6 Prajurit TNI Selamatkan Guru dan Warga saat Kerusuhan di Yalimo
Jum'at, 19 September 2025 - 20:49 WIB
loading...
Enam prajurit TNI memilih bertahan di lokasi kerusuhan kawasan Elelim, Yalimo untuk menjaga sekaligus mengamankan sejumlah guru dan warga dari amukan massa. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Kerusuhan yang diduga dipicu isu ujaran kebencian terkait suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) pecah di Yalimo, Papua Pegunungan pada Rabu (17/9/2025) kemarin. Tiga orang dilaporkan tewas dalam tragedi ini, dan belasan lainnya mengalami luka-luka, serta beberapa fasilitas sosial masyarakat hangus dibakar massa.
Dalam peristiwa naas di Desa Elelim, Kabupaten Yalimo ini terdapat kisah heroik penuh keberanian sekaligus kepedulian 6 prajurit TNI yang memilih bertahan di lokasi kerusuhan untuk menjaga sekaligus mengamankan sejumlah guru dan warga dari amukan massa.
Baca juga: Mantan Polisi yang Membelot ke KKB Divonis 8 Tahun Penjara
Menurut keterangan warga setempat, massa yang tidak terkendali sempat mengepung sebuah bangunan tempat guru dan beberapa masyarakat berlindung.
Mereka menghadapi serangan panah beracun dan lemparan bom molotov yang mengakibatkan beberapa orang mengalami luka bakar serta luka tembak panah.
Di tengah ancaman itu, 6 prajurit TNI bersenjata lengkap yang berada di lokasi untuk bahu membahu bersama Polri untuk memulihkan kondusifitas, tidak bertindak represif dan tetap menunjukkan sikap profesional, ketika mencoba masuk dalam bangunan tempat guru dan masyarakat bersembunyi.
Baca juga: Truk Diserang OTK di Yalimo Papua Pegunungan, Satu Orang Tewas
Kepala Distrik Elelim, Lukas Kepno menyampaikan apresiasinya terhadap tindakan prajurit TNI. Menurutnya, tanpa kehadiran aparat, jumlah korban bisa lebih banyak.
“Kami menyaksikan sendiri bagaimana prajurit menjaga kami di tengah situasi yang genting. Mereka tidak membalas serangan dengan kekerasan, justru melindungi guru dan warga agar tetap selamat. Itu adalah tindakan yang sangat manusiawi dan patut dihargai,” kata Lukas kepada wartawan, Kamis (18/9/2025).
Apresiasi mendalam juga disampaikan oleh perwakilan guru SD Negeri Elelim, Maria Matuan yang mengaku sangat ketakutan ketika tempat persembunyiannya diserang oleh massa.
“Kami benar-benar ketakutan saat massa mengepung. Panah-panah berterbangan, kaca jendela pecah karena molotov, dan kami tidak tahu harus bagaimana. Saat itu 6 prajurit TNI datang melindungi kami. Mereka berdiri di depan pintu, menenangkan massa, dan akhirnya membawa kami keluar dengan selamat. Kami merasa benar-benar dijaga,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Kerusuhan di Elelim membuktikan bahwa isu SARA sangat mudah menjadi bahan bakar dalam setiap konflik di Papua. Hal yang patut diapresiasi adalah para prajurit TNI yang saat bertugas melindungi terkepung massa tidak sedikitpun bertindak anarkis kepada masyarakat Papua.
Dalam peristiwa naas di Desa Elelim, Kabupaten Yalimo ini terdapat kisah heroik penuh keberanian sekaligus kepedulian 6 prajurit TNI yang memilih bertahan di lokasi kerusuhan untuk menjaga sekaligus mengamankan sejumlah guru dan warga dari amukan massa.
Baca juga: Mantan Polisi yang Membelot ke KKB Divonis 8 Tahun Penjara
Menurut keterangan warga setempat, massa yang tidak terkendali sempat mengepung sebuah bangunan tempat guru dan beberapa masyarakat berlindung.
Mereka menghadapi serangan panah beracun dan lemparan bom molotov yang mengakibatkan beberapa orang mengalami luka bakar serta luka tembak panah.
Di tengah ancaman itu, 6 prajurit TNI bersenjata lengkap yang berada di lokasi untuk bahu membahu bersama Polri untuk memulihkan kondusifitas, tidak bertindak represif dan tetap menunjukkan sikap profesional, ketika mencoba masuk dalam bangunan tempat guru dan masyarakat bersembunyi.
Baca juga: Truk Diserang OTK di Yalimo Papua Pegunungan, Satu Orang Tewas
Kepala Distrik Elelim, Lukas Kepno menyampaikan apresiasinya terhadap tindakan prajurit TNI. Menurutnya, tanpa kehadiran aparat, jumlah korban bisa lebih banyak.
“Kami menyaksikan sendiri bagaimana prajurit menjaga kami di tengah situasi yang genting. Mereka tidak membalas serangan dengan kekerasan, justru melindungi guru dan warga agar tetap selamat. Itu adalah tindakan yang sangat manusiawi dan patut dihargai,” kata Lukas kepada wartawan, Kamis (18/9/2025).
Apresiasi mendalam juga disampaikan oleh perwakilan guru SD Negeri Elelim, Maria Matuan yang mengaku sangat ketakutan ketika tempat persembunyiannya diserang oleh massa.
“Kami benar-benar ketakutan saat massa mengepung. Panah-panah berterbangan, kaca jendela pecah karena molotov, dan kami tidak tahu harus bagaimana. Saat itu 6 prajurit TNI datang melindungi kami. Mereka berdiri di depan pintu, menenangkan massa, dan akhirnya membawa kami keluar dengan selamat. Kami merasa benar-benar dijaga,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Kerusuhan di Elelim membuktikan bahwa isu SARA sangat mudah menjadi bahan bakar dalam setiap konflik di Papua. Hal yang patut diapresiasi adalah para prajurit TNI yang saat bertugas melindungi terkepung massa tidak sedikitpun bertindak anarkis kepada masyarakat Papua.
(shf)
Lihat Juga :