Jejak Airlangga pada Pendirian Kerajaan Jenggala dan Kediri
Senin, 25 Agustus 2025 - 07:53 WIB
loading...
Patung Raja Airlangga yang didewakan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda berada di Museum Trowulan, Jawa Timur. Foto/Ist
A
A
A
Kerajaan Kahuripan dan Kediri memiliki keterkaitan dari sosok Airlangga. Sosok Airlangga memang menjadi raja besar di Pulau Jawa, ia merupakan trah keturunan dari Mataram era Jawa Timur dan memiliki hubungan dengan Kerajaan Udayana, yang ada di Pulau Bali.
Dia mendirikan kerajaan sendiri bernama Kahuripan, selepas dirinya kabur dari kejaran lawan Mataram saat pesta pernikahannya berbuah petaka. Airlangga berperan dalam kemunculan Kerajaan Kediri, yang diawali ketika ia berkuasa di Kahuripan pada 1019 - 1049, ia memiliki beberapa putra dan putri.
Salah satu di antaranya seorang putri bernama Sanggrama Wijaya. Ia merupakan putri mahkota yang dicalonkan untuk menggantikan ayahnya (Airlangga) sebagai raja. Namun putri ini menolak, dan ia memilih kehidupan sebagai seorang pertapa, yang dikenal dengan nama Kili Suci.
Baca juga: Kisah Warga Daha dan Tumapel Tinggal di Hutan Tarik Cikal Bakal Kerajaan Majapahit
Karena memilih kehidupan sebagai seorang pertapa dan menolak menjadi raja, maka timbul kesulitan bagi Airlangga, karena ia masih mempunyai beberapa orang putra yang lain.
Maka untuk menghindari perebutan kekuasaan di antara putra-putranya, Airlangga terpaksa membagi dua kerajaannya pada tahun 1041 dengan pertolongan seorang Brahmana yang bernama Mpu Bharada. Kedua kerajaan yakni Jenggala dan Kediri dibagi, dikutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia II : Zaman Kuno".
Dari sanalah akhirnya Samarawijaya, yang merupakan anak dari Airlangga memerintah di Kerajaan Kediri. Tapi lambat laun wilayah Kerajaan Jenggala ini berhasil dikuasai oleh Kediri. Wilayah Kerajaan Kediri hingga meliputi beberapa daerah di sekitar kawasan Sidoarjo, Pasuruan saat ini.
Setelah di masa puncak kejayaan di era Jayabaya, Kediri mulai menunjukkan penurunan masanya. Raja yang berkuasa di Kediri umumnya pribadinya dihubungkan dengan 28 dewa wisnu, ia mempunyai nama yang merupakan julukan wisnu.
Terlihat betapa gagasan Hindu mengenai penjelmaan wisnu ke dunia sebagai raja penyelamat mempengaruhi kalangan raja pada masa Kediri yang dibicarakan ini. Pada masa Kediri gagasan itu juga dinyatakan oleh kekawinkekawin yang diciptakan di keraton pada masa tersebut.
Kertajaya konon menjadi raja terakhir Kerajaan Kediri sebelum diserang dan dibunuh oleh Ken Arok, yang akhirnya mendirikan kerajaan baru bernama Tumapel, yang kemudian berganti nama menjadi Singasari.
Dia mendirikan kerajaan sendiri bernama Kahuripan, selepas dirinya kabur dari kejaran lawan Mataram saat pesta pernikahannya berbuah petaka. Airlangga berperan dalam kemunculan Kerajaan Kediri, yang diawali ketika ia berkuasa di Kahuripan pada 1019 - 1049, ia memiliki beberapa putra dan putri.
Salah satu di antaranya seorang putri bernama Sanggrama Wijaya. Ia merupakan putri mahkota yang dicalonkan untuk menggantikan ayahnya (Airlangga) sebagai raja. Namun putri ini menolak, dan ia memilih kehidupan sebagai seorang pertapa, yang dikenal dengan nama Kili Suci.
Baca juga: Kisah Warga Daha dan Tumapel Tinggal di Hutan Tarik Cikal Bakal Kerajaan Majapahit
Karena memilih kehidupan sebagai seorang pertapa dan menolak menjadi raja, maka timbul kesulitan bagi Airlangga, karena ia masih mempunyai beberapa orang putra yang lain.
Maka untuk menghindari perebutan kekuasaan di antara putra-putranya, Airlangga terpaksa membagi dua kerajaannya pada tahun 1041 dengan pertolongan seorang Brahmana yang bernama Mpu Bharada. Kedua kerajaan yakni Jenggala dan Kediri dibagi, dikutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia II : Zaman Kuno".
Dari sanalah akhirnya Samarawijaya, yang merupakan anak dari Airlangga memerintah di Kerajaan Kediri. Tapi lambat laun wilayah Kerajaan Jenggala ini berhasil dikuasai oleh Kediri. Wilayah Kerajaan Kediri hingga meliputi beberapa daerah di sekitar kawasan Sidoarjo, Pasuruan saat ini.
Setelah di masa puncak kejayaan di era Jayabaya, Kediri mulai menunjukkan penurunan masanya. Raja yang berkuasa di Kediri umumnya pribadinya dihubungkan dengan 28 dewa wisnu, ia mempunyai nama yang merupakan julukan wisnu.
Terlihat betapa gagasan Hindu mengenai penjelmaan wisnu ke dunia sebagai raja penyelamat mempengaruhi kalangan raja pada masa Kediri yang dibicarakan ini. Pada masa Kediri gagasan itu juga dinyatakan oleh kekawinkekawin yang diciptakan di keraton pada masa tersebut.
Kertajaya konon menjadi raja terakhir Kerajaan Kediri sebelum diserang dan dibunuh oleh Ken Arok, yang akhirnya mendirikan kerajaan baru bernama Tumapel, yang kemudian berganti nama menjadi Singasari.
(rca)
Lihat Juga :