Sukses Budidaya Sayuran, Petani Milenial di Garut Edukasi Generasi Muda via Konten Digital
Minggu, 07 September 2025 - 19:41 WIB
loading...
Pemuda berusia 20 tahun memilih jalur yang berbeda dari teman-temannya. Obur Bahtiar yang tinggal di Leuwigoong, Kabupaten Garut bertahan di desa demi menjadi petani sayuran. Foto: Ist
A
A
A
GARUT - Pada 2010, pemuda berusia 20 tahun memilih jalur yang berbeda dari teman-temannya. Obur Bahtiar yang tinggal di Leuwigoong, Kabupaten Garut bertahan di desa menjadi petani sayuran seperti yang ditekuni orang tuanya.
Padahal, bagi sebagian besar generasi muda di Indonesia, pertanian bukan lagi pekerjaan utama yang diidamkan. Namun, bagi Obur menjadi petani memiliki daya tarik kuat karena peluang ekonomi yang besar dan tradisi keluarga.
“Alasan utama saya memilih profesi petani karena melihat adanya potensi keuntungan ekonomi yang bisa saya dapatkan. Apalagi dengan dukungan sumber daya alam di wilayah tempat tinggal dan latar belakang keluarga yang juga berasal dari petani,” ujar Obur, Minggu (7/9/2025).
Baca juga: Petani Milenial Bali Sukses Kembangkan Pertanian Organik Smart Farming
Pada awal menjadi petani, dia hanya mengelola lahan sekitar 1.000 M2. Kini, luas lahan tanaman sayurnya telah mencapai 10.000 M2 atau 1 hektare hasil dari kombinasi pembelian hasil panen, sewa tanah dan lahan warisan keluarga. “Waktu itu, saya menanam cabai, tomat, mentimun, dan buncis," ucapnya.
Ambisinya tidak hanya berhenti di situ, dia bermimpi memperluas lahan seluas-luasnya agar panen meningkat, mampu menarik minat anak-anak muda di desanya untuk terjun di pertanian, serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sehingga terjadi regenerasi petani.
Data sensus pertanian terbaru menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan terkait regenerasi petani. Betapa tidak, sektor pertanian saat ini semakin didominasi oleh tenaga kerja lanjut usia.
Generasi X (43–58 tahun) menyumbang 42,4 persen petani, diikuti Baby Boomers (59–77 tahun) sebesar 27,6 persen. Sementara itu, petani milenial (usia 27–42 tahun) hanya sebesar 25,6 persen dan Generasi Z (usia 11–26 tahun) bahkan hampir tidak ada: hanya 2,1 persen. Hal ini memperjelas adanya kesenjangan besar dalam regenerasi.
Kondisi tersebut juga tergambar dari penurunan jumlah unit usaha pertanian sebesar 7,4 persen selama satu dekade terakhir. Jika pada 2013 jumlah unit usaha pertanian masih sekitar 31,7 juta unit, pada tahun 2023 jumlahnya turun menjadi 29,36 juta unit. Penurunan ini sebagian dipengaruhi oleh alih guna lahan sawah menjadi nonpertanian seperti perumahan dan infrastruktur.
Bagi Obur, regenerasi petani bukan sekadar impian. Dorongan dari orang tua didukung benih sayuran berkualitas dan jaringan sesama petani membantunya berhasil dalam menghadapi tantangan teknis dan bisnis. Melalui dukungan-dukungan tersebut, dia membuat strategi untuk beradaptasi dengan perubahan iklim melalui informasi dan teknologi, perluasan jejaring pemasaran, dan pengelolaan keuangan yang bijak.
Garis besar strategi inilah yang mengubah paradigma bahwa pertanian bukan hanya soal warisan, tapi usaha profesional yang menjanjikan.
Obur bahkan bercita-cita mendirikan sekolah lapang pertanian sebagai tempat mewariskan ilmu dan meningkatkan kapasitas petani muda lain. Dia juga aktif mengajak generasi muda melalui konten digital dan edukasi langsung tentang kehidupan di lahan. “Kalau anak-anak saya ingin jadi petani, saya ingin mereka punya pendidikan tinggi dan menjadi agripreneur,” ujarnya.
Tidak hanya di Garut, PT East West Seed Indonesia (Ewindo) sebagai penyedia benih sayuran unggul berkualitas secara berkelanjutan membina petani-petani milenial di berbagai daerah khususnya sentra-sentra pertanian sayuran.
