30 Warga Binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang Dilatih Kewirausahaan
Jum'at, 26 September 2025 - 15:15 WIB
loading...
Pelatihan kewirausahaan bertajuk Program Perempuan Berdaya 2025. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Sebanyak 30 orang warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang mengikuti pelatihan kewirausahaan bertajuk Program Perempuan Berdaya 2025. Pelatihan tersebut berlangsung selama tiga hari, 23-25 September 2025.
Pelatihan itu digelar Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang bekerja sama dengan Yayasan Indonesia Setara (YIS) dan Second Chance Foundation (SCF). Rangkaian program ini terdiri dari tiga tahapan utama.
Pertama, asesment minat keterampilan. “Peserta akan mengisi formulir asesmen untuk mengidentifikasi minat serta potensi keterampilan yang ingin mereka kembangkan,” kata Founder YIS Sandiaga Uno dalam siaran pers, Jumat (26/9/2025).
Baca juga: Sambangi Lapas Tangerang, Sandiaga Uno Ajak Warga Binaan Perempuan Ciptakan Lapangan Kerja
Selain itu, kick-off program dan offline training, yang menjadi pembuka resmi program sekaligus pelatihan tatap muka dengan metode interaktif dan aplikatif.
Ketiga, refleksi dan penutupan program. Peserta melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, berbagi pengalaman, serta menyusun rencana tindak lanjut pasca program.
Sandi menyampaikan Program Perempuan Berdaya 2025 diselenggarakan dengan tujuan utama untuk mendukung proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial warga binaan perempuan melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi.
Dia menuturkan, pendekatan ini tidak hanya menyentuh aspek keterampilan teknis, tetapi juga pembangunan karakter dan kesiapan mental untuk menghadapi kehidupan pascabinaan, yakni memperoleh pekerjaan, bahkan menciptakan lapangan kerja.
“Lewat pelatihan ini kita berikan harapan dan semangat untuk masa depan yang lebih cerah ketika kembali bermasyarakat. Tidak hanya siap untuk kerja tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan.” ungkap Sandi.
Dia menjelaskan, semangat kesetaraan menjadi landasan utama YIS dalam menyelenggarakan program ini. Dirinya berharap para peserta mampu menanamkan semangat kesetaraan dan kemandirian dalam diri, sehingga setelah masa binaan selesai, mereka memiliki kesiapan mental dan keterampilan yang dapat membuka peluang baru.
“YIS dibangun atas nilai kesetaraan, memberikan kesempatan yang setara bagi semua orang, baik dalam pekerjaan, kontribusi, maupun pendidikan. Melalui program ini, kami ingin mewujudkan mimpi tersebut,” kata Sandiaga.
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Second Chance Foundation (SCF) Evy Amir Syamsudin. Dirinya menegaskan komitmen SCF dalam pembinaan dan pemberdayaan warga binaan serta eks warga binaan. SCF percaya setiap individu layak mendapatkan kesempatan kedua untuk membangun hidup yang lebih baik.
"Secara konsisten, SCF menghadirkan program-program yang menjembatani proses rehabilitasi menuju reintegrasi, salah satunya melalui pelatihan keterampilan dan penguatan kapasitas kewirausahaan yang kontekstual dan aplikatif. Langkah ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s)," ujar Amir Evy.
Dalam program bersama YIS, terdapat sejumlah sasaran, di antaranya, membangun pola pikir kewirausahaan yang tangguh, berpikir kreatif, solutif, dan tidak mudah menyerah. Pendekatan ini diharapkan membantu peserta melihat peluang dalam keterbatasan.
Selain itu, pelatihan ini juga meningkatkan keterampilan teknis, seperti membuat produk kuliner, kerajinan tangan, atau jasa sederhana yang sesuai kebutuhan pasar. Para peserta juga dibekali pengetahuan manajemen usaha dasar, termasuk pencatatan keuangan sederhana, penghitungan harga pokok produksi (HPP), serta strategi promosi melalui media digital.
Peserta kemudian didorong untuk menyusun rencana usaha sederhana dan realistis yang dapat dijalankan secara individu maupun kelompok, baik selama masa binaan maupun setelah bebas. “Tak kalah penting, pengembangan kepercayaan diri dan jati diri positif menjadi bagian dari pembelajaran, untuk menghadapi tantangan dan stigma di tengah masyarakat,” jelasnya.
Plh Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang Lidna Komala Dewi menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin. Dia menuturkan, pelatihan semacam ini menjadi bagian penting dalam sistem pemasyarakatan modern yang menekankan proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial.
