Anggota DPD RI Filep Apresiasi Sikap Musikus di Pestapora
Senin, 08 September 2025 - 07:13 WIB
loading...
Ketua Komite III DPD RI sekaligus senator Papua Barat Filep Wamafma mengapresiasi sikap musikus Tanah Air yang menarik diri dari panggung Pestapora 2025. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Ketua Komite III DPD RI sekaligus senator Papua Barat Filep Wamafma mengapresiasi sikap musikus Tanah Air yang menarik diri dari panggung Pestapora 2025. Filep menilai tindakan ini menjadi simbol solidaritas dan dukungan atas perjuangan dan gugatan-gugatan rakyat Papua.
βIni adalah kesadaran luar biasa sekaligus bentuk kritik sosial yang sensitif terhadap penderitaan suku Papua. Suku asli Papua utamanya Suku Amungme dan Kamoro masih hidup miskin meski tanah ulayatnya dikeruk," kata Filep, Minggu (7/9/2025).
Baca juga: DPR dan DPD Kritik Perusahaan Tambang di Papua, Serapan Tenaga Kerja Lokal Minim
"Bahkan yang terlihat adalah dampak kerusakan lingkungan, perampasan ruang hidup dan hak-hak masyarakat adat OAP (orang asli Papua) untuk hidup sehat dan sejahtera di atas tanahnya, di atas hasil sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Sungguh miris,β sambungnya.
"Anak-anak kita di wilayah pesisir Mimika masih minim kualitas literasi dan pendidikannya, akses kesehatan pun masih sangat butuh diperhatikan,β tegasnya.
Sebagai pimpinan Komite III DPD RI yang membidangi seni dan budaya, Filep mendukung musisi-musisi Indonesia yang turut menyuarakan ekspresi seni musik, platform media sosial dan dukungan moral maupun finansial untuk masyarakat Papua.
Baca juga: Daftar 5 Perusahaan Tambang di Raja Ampat, Dua di Antaranya Misterius
Pace yang dikenal aktif melakukan advokasi hak masyarakat adat Papua itu lantas menekankan, kritik terbuka ini dapat menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat luas.
Dia menyebut, kritik-kritik masalah kemiskinan, minimnya akses pendidikan dan kesehatan, minimnya keterlibatan tenaga kerja OAP, bahkan keterbatasan akses kehidupan yang layak harus ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret dan segera.
"Advokasi kami di DPD RI selama ini juga telah banyak disampaikan kepada Kejaksaan dan Kementerian terkait mendesak respons kinerja sebagaimana tuntutan masyarakat dan isu-isu nasional lain yang mengemuka hari ini,β ujarnya.
βIni adalah kesadaran luar biasa sekaligus bentuk kritik sosial yang sensitif terhadap penderitaan suku Papua. Suku asli Papua utamanya Suku Amungme dan Kamoro masih hidup miskin meski tanah ulayatnya dikeruk," kata Filep, Minggu (7/9/2025).
Baca juga: DPR dan DPD Kritik Perusahaan Tambang di Papua, Serapan Tenaga Kerja Lokal Minim
"Bahkan yang terlihat adalah dampak kerusakan lingkungan, perampasan ruang hidup dan hak-hak masyarakat adat OAP (orang asli Papua) untuk hidup sehat dan sejahtera di atas tanahnya, di atas hasil sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Sungguh miris,β sambungnya.
"Anak-anak kita di wilayah pesisir Mimika masih minim kualitas literasi dan pendidikannya, akses kesehatan pun masih sangat butuh diperhatikan,β tegasnya.
Sebagai pimpinan Komite III DPD RI yang membidangi seni dan budaya, Filep mendukung musisi-musisi Indonesia yang turut menyuarakan ekspresi seni musik, platform media sosial dan dukungan moral maupun finansial untuk masyarakat Papua.
Baca juga: Daftar 5 Perusahaan Tambang di Raja Ampat, Dua di Antaranya Misterius
Pace yang dikenal aktif melakukan advokasi hak masyarakat adat Papua itu lantas menekankan, kritik terbuka ini dapat menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat luas.
Dia menyebut, kritik-kritik masalah kemiskinan, minimnya akses pendidikan dan kesehatan, minimnya keterlibatan tenaga kerja OAP, bahkan keterbatasan akses kehidupan yang layak harus ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret dan segera.
"Advokasi kami di DPD RI selama ini juga telah banyak disampaikan kepada Kejaksaan dan Kementerian terkait mendesak respons kinerja sebagaimana tuntutan masyarakat dan isu-isu nasional lain yang mengemuka hari ini,β ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :