Kacab Bank Sudah Ditarget Orang Tak Dikenal Sebelum Diculik dan Dibunuh
Rabu, 17 September 2025 - 18:15 WIB
loading...
Polda Metro Jaya menyampaikan hasil penyelidikan terkait kasus penculikan dan pembunuhan kacab bank berinisial MIP (37), Selasa (16/9/2025). Sebanyak 15 tersangka dihadirkan di Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Foto: Riyan Rizki
A
A
A
JAKARTA - Pengacara keluarga korban penculikan dan pembunuhan Kacab Bank berinisial MIP (37) Boyamin Saiman menuturkan seminggu sebelum korban diculik dan dibunuh, korban seolah sudah ditarget orang tak dikenal.
"Korban itu tampak tidak nyaman seminggu sebelumnya, parkir mobil di luar kompleks, padahal nggak pernah itu, terus merokok, pakai herbal. Seumur-umur dia nggak merokok, itu dari sisi korban. Sisi kejadian di lapangan, ada mobil yang memantau rumahnya di Bogor sesuai KTP," ujar Boyamin, Rabu (17/9/2025).
Baca juga: Kasus Pembunuhan Kacab Bank, Polda Metro Jaya: Dana di Rekening Dormant Aman
Ada juga orang tak dikenal mendatangi kantor cabang di Cempaka Putih untuk mengurus ATM, tapi tak membawa identitas diri dan tak memiliki rekening. Anehnya, orang tak dikenal itu juga meminta bertemu kepala cabang meski akhirnya tak berhasil bertemu.
"Jadi, ini tidak random, almarhum juga sudah pernah mendatangi salah satu pelaku (sebelumnya) si C itu untuk memberikan kartu nama saat menawarkan bisnis. Artinya kan sudah disasar," katanya.
Dia mendesak penyidik membuka komunikasi di handphone para pelaku bekerja sama dengan provider guna melacak pembicaraan mereka. Dengan begitu, bakal diketahui perencanaan yang dilakukan para pelaku sejak awal.
"Kejahatan terorganisir itu sudah dapat dipastikan. Kalau pun nurut sudah akan dihilangkan, kalau tidak nurut apalagi. Keluarga menginginkan proses Pasal 340, pengacara pelaku penculikan juga pernah mengatakan yang membuang itu pelaku penculikan dan diserahkan kepada dia dalam keadaan mati. Dalam jumpa pers dikatakan yang membuang bukan penculik dan dalam keadaan lemas, tapi masih bergerak-gerak," jelasnya.
Boyamin menambahkan penculikan korban MIP termasuk dalam bagian pembunuhan, yang mana tak bisa dipisah-pisahkan. Sebab, para pelaku tentu bakal memberikan keterangan untuk mencari selamat sendiri-sendiri agar bisa lepas dari jeratan hukum.
"Kalau tidak ada penculikan mana bisa dibunuh orangnya. Jadi itu satu peristiwa, jangan dipotong-potong ini penculik, ini penganiayaan, ini pemukul, ini mindah ke ini, terus sana lagi. Misalnya yang aktor intelektualnya pasti ngomong, oh saya nggak nyuruh bunuh, hanya dirayu aja kan gitu. Semua pasti akan mencari selamat sendiri," ujarnya.
"Korban itu tampak tidak nyaman seminggu sebelumnya, parkir mobil di luar kompleks, padahal nggak pernah itu, terus merokok, pakai herbal. Seumur-umur dia nggak merokok, itu dari sisi korban. Sisi kejadian di lapangan, ada mobil yang memantau rumahnya di Bogor sesuai KTP," ujar Boyamin, Rabu (17/9/2025).
Baca juga: Kasus Pembunuhan Kacab Bank, Polda Metro Jaya: Dana di Rekening Dormant Aman
Ada juga orang tak dikenal mendatangi kantor cabang di Cempaka Putih untuk mengurus ATM, tapi tak membawa identitas diri dan tak memiliki rekening. Anehnya, orang tak dikenal itu juga meminta bertemu kepala cabang meski akhirnya tak berhasil bertemu.
"Jadi, ini tidak random, almarhum juga sudah pernah mendatangi salah satu pelaku (sebelumnya) si C itu untuk memberikan kartu nama saat menawarkan bisnis. Artinya kan sudah disasar," katanya.
Dia mendesak penyidik membuka komunikasi di handphone para pelaku bekerja sama dengan provider guna melacak pembicaraan mereka. Dengan begitu, bakal diketahui perencanaan yang dilakukan para pelaku sejak awal.
"Kejahatan terorganisir itu sudah dapat dipastikan. Kalau pun nurut sudah akan dihilangkan, kalau tidak nurut apalagi. Keluarga menginginkan proses Pasal 340, pengacara pelaku penculikan juga pernah mengatakan yang membuang itu pelaku penculikan dan diserahkan kepada dia dalam keadaan mati. Dalam jumpa pers dikatakan yang membuang bukan penculik dan dalam keadaan lemas, tapi masih bergerak-gerak," jelasnya.
Boyamin menambahkan penculikan korban MIP termasuk dalam bagian pembunuhan, yang mana tak bisa dipisah-pisahkan. Sebab, para pelaku tentu bakal memberikan keterangan untuk mencari selamat sendiri-sendiri agar bisa lepas dari jeratan hukum.
"Kalau tidak ada penculikan mana bisa dibunuh orangnya. Jadi itu satu peristiwa, jangan dipotong-potong ini penculik, ini penganiayaan, ini pemukul, ini mindah ke ini, terus sana lagi. Misalnya yang aktor intelektualnya pasti ngomong, oh saya nggak nyuruh bunuh, hanya dirayu aja kan gitu. Semua pasti akan mencari selamat sendiri," ujarnya.
(jon)
Lihat Juga :