Kekuasaan hingga Semenanjung Melayu Buat Kerajaan Sriwijaya Jadi Poros Perdagangan Internasional
Senin, 01 September 2025 - 06:40 WIB
loading...
Luasnya kekuasaan Kerajaan Sriwijaya hingga semenanjung Melayu membuat kerajaan tersebut menjadi poros perdagangan internasional. Foto/SindoNews
A
A
A
SEMARANG - Kerajaan Sriwijaya dikisahkan pertama dari sebuah catatan perjalanan pedagang Cina I-Tsing. Pada perjalanannya I-Tsing berkelana dari negara Cina tepatnya dari wilayah Kanton ke Palembang, yang dulu merupakan wilayah Kerajaan Sriwijaya pada 671 Masehi atau sekitar Abad ke-6.
Saat itu I-Tsing mengisahkan bagaimana pemerintahan Kerajaan Sriwijaya memiliki kekuatan pasukan yang luar biasa. Bahkan ketika dirinya kembali lagi ke Sriwijaya setelah 24 tahun lamanya kekuatan Sriwijaya disebut kian kokoh.
Pada 775 M, kerajaan ini telah menjadi begitu terkenal sehingga penguasanya disebut "raja yang dipertuan dari Sriwijaya, raja tertinggi di antara semua raja di muka bumi". Bahkan kekuatan Sriwijaya membuat wilayah kekuasaannya sampai mencapai Semenanjung Melayu, tepatnya di Kedah.
Baca juga: Kisah Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Jadi Pusat Pengajaran Agama Buddha
Meski kekuatannya luar biasa tapi Sriwijaya ternyata juga memiliki kompleks beberapa tempat ibadah yang berdekatan dengan Ligor di Semenanjung Melayu. Tentu ini mengindikasikan bahwa Sriwijaya juga berkuasa di wilayah tersebut.
Kerajaan Sriwijaya telah mendirikan beberapa tempat ibadah yang berdekatan dengan Ligor di Semenanjung Melayu. Hal ini telah mendorong para sejarawan berkesimpulan bahwa pada waktu itu Kerajaan Sriwijaya berkuasa di daerah tersebut.
Pesatnya perkembangan Kerajaan Sriwijaya juga ditopang dengan aktivitas perdagangan internasional yang menyasar wilayah tersebut, sebagaimana dikutip dari buku "Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III - VII". Pada zaman pertengahan, Sriwijaya merupakan pusat perdagangan yang sangat terkenal.
Baca juga: Cerita Etnis Tionghoa Pertama Masuk Nusantara di Masa Kerajaan Sriwijaya
Oleh karena itu, wajar bila diyakini terdapat latarbelakang ekonomi di Asia Tenggara dan barangkali juga di tempat lain di Asia, yang selama berabad-abad telah memberi jalan bagi kejayaan Sriwijaya. Deskripsi sumber Kerajaan Sriwijaya diperjelas dengan adanya Prasasti Melayu Kuno yang dianggap penting.
Prasasti itu ditulis pada 682 - 686 M. Dinamika perkembangan di internal Sriwijaya juga terlihat dari beberapa prasasti lainnya seperti Prasasti Telaga Batu yang berisikan sumpah luar biasa dengan meminum air kutukan. Di Prasasti Telaga Batu itu juga digambarkan bagaimana daftar panjang tentang orang-orang yang berpotensi menjadi musuh atau mungkin musuh-musuh raja Sriwijaya yang sebenarnya.
Potensi musuh juga datang dari para pedagang yang dianggap berkhianat. Tapi bagaimana pun meski ada beberapa pihak yang bertolakbelakang dan bermusuhan dengan Sriwijaya, meski ada masalah politik itu tercatat pada prasasti - prasasti yang pada pertengahan abad ke-8, setidaknya Kerajaan Sriwijaya berhasil menjadi sebuah negara besar.
Menariknya ada sumber dari Cina yang juga menggambarkan bagaimana Sriwijaya membagi wilayahnya jadi dua yakni nama Lang-p'o-lu-ssu. Lang-p'olu-ssÅbiasanya dipahami sebagai transkripsi dari "Barus" di sebelah utara Sumatra. Tahun terbentuknya dua kerajaan ini tidak diketahui, tetapi agaknya tidak mungkin sesudah 742 M, tahun terakhir dituliskan bahwa Sriwijaya mengirim utusan ke Cina sebelum permulaan abad ke-10.
Saat itu I-Tsing mengisahkan bagaimana pemerintahan Kerajaan Sriwijaya memiliki kekuatan pasukan yang luar biasa. Bahkan ketika dirinya kembali lagi ke Sriwijaya setelah 24 tahun lamanya kekuatan Sriwijaya disebut kian kokoh.
Pada 775 M, kerajaan ini telah menjadi begitu terkenal sehingga penguasanya disebut "raja yang dipertuan dari Sriwijaya, raja tertinggi di antara semua raja di muka bumi". Bahkan kekuatan Sriwijaya membuat wilayah kekuasaannya sampai mencapai Semenanjung Melayu, tepatnya di Kedah.
Baca juga: Kisah Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Jadi Pusat Pengajaran Agama Buddha
Meski kekuatannya luar biasa tapi Sriwijaya ternyata juga memiliki kompleks beberapa tempat ibadah yang berdekatan dengan Ligor di Semenanjung Melayu. Tentu ini mengindikasikan bahwa Sriwijaya juga berkuasa di wilayah tersebut.
Kerajaan Sriwijaya telah mendirikan beberapa tempat ibadah yang berdekatan dengan Ligor di Semenanjung Melayu. Hal ini telah mendorong para sejarawan berkesimpulan bahwa pada waktu itu Kerajaan Sriwijaya berkuasa di daerah tersebut.
Pesatnya perkembangan Kerajaan Sriwijaya juga ditopang dengan aktivitas perdagangan internasional yang menyasar wilayah tersebut, sebagaimana dikutip dari buku "Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III - VII". Pada zaman pertengahan, Sriwijaya merupakan pusat perdagangan yang sangat terkenal.
Baca juga: Cerita Etnis Tionghoa Pertama Masuk Nusantara di Masa Kerajaan Sriwijaya
Oleh karena itu, wajar bila diyakini terdapat latarbelakang ekonomi di Asia Tenggara dan barangkali juga di tempat lain di Asia, yang selama berabad-abad telah memberi jalan bagi kejayaan Sriwijaya. Deskripsi sumber Kerajaan Sriwijaya diperjelas dengan adanya Prasasti Melayu Kuno yang dianggap penting.
Prasasti itu ditulis pada 682 - 686 M. Dinamika perkembangan di internal Sriwijaya juga terlihat dari beberapa prasasti lainnya seperti Prasasti Telaga Batu yang berisikan sumpah luar biasa dengan meminum air kutukan. Di Prasasti Telaga Batu itu juga digambarkan bagaimana daftar panjang tentang orang-orang yang berpotensi menjadi musuh atau mungkin musuh-musuh raja Sriwijaya yang sebenarnya.
Potensi musuh juga datang dari para pedagang yang dianggap berkhianat. Tapi bagaimana pun meski ada beberapa pihak yang bertolakbelakang dan bermusuhan dengan Sriwijaya, meski ada masalah politik itu tercatat pada prasasti - prasasti yang pada pertengahan abad ke-8, setidaknya Kerajaan Sriwijaya berhasil menjadi sebuah negara besar.
Menariknya ada sumber dari Cina yang juga menggambarkan bagaimana Sriwijaya membagi wilayahnya jadi dua yakni nama Lang-p'o-lu-ssu. Lang-p'olu-ssÅbiasanya dipahami sebagai transkripsi dari "Barus" di sebelah utara Sumatra. Tahun terbentuknya dua kerajaan ini tidak diketahui, tetapi agaknya tidak mungkin sesudah 742 M, tahun terakhir dituliskan bahwa Sriwijaya mengirim utusan ke Cina sebelum permulaan abad ke-10.
(cip)
Lihat Juga :