“Melalui pendekatan pemberdayaan, Lapas berupaya membentuk pribadi warga binaan yang lebih baik. Harapannya, mereka kelak dapat tumbuh, berkontribusi, dan kembali ke masyarakat sebagai individu yang mandiri,” pungkasnya.
Pelatihan itu digelar Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang bekerja sama dengan Yayasan Indonesia Setara (YIS) dan Second Chance Foundation (SCF). Rangkaian program ini terdiri dari tiga tahapan utama.
Pertama, asesment minat keterampilan. “Peserta akan mengisi formulir asesmen untuk mengidentifikasi minat serta potensi keterampilan yang ingin mereka kembangkan,” kata Founder YIS Sandiaga Uno dalam siaran pers, Jumat (26/9/2025).
Baca juga: Sambangi Lapas Tangerang, Sandiaga Uno Ajak Warga Binaan Perempuan Ciptakan Lapangan Kerja
Selain itu, kick-off program dan offline training, yang menjadi pembuka resmi program sekaligus pelatihan tatap muka dengan metode interaktif dan aplikatif.
Ketiga, refleksi dan penutupan program. Peserta melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, berbagi pengalaman, serta menyusun rencana tindak lanjut pasca program.
Sandi menyampaikan Program Perempuan Berdaya 2025 diselenggarakan dengan tujuan utama untuk mendukung proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial warga binaan perempuan melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi.
Dia menuturkan, pendekatan ini tidak hanya menyentuh aspek keterampilan teknis, tetapi juga pembangunan karakter dan kesiapan mental untuk menghadapi kehidupan pascabinaan, yakni memperoleh pekerjaan, bahkan menciptakan lapangan kerja.
“Lewat pelatihan ini kita berikan harapan dan semangat untuk masa depan yang lebih cerah ketika kembali bermasyarakat. Tidak hanya siap untuk kerja tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan.” ungkap Sandi.
Dia menjelaskan, semangat kesetaraan menjadi landasan utama YIS dalam menyelenggarakan program ini. Dirinya berharap para peserta mampu menanamkan semangat kesetaraan dan kemandirian dalam diri, sehingga setelah masa binaan selesai, mereka memiliki kesiapan mental dan keterampilan yang dapat membuka peluang baru.
“YIS dibangun atas nilai kesetaraan, memberikan kesempatan yang setara bagi semua orang, baik dalam pekerjaan, kontribusi, maupun pendidikan. Melalui program ini, kami ingin mewujudkan mimpi tersebut,” kata Sandiaga.
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Second Chance Foundation (SCF) Evy Amir Syamsudin. Dirinya menegaskan komitmen SCF dalam pembinaan dan pemberdayaan warga binaan serta eks warga binaan. SCF percaya setiap individu layak mendapatkan kesempatan kedua untuk membangun hidup yang lebih baik.
"Secara konsisten, SCF menghadirkan program-program yang menjembatani proses rehabilitasi menuju reintegrasi, salah satunya melalui pelatihan keterampilan dan penguatan kapasitas kewirausahaan yang kontekstual dan aplikatif. Langkah ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s)," ujar Amir Evy.
Dalam program bersama YIS, terdapat sejumlah sasaran, di antaranya, membangun pola pikir kewirausahaan yang tangguh, berpikir kreatif, solutif, dan tidak mudah menyerah. Pendekatan ini diharapkan membantu peserta melihat peluang dalam keterbatasan.
Selain itu, pelatihan ini juga meningkatkan keterampilan teknis, seperti membuat produk kuliner, kerajinan tangan, atau jasa sederhana yang sesuai kebutuhan pasar. Para peserta juga dibekali pengetahuan manajemen usaha dasar, termasuk pencatatan keuangan sederhana, penghitungan harga pokok produksi (HPP), serta strategi promosi melalui media digital.
Peserta kemudian didorong untuk menyusun rencana usaha sederhana dan realistis yang dapat dijalankan secara individu maupun kelompok, baik selama masa binaan maupun setelah bebas. “Tak kalah penting, pengembangan kepercayaan diri dan jati diri positif menjadi bagian dari pembelajaran, untuk menghadapi tantangan dan stigma di tengah masyarakat,” jelasnya.
Plh Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang Lidna Komala Dewi menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin. Dia menuturkan, pelatihan semacam ini menjadi bagian penting dalam sistem pemasyarakatan modern yang menekankan proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial.
“Melalui pendekatan pemberdayaan, Lapas berupaya membentuk pribadi warga binaan yang lebih baik. Harapannya, mereka kelak dapat tumbuh, berkontribusi, dan kembali ke masyarakat sebagai individu yang mandiri,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :