata talud tadi otomatis bangunan, kalau penyangga penahan tidak seperti itu. Ada temuan fragmen Majapahit, jadi bisa lebih lebar lagi," paparnya.
Temuan adanya struktur bangunan era Kerajaan Majapahit itu menguatkan bukti seusai Kakawin Nagarakretagama dan Pararaton, candi ini diteruskan pembuatannya oleh Hayam Wuruk. Apalagi di masa Hayam Wuruk yang berusaha menyatukan aliran agama Hindu dan Buddha, demi persatuan. Makanya candi ini dipengaruhi aliran sinkritisme secara keagamaan.
"Sinkritisme perpaduan dua agama Hindu dan Buddha,, di Jawa Timur biasanya Buddha Hindu, kalau di Jawa Tengah Hindu Buddha, kalau di sini di bawahnya Buddha Hindu-nya di atas, menyatukan dua agama Hindu Buddha, sekarang ibarat NU Muhammadiyah, kalau dulu lebih dikenal Siwa Buddha Tantrayana, itu aliran yang sangat luar biasa yang menguasai di era Tumapel," pungkasnya.
(cip)
Lihat Juga :