KNKT Ungkap Detik-detik KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam, Kapal Miring setelah 30 Menit Berlayar
Selasa, 08 Juli 2025 - 17:33 WIB
loading...
KMP Tunu Pratama Jaya. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan kronologi detik-detik sebelum KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali , Kamis (3/7/2025) dini hari. Hasil monitoring KNKT, kapal memang terdeteksi sempat mengalami kemiringan.
Plt Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran KNKT Anggiat menjelaskan temuan ini merupakan hasil dari keterangan saksi dan awak kapal yang ditemukan selamat. Keterangan saksi sudah dipastikannya disinkronisasi dengan CCTV.
Anggiat menjelaskan, KMP Tunu Pratama Jaya bertolak meninggalkan Pelabuhan Ketapang pada pukul 22.51 WIB untuk melakukan perjalanan ke Pelabuhan Gilimanuk di Bali.
Baca Juga: Tim SAR Lanjutkan Pencarian Puluhan Korban KMP Tunu Pratama Jaya
"Ketika kapal bertolak, tidak ada anomali atau kemiringan atau keadaan yang tidak biasa. Kemudian juga mesin beroperasi dengan normal. Visibilitas atau jarak pandang juga cukup baik. Tidak ada hujan dan tidak berkabut," kata Anggiat dalam Rapat Kerja Bersama Komisi V DPR RI, Selasa (8/7/2025).
Setengah jam atau 30 menit setelah melaut, mualim jaga mulai merasakan kapal miring. Dari hasil investigasi ini, kapal diketahui miring ke arah sebelah kanan. "Setelah sekitar 30 menit pelayaran mualim jaga di anjungan, merasakan kemiringan kapal ke sebelah kanan," ungkap dia.
Di saat yang bersamaan, juru mudi jaga dan kelasi jaga juga melihat air laut mulai masuk ke kamar mesin melalui pintu kamar mesin. Peristiwa ini juga disafsikan juru minyak jaga.
"Jadi kami konfirmasi Bapak, dengan antara informasi yang kami terima dari juru mudi jaga dan juru minyak. Jadi menyatakan hal yang sama," kata Anggiat.
Kejadian itu membuat juru minyak jaga langsung berlari keluar dari kamar mesin. Mualim jaga juga langsung memerintahkan awak kapal untuk membantu penumpang mengenakan jaket pelampung dan persiapan evakuasi. "Sementara nakhoda yang saat itu sedang beristirahat segera dibangunkan oleh mualim jaga."
Anggiat menuturkan, nakhoda saat itu langsung mengambil alih kemudi. "Kemudian nakhoda segera mengambil alih kemudi dan memancarkan berita marabahaya di radio VHF frekuensi 16," tutur Anggiat.
Di titik ini, kendaraan bagian belakang kapal mulai bergeser dan bertumpu di sisi kanan. Kondisi ini juga yang menyebabkan kapal semakin terus bertambah miring ke sebelah kanan. "Pada awalnya dalam keadaan masih perlahan-lahan (kemiringan) kemudian semakin cepat."
Beberapa menit setelah panggilan darurat, kapal mulai tenggelam dengan kondisi buritan atau bagian belakang kapal tenggelam terlebih dahulu sambil miring ke kanan.
Dua kapal yakni Kapal Gilimanuk I dan Tunu Praja Pratama 3.888 sebenarnya berada di dekat lokasi. Namun, evakuasi sulit dilakukan lantaran kondisi pandangan yang gelap. "Kapal Gilimanuk I dan Tunu Praja Pratama 3888 yang juga ada di sekitar lokasi mencoba menyoroti lampu ke arah Tunu Pratama Jaya, namun kesulitan juga untuk mengenali objek terapung karena kondisi dalam keadaan gelap."
Plt Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran KNKT Anggiat menjelaskan temuan ini merupakan hasil dari keterangan saksi dan awak kapal yang ditemukan selamat. Keterangan saksi sudah dipastikannya disinkronisasi dengan CCTV.
Anggiat menjelaskan, KMP Tunu Pratama Jaya bertolak meninggalkan Pelabuhan Ketapang pada pukul 22.51 WIB untuk melakukan perjalanan ke Pelabuhan Gilimanuk di Bali.
Baca Juga: Tim SAR Lanjutkan Pencarian Puluhan Korban KMP Tunu Pratama Jaya
"Ketika kapal bertolak, tidak ada anomali atau kemiringan atau keadaan yang tidak biasa. Kemudian juga mesin beroperasi dengan normal. Visibilitas atau jarak pandang juga cukup baik. Tidak ada hujan dan tidak berkabut," kata Anggiat dalam Rapat Kerja Bersama Komisi V DPR RI, Selasa (8/7/2025).
Setengah jam atau 30 menit setelah melaut, mualim jaga mulai merasakan kapal miring. Dari hasil investigasi ini, kapal diketahui miring ke arah sebelah kanan. "Setelah sekitar 30 menit pelayaran mualim jaga di anjungan, merasakan kemiringan kapal ke sebelah kanan," ungkap dia.
Di saat yang bersamaan, juru mudi jaga dan kelasi jaga juga melihat air laut mulai masuk ke kamar mesin melalui pintu kamar mesin. Peristiwa ini juga disafsikan juru minyak jaga.
"Jadi kami konfirmasi Bapak, dengan antara informasi yang kami terima dari juru mudi jaga dan juru minyak. Jadi menyatakan hal yang sama," kata Anggiat.
Kejadian itu membuat juru minyak jaga langsung berlari keluar dari kamar mesin. Mualim jaga juga langsung memerintahkan awak kapal untuk membantu penumpang mengenakan jaket pelampung dan persiapan evakuasi. "Sementara nakhoda yang saat itu sedang beristirahat segera dibangunkan oleh mualim jaga."
Anggiat menuturkan, nakhoda saat itu langsung mengambil alih kemudi. "Kemudian nakhoda segera mengambil alih kemudi dan memancarkan berita marabahaya di radio VHF frekuensi 16," tutur Anggiat.
Di titik ini, kendaraan bagian belakang kapal mulai bergeser dan bertumpu di sisi kanan. Kondisi ini juga yang menyebabkan kapal semakin terus bertambah miring ke sebelah kanan. "Pada awalnya dalam keadaan masih perlahan-lahan (kemiringan) kemudian semakin cepat."
Beberapa menit setelah panggilan darurat, kapal mulai tenggelam dengan kondisi buritan atau bagian belakang kapal tenggelam terlebih dahulu sambil miring ke kanan.
Dua kapal yakni Kapal Gilimanuk I dan Tunu Praja Pratama 3.888 sebenarnya berada di dekat lokasi. Namun, evakuasi sulit dilakukan lantaran kondisi pandangan yang gelap. "Kapal Gilimanuk I dan Tunu Praja Pratama 3888 yang juga ada di sekitar lokasi mencoba menyoroti lampu ke arah Tunu Pratama Jaya, namun kesulitan juga untuk mengenali objek terapung karena kondisi dalam keadaan gelap."
(zik)
Lihat Juga :