Cuaca Ekstrem Landa Bogor, Bengkulu, hingga Sragen Picu Longsor dan Banjir
Selasa, 12 Agustus 2025 - 14:33 WIB
loading...
Cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah di Indonesia mengakibatkan banjir di Bengkulu. Foto ilustrasi/SindoNews
A
A
A
BOGOR - Cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Di Kabupten Bogor, hujan deras yang mengguyur daerah tersebut mengakibatkan longsor di 5 kecamatan.
Kepala Pusat Data, Ingornasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyebutkan, laporan kejadian bencana pertama datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor yang melaporkan kejadian tanah longsor yang terjadi di beberapa lokasi pada Senin, 11 Agustus 2025 pada pukul 08.00 WIB.
“Longsor dipicu hujan deras dan berdampak pada lima desa di empat kecamatan, yakni Kecamatan Bojong Gede, Cigudeg, Ranca Bungur dan Ciseeng," ujarnya, Selasa (12/8/2025).
Baca juga: Hujan Lebat Disertai Angin Kencang hingga 16 Agustus, Ini Daftar Daerah Terdampak
Menurut Abdul Muhari, petugas mencatat sebanyak 39 jiwa terdampak, satu warga luka ringan, dan 10 jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, terdapat lima rumah yang terancam longsor dan satu akses jalan terdampak material longsor.
"BPBD Kabupaten Bogor berkoordinasi dengan pihak terkait serta mengimbau warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman mengingat kondisi longsor yang cukup membahayakan," tuturnya.
Baca juga: Hujan Ekstrem Melanda Sejumlah Wilayah, BMKG Imbau Tingkatkan Kewaspadaan
Selain longsor, kata dia, wilayah Kabupaten Bogor juga mengalami cuaca ekstrem pada Senin 11 Agustus 2025 pukul 06.00 WIB. Angin kencang disertai hujan deras berdampak pada beberapa desa, yakni Desa Ciapus Kecamatan Ciomas, Desa Cigombong dan Tugu Jaya di Kecamatan Cigombong.
"Petugas mencatat sebanyak tiga rumah rusak berat, 12 rusak sedang dan 22 rusak ringan. Sebagian rumah warga rusak akibat tertimpa pohon yang roboh. Hingga Senin malam, petugas telah berhasil mengevakuasi beberapa pohon, sisanya akan dilanjutkan pada hari ini (12/8/2025)," bebernya.
Dia mengungkap, selain di Bogor, di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, hujan deras mengguyur mengakibatkan banjir di Kecamatan Ratu Agung, Senin, 11 Agustus 2025 pukul 08.00 WIB. Petugas mencatat sebanyak 145 rumah terdampak dengan Tinggi Muka Air (TMA) 30 hingga 100 sentimeter.
"Kondisi pada Senin malam, sebagian banjir telah surut seiring dengan redanya hujan, dan menyisakan genangan di beberapa daerah Kelurahan Kota Bengkulu," paparnya.
Selain banjir, ungkapnya, kekeringan juga dilaporkan terjadi di Desa Galeh, Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Menurunnya curah hujan memicu berkurangnya sumber air bersih dan mengakibatkan 236 Kepala Keluarga (KK) atau sedikitnya 580 warga desa kesulitan mengakses air bersih.
"Merespons laporan ini, BPBD Kabupaten Sragen melakukan distribusi air bersih di Desa Galeh, dengan mengerahkan 4 tangki air, dengan masing-masing berisi 5.000 liter air bersih," katanya.
Dia menambahkan, merespons banyaknya laporan kekeringan di berbagai daerah yang sering memicu kebakaran hutan dan lahan, BNPB mendorong pendistribusian air bersih menggunakan mobil tangki, pembuatan sumur bor dalam, serta pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Pemerintah daerah juga diimbau membangun infrastruktur seperti sumur resapan air, waduk dan embung.
Kepala Pusat Data, Ingornasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyebutkan, laporan kejadian bencana pertama datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor yang melaporkan kejadian tanah longsor yang terjadi di beberapa lokasi pada Senin, 11 Agustus 2025 pada pukul 08.00 WIB.
“Longsor dipicu hujan deras dan berdampak pada lima desa di empat kecamatan, yakni Kecamatan Bojong Gede, Cigudeg, Ranca Bungur dan Ciseeng," ujarnya, Selasa (12/8/2025).
Baca juga: Hujan Lebat Disertai Angin Kencang hingga 16 Agustus, Ini Daftar Daerah Terdampak
Menurut Abdul Muhari, petugas mencatat sebanyak 39 jiwa terdampak, satu warga luka ringan, dan 10 jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, terdapat lima rumah yang terancam longsor dan satu akses jalan terdampak material longsor.
"BPBD Kabupaten Bogor berkoordinasi dengan pihak terkait serta mengimbau warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman mengingat kondisi longsor yang cukup membahayakan," tuturnya.
Baca juga: Hujan Ekstrem Melanda Sejumlah Wilayah, BMKG Imbau Tingkatkan Kewaspadaan
Selain longsor, kata dia, wilayah Kabupaten Bogor juga mengalami cuaca ekstrem pada Senin 11 Agustus 2025 pukul 06.00 WIB. Angin kencang disertai hujan deras berdampak pada beberapa desa, yakni Desa Ciapus Kecamatan Ciomas, Desa Cigombong dan Tugu Jaya di Kecamatan Cigombong.
"Petugas mencatat sebanyak tiga rumah rusak berat, 12 rusak sedang dan 22 rusak ringan. Sebagian rumah warga rusak akibat tertimpa pohon yang roboh. Hingga Senin malam, petugas telah berhasil mengevakuasi beberapa pohon, sisanya akan dilanjutkan pada hari ini (12/8/2025)," bebernya.
Dia mengungkap, selain di Bogor, di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, hujan deras mengguyur mengakibatkan banjir di Kecamatan Ratu Agung, Senin, 11 Agustus 2025 pukul 08.00 WIB. Petugas mencatat sebanyak 145 rumah terdampak dengan Tinggi Muka Air (TMA) 30 hingga 100 sentimeter.
"Kondisi pada Senin malam, sebagian banjir telah surut seiring dengan redanya hujan, dan menyisakan genangan di beberapa daerah Kelurahan Kota Bengkulu," paparnya.
Selain banjir, ungkapnya, kekeringan juga dilaporkan terjadi di Desa Galeh, Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Menurunnya curah hujan memicu berkurangnya sumber air bersih dan mengakibatkan 236 Kepala Keluarga (KK) atau sedikitnya 580 warga desa kesulitan mengakses air bersih.
"Merespons laporan ini, BPBD Kabupaten Sragen melakukan distribusi air bersih di Desa Galeh, dengan mengerahkan 4 tangki air, dengan masing-masing berisi 5.000 liter air bersih," katanya.
Dia menambahkan, merespons banyaknya laporan kekeringan di berbagai daerah yang sering memicu kebakaran hutan dan lahan, BNPB mendorong pendistribusian air bersih menggunakan mobil tangki, pembuatan sumur bor dalam, serta pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Pemerintah daerah juga diimbau membangun infrastruktur seperti sumur resapan air, waduk dan embung.
(cip)
Lihat Juga :