Melalui program Petani Muda Panah Merah telah lahir banyak petani milenial sukses seperti di Lampung yang berhasil budidaya cabai dan Medan, Sumatera Utara dengan komoditas melon. Supaya mimpi regenerasi itu nyata diperlukan sinergi dari para pemangku kepentingan termasuk akses modal, alih teknologi, dan dukungan pasar.
Padahal, bagi sebagian besar generasi muda di Indonesia, pertanian bukan lagi pekerjaan utama yang diidamkan. Namun, bagi Obur menjadi petani memiliki daya tarik kuat karena peluang ekonomi yang besar dan tradisi keluarga.
“Alasan utama saya memilih profesi petani karena melihat adanya potensi keuntungan ekonomi yang bisa saya dapatkan. Apalagi dengan dukungan sumber daya alam di wilayah tempat tinggal dan latar belakang keluarga yang juga berasal dari petani,” ujar Obur, Minggu (7/9/2025).
Baca juga: Petani Milenial Bali Sukses Kembangkan Pertanian Organik Smart Farming
Pada awal menjadi petani, dia hanya mengelola lahan sekitar 1.000 M2. Kini, luas lahan tanaman sayurnya telah mencapai 10.000 M2 atau 1 hektare hasil dari kombinasi pembelian hasil panen, sewa tanah dan lahan warisan keluarga. “Waktu itu, saya menanam cabai, tomat, mentimun, dan buncis," ucapnya.
Ambisinya tidak hanya berhenti di situ, dia bermimpi memperluas lahan seluas-luasnya agar panen meningkat, mampu menarik minat anak-anak muda di desanya untuk terjun di pertanian, serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sehingga terjadi regenerasi petani.
Data sensus pertanian terbaru menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan terkait regenerasi petani. Betapa tidak, sektor pertanian saat ini semakin didominasi oleh tenaga kerja lanjut usia.
Generasi X (43–58 tahun) menyumbang 42,4 persen petani, diikuti Baby Boomers (59–77 tahun) sebesar 27,6 persen. Sementara itu, petani milenial (usia 27–42 tahun) hanya sebesar 25,6 persen dan Generasi Z (usia 11–26 tahun) bahkan hampir tidak ada: hanya 2,1 persen. Hal ini memperjelas adanya kesenjangan besar dalam regenerasi.
Kondisi tersebut juga tergambar dari penurunan jumlah unit usaha pertanian sebesar 7,4 persen selama satu dekade terakhir. Jika pada 2013 jumlah unit usaha pertanian masih sekitar 31,7 juta unit, pada tahun 2023 jumlahnya turun menjadi 29,36 juta unit. Penurunan ini sebagian dipengaruhi oleh alih guna lahan sawah menjadi nonpertanian seperti perumahan dan infrastruktur.
Bagi Obur, regenerasi petani bukan sekadar impian. Dorongan dari orang tua didukung benih sayuran berkualitas dan jaringan sesama petani membantunya berhasil dalam menghadapi tantangan teknis dan bisnis. Melalui dukungan-dukungan tersebut, dia membuat strategi untuk beradaptasi dengan perubahan iklim melalui informasi dan teknologi, perluasan jejaring pemasaran, dan pengelolaan keuangan yang bijak.
Garis besar strategi inilah yang mengubah paradigma bahwa pertanian bukan hanya soal warisan, tapi usaha profesional yang menjanjikan.
Obur bahkan bercita-cita mendirikan sekolah lapang pertanian sebagai tempat mewariskan ilmu dan meningkatkan kapasitas petani muda lain. Dia juga aktif mengajak generasi muda melalui konten digital dan edukasi langsung tentang kehidupan di lahan. “Kalau anak-anak saya ingin jadi petani, saya ingin mereka punya pendidikan tinggi dan menjadi agripreneur,” ujarnya.
Tidak hanya di Garut, PT East West Seed Indonesia (Ewindo) sebagai penyedia benih sayuran unggul berkualitas secara berkelanjutan membina petani-petani milenial di berbagai daerah khususnya sentra-sentra pertanian sayuran.
Melalui program Petani Muda Panah Merah telah lahir banyak petani milenial sukses seperti di Lampung yang berhasil budidaya cabai dan Medan, Sumatera Utara dengan komoditas melon. Supaya mimpi regenerasi itu nyata diperlukan sinergi dari para pemangku kepentingan termasuk akses modal, alih teknologi, dan dukungan pasar.
(jon)
Lihat Juga :