2 Kelurahan di Jakarta Deklarasi Kampung Sehat Siaga Obesitas dan Diabetes
Kamis, 25 September 2025 - 10:51 WIB
loading...
Warga kelurahan Kebon Pala, Makasar, Jakarta Timur serta Kelurahan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan mendeklarasikan Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Warga dari dua kelurahan di Jakarta, yakni Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur serta Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan mendeklarasikan Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas. Mereka mendukung untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk dengan tidak mengonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).
"Kesehatan itu penting dan mahal harganya, maka kami kompak untuk mendeklarasikan Kampung Sehat di wilayah kami sebagai wujud komitmen mencegah diabetes dan obesitas," kata Ketua RW 03, Kelurahan Kebon Pala, Agus Hermawan di lokasi deklarasi, Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2025) sore.
Baca juga: Cegah Obesitas, Warga Surakarta Deklarasi Kampung Sehat
Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia yang terus melakukan pendampingan mulai dari komitmen Kampung Tanpa Rokok hingga Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas.
"Kami sangat berterima kasih dengan edukasi yang dilakukan untuk mengajak masyarakat lebih hidup sehat. Kami sangat mendukung segera diterapkannya cukai MBDK," terangnya.
Sementara itu, tenaga kesehatan Puskesmas Jagakarsa, dr Nurul Chairani mengungkapkan, prevalensi kasus diabetes dan obesitas cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya.
"Saya sangat senang hari ini warga di RW 03 dan 06, Kelurahan Cipedak bisa mendekrasikan Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas. Sebagai pembina tentu saya akan terus memberikan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat," bebernya.
Baca juga: 10 Negara dengan Tingkat Obesitas Tertinggi di Dunia, Indonesia Posisi Berapa?
Sementara itu, Ketua FAKTA Indonesia Ari Subagyo menjelaskan, selain di Jakarta, Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas juga sudah dideklarasikan di Bekasi, Bogor, Yogyakarta, dan Solo.
"Meski belakangan, saya berharap semakin banyak kampung di Jakarta yang bisa segera melakukan deklarasi serupa. Saya berharap kampung yang sudah melakukan deklarasi hari ini bisa menjadi role model bagi wilayah lain di Jakarta," ucapnya.
Menurutnya, FAKTA Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) setempat agar gerakan Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas ini bisa semakin masif.
"PKK juga merupakan garda terdepan yang bisa melakukan sosialisasi dan edukasi pentingnya warga menjaga kesehatan. Sebab, kader PKK ada hingga di tingkat RT," bebernya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu segera menerapkan cukai MBDK sebagai langkah preventif memberikan perlindungan kepada watga, khususnya anak-anak dari mengonsumsi MBDK.
"Penerapan cukai MBDK ini penting sebagai salah satu aksi nyata melindungi generasi emas Indonesia 2045 dengan sumber daya manusia yang sehat," pungkas Ari.
Untuk diketahui, sebelum pelaksanaan deklarasi diadakan sesi diskusi yang membahas mengenai dampak mengonsumsi MBDK berlebihan dan perlunya penerapan cukai MBDK.
Diskusi yang dihadiri Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, dr Ten Suyanti ini menghadirkan narasumber dari Komunitas Cuci Darah, Tony Samosir dan mewakili FAKTA Indonesia, Cathrine Rahel Lumbanraja.
Sedangkan penanggap terdiri dari Gunawan Tri Wibowo Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Reza Febriza dari Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi Fiskal; dr. Lusy Levina, Kepala Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI; Risky Kurniawan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI; serta Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan.
"Kesehatan itu penting dan mahal harganya, maka kami kompak untuk mendeklarasikan Kampung Sehat di wilayah kami sebagai wujud komitmen mencegah diabetes dan obesitas," kata Ketua RW 03, Kelurahan Kebon Pala, Agus Hermawan di lokasi deklarasi, Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2025) sore.
Baca juga: Cegah Obesitas, Warga Surakarta Deklarasi Kampung Sehat
Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia yang terus melakukan pendampingan mulai dari komitmen Kampung Tanpa Rokok hingga Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas.
"Kami sangat berterima kasih dengan edukasi yang dilakukan untuk mengajak masyarakat lebih hidup sehat. Kami sangat mendukung segera diterapkannya cukai MBDK," terangnya.
Sementara itu, tenaga kesehatan Puskesmas Jagakarsa, dr Nurul Chairani mengungkapkan, prevalensi kasus diabetes dan obesitas cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya.
"Saya sangat senang hari ini warga di RW 03 dan 06, Kelurahan Cipedak bisa mendekrasikan Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas. Sebagai pembina tentu saya akan terus memberikan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat," bebernya.
Baca juga: 10 Negara dengan Tingkat Obesitas Tertinggi di Dunia, Indonesia Posisi Berapa?
Sementara itu, Ketua FAKTA Indonesia Ari Subagyo menjelaskan, selain di Jakarta, Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas juga sudah dideklarasikan di Bekasi, Bogor, Yogyakarta, dan Solo.
"Meski belakangan, saya berharap semakin banyak kampung di Jakarta yang bisa segera melakukan deklarasi serupa. Saya berharap kampung yang sudah melakukan deklarasi hari ini bisa menjadi role model bagi wilayah lain di Jakarta," ucapnya.
Menurutnya, FAKTA Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) setempat agar gerakan Kampung Sehat Siaga Diabetes dan Obesitas ini bisa semakin masif.
"PKK juga merupakan garda terdepan yang bisa melakukan sosialisasi dan edukasi pentingnya warga menjaga kesehatan. Sebab, kader PKK ada hingga di tingkat RT," bebernya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu segera menerapkan cukai MBDK sebagai langkah preventif memberikan perlindungan kepada watga, khususnya anak-anak dari mengonsumsi MBDK.
"Penerapan cukai MBDK ini penting sebagai salah satu aksi nyata melindungi generasi emas Indonesia 2045 dengan sumber daya manusia yang sehat," pungkas Ari.
Untuk diketahui, sebelum pelaksanaan deklarasi diadakan sesi diskusi yang membahas mengenai dampak mengonsumsi MBDK berlebihan dan perlunya penerapan cukai MBDK.
Diskusi yang dihadiri Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, dr Ten Suyanti ini menghadirkan narasumber dari Komunitas Cuci Darah, Tony Samosir dan mewakili FAKTA Indonesia, Cathrine Rahel Lumbanraja.
Sedangkan penanggap terdiri dari Gunawan Tri Wibowo Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Reza Febriza dari Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi Fiskal; dr. Lusy Levina, Kepala Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI; Risky Kurniawan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI; serta Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan.
(shf)
Lihat Juga :