Gubernur Jatim Minta Kapal di Ketapang-Gilimanuk Ditambah, Gapasdap Sarankan Tambah Dermaga
Senin, 28 Juli 2025 - 13:32 WIB
loading...
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta Kemenhub menambah kapal di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Namun Gapasdap menilai hal tersebut belum tepat. Foto/Ist
A
A
A
SURABAYA - Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menambah kapal yang beroperasi di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Permintaan tersebut disampaikan Khofifah menyusul terjadinya kemacetan panjang akibat dihentikannya 15 kapal penyeberangan jenis Landing Craft Tank (LCT) oleh Kemenhub.
Apalagi, LCT tersebut sudah beroperasi puluhan tahun di lintasan tersebut. Penghentian yang berlangsung sekitar lima hari itu telah menyebabkan antrean kendaraan, terutama truk, mengular hingga sepanjang 40 kilometer. Kondisi tersebut memicu protes keras masyarakat yang kemudian viral di media sosial.
Baca juga: Horor Pemudik Antre 10 Jam di Pelabuhan Gilimanuk
Namun kini, 15 kapal tersebut telah kembali beroperasi. Terkait hal itu, pelaku usaha penyeberangan yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) menilai permintaan Gubernur Jatim tersebut belum tepat.
Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap Rahmatika mengungkapkan kemacetan yang terjadi di Ketapang bukan disebabkan oleh kekurangan kapal melainkan karena keterbatasan jumlah dermaga.
"Sebanyak 56 kapal yang ada saat ini hanya bisa dioperasikan 28 kapal karena keterbatasan dermaga. Bila penambahan kapal tetap dilakukan, hal itu hanya akan menambah deretan kapal-kapal yang menganggur karena tidak memiliki tempat sandaran (dermaga). Artinya, penambahan kapal bukan berarti menambah kapasitas muat atau daya angkut tapi malah menimbulkan antrean panjang operasional kapal karena kekurangan dermaga," ujarnya, Senin (28/7/2025).
Baca juga: Cegah Antrean Panjang Kendaraan di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, Gapasdap Minta Ini
Alumni Teknik Perkapalan ITS Surabaya menyarankan bahwa sebaiknya bukan menambah kapal melainkan dermaga minimal dua pasang atau maksimal lima pasang untuk mengantisipasi 28 kapal yang menganggur. Sehingga bisa dimanfaatkan secara maksimal, bila 3 pasang dermaga saja sudah 12 kapal yang bisa beroperasi.
“Ngapain tambah kapal, ekonomi kita masih sulit. Dengan penambahan dermaga tersebut sudah bisa mengantisipasi 50% tambahan demand kendaraan sekaligus antisipasi dermaga-dermaga yang banyak rusak saat ini serta adanya jalan Tol Probowangi nantinya,” kata lulusan Magister Transport ITS Surabaya ini.
Pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyebut Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur tidak perlu panik dan harus mengamati kondisi lapangan yang saat ini kapal-kapal di LCT sudah dioperasikan semuanya.
Bahkan sudah bisa mengantisipasi kemacetan panjang sehingga antrean sampai pada Minggu malam sudah 0 meter.
“Silakan Kepala Dinas lihat di lapangan langsung, jangan hanya berdasarkan laporan di media sosial karena bisa hoaks,” ucapnya.
Apalagi, LCT tersebut sudah beroperasi puluhan tahun di lintasan tersebut. Penghentian yang berlangsung sekitar lima hari itu telah menyebabkan antrean kendaraan, terutama truk, mengular hingga sepanjang 40 kilometer. Kondisi tersebut memicu protes keras masyarakat yang kemudian viral di media sosial.
Baca juga: Horor Pemudik Antre 10 Jam di Pelabuhan Gilimanuk
Namun kini, 15 kapal tersebut telah kembali beroperasi. Terkait hal itu, pelaku usaha penyeberangan yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) menilai permintaan Gubernur Jatim tersebut belum tepat.
Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap Rahmatika mengungkapkan kemacetan yang terjadi di Ketapang bukan disebabkan oleh kekurangan kapal melainkan karena keterbatasan jumlah dermaga.
"Sebanyak 56 kapal yang ada saat ini hanya bisa dioperasikan 28 kapal karena keterbatasan dermaga. Bila penambahan kapal tetap dilakukan, hal itu hanya akan menambah deretan kapal-kapal yang menganggur karena tidak memiliki tempat sandaran (dermaga). Artinya, penambahan kapal bukan berarti menambah kapasitas muat atau daya angkut tapi malah menimbulkan antrean panjang operasional kapal karena kekurangan dermaga," ujarnya, Senin (28/7/2025).
Baca juga: Cegah Antrean Panjang Kendaraan di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, Gapasdap Minta Ini
Alumni Teknik Perkapalan ITS Surabaya menyarankan bahwa sebaiknya bukan menambah kapal melainkan dermaga minimal dua pasang atau maksimal lima pasang untuk mengantisipasi 28 kapal yang menganggur. Sehingga bisa dimanfaatkan secara maksimal, bila 3 pasang dermaga saja sudah 12 kapal yang bisa beroperasi.
“Ngapain tambah kapal, ekonomi kita masih sulit. Dengan penambahan dermaga tersebut sudah bisa mengantisipasi 50% tambahan demand kendaraan sekaligus antisipasi dermaga-dermaga yang banyak rusak saat ini serta adanya jalan Tol Probowangi nantinya,” kata lulusan Magister Transport ITS Surabaya ini.
Pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyebut Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur tidak perlu panik dan harus mengamati kondisi lapangan yang saat ini kapal-kapal di LCT sudah dioperasikan semuanya.
Bahkan sudah bisa mengantisipasi kemacetan panjang sehingga antrean sampai pada Minggu malam sudah 0 meter.
“Silakan Kepala Dinas lihat di lapangan langsung, jangan hanya berdasarkan laporan di media sosial karena bisa hoaks,” ucapnya.
(shf)
Lihat Juga :