KNKT Investigasi Penyebab Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali
Sabtu, 05 Juli 2025 - 10:32 WIB
loading...
KNKT memulai investigasi tenggelamnya kapal feri KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali. Hingga saat ini sebanyak 29 penumpang masih hilang. Foto/Avirista Midaada
A
A
A
BANYUWANGI - Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memulai investigasi tenggelamnya kapal KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali. Investigasi meliputi kelengkapan administrasi surat-surat, perizinan, hingga bagaimana proses tanggap darurat di kapalnya.
Ketua KNKT Soejanto Tjahjono mengungkapkan, investigasi dimulai dari kapal berangkat. Sebab ketika berangkat ada surat persetujuan berlayar (SPB) dari pihak berwenang dalam hal ini otoritas pelabuhan.
Baca juga: Kronologi KMP Tunu Pratama Jaya yang Tenggelam di Selat Bali
"Investigasi terkait surat persetujuan berlayar atau SPB ini penting untuk mengetahui apakah persyaratan mendapatkan SPB sudah terpenuhi atau tidak," kata Soejanto Tjahjono saat konferensi pers di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi dikutip, Sabtu (5/7/2025).
Pihaknya juga mencari bukti berupa kelayakan kapal, dokumen kelengkapan dan administrasi kapal, termasuk pemeliharaan yang dilakukan. Hingga bagaimana proses pemberlakuan tanggap daruratnya mengantisipasi kecelakaan laut.
"Ketika kapal sudah berangkat atau berlayar dan terjadi kecelakaan, di kapal itu sebenarnya sudah dilatih tanggap darurat, kami juga sudah mengumpulkan bukti-bukti video yang tersebar di media sosial," tuturnya.
Meski demikian, KNKT juga turut membantu proses pencarian terkait memasukan informasi dan berkoordinasi dengan tim pencari gabungan. Di mana jika nanti seluruh pencarian selesai akan ada investigasi lanjutan.
Baca juga: Basarnas Pastikan 29 Penumpang Masih Hilang Akibat Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya
"Pada operasi SAR ini kami saling membantu melakukan pencarian korban yang selamat maupun yang meninggal. Setelah SAR selesai baru sepenuhnya kami melakukan investigasi lanjutan," pungkasnya.
Sebelumnya, KMP Tunu Pratama Jaya sekitar pukul 00.15 WITA pada Kamis (3/7/2025) muncul kode merah dari tim operator Pelabuhan Gilimanuk dan salah satu nahkoda kapal lain, terhadap.
KMP Tunu Pratama Jaya meminta tolong dan mengalami kebocoran mesin kapal. Sekitar pukul 00.19 WITA KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan mengalami black out alias insiden di tengah laut.
Total ada sebanyak 53 penumpang dalam manifes, dan 12 kru kapal yang bertugas. Kapal itu juga membawa 22 kendaraan berbagai macam jenis.
Proses pencarian dilakukan setiap hari sejak pukul 07.00 hingga 19.00 WIB. Tapi operasi pencarian itu juga memperhatikan cuaca yang dinamis di Selat Bali.
Hingga Jumat malam (4/7/2025) sebanyak 36 orang ditemukan, dimana 30 orang dinyatakan selamat, 6 orang tewas, serta sisanya 29 orang masih dalam pencarian.
Ketua KNKT Soejanto Tjahjono mengungkapkan, investigasi dimulai dari kapal berangkat. Sebab ketika berangkat ada surat persetujuan berlayar (SPB) dari pihak berwenang dalam hal ini otoritas pelabuhan.
Baca juga: Kronologi KMP Tunu Pratama Jaya yang Tenggelam di Selat Bali
"Investigasi terkait surat persetujuan berlayar atau SPB ini penting untuk mengetahui apakah persyaratan mendapatkan SPB sudah terpenuhi atau tidak," kata Soejanto Tjahjono saat konferensi pers di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi dikutip, Sabtu (5/7/2025).
Pihaknya juga mencari bukti berupa kelayakan kapal, dokumen kelengkapan dan administrasi kapal, termasuk pemeliharaan yang dilakukan. Hingga bagaimana proses pemberlakuan tanggap daruratnya mengantisipasi kecelakaan laut.
"Ketika kapal sudah berangkat atau berlayar dan terjadi kecelakaan, di kapal itu sebenarnya sudah dilatih tanggap darurat, kami juga sudah mengumpulkan bukti-bukti video yang tersebar di media sosial," tuturnya.
Meski demikian, KNKT juga turut membantu proses pencarian terkait memasukan informasi dan berkoordinasi dengan tim pencari gabungan. Di mana jika nanti seluruh pencarian selesai akan ada investigasi lanjutan.
Baca juga: Basarnas Pastikan 29 Penumpang Masih Hilang Akibat Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya
"Pada operasi SAR ini kami saling membantu melakukan pencarian korban yang selamat maupun yang meninggal. Setelah SAR selesai baru sepenuhnya kami melakukan investigasi lanjutan," pungkasnya.
Sebelumnya, KMP Tunu Pratama Jaya sekitar pukul 00.15 WITA pada Kamis (3/7/2025) muncul kode merah dari tim operator Pelabuhan Gilimanuk dan salah satu nahkoda kapal lain, terhadap.
KMP Tunu Pratama Jaya meminta tolong dan mengalami kebocoran mesin kapal. Sekitar pukul 00.19 WITA KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan mengalami black out alias insiden di tengah laut.
Total ada sebanyak 53 penumpang dalam manifes, dan 12 kru kapal yang bertugas. Kapal itu juga membawa 22 kendaraan berbagai macam jenis.
Proses pencarian dilakukan setiap hari sejak pukul 07.00 hingga 19.00 WIB. Tapi operasi pencarian itu juga memperhatikan cuaca yang dinamis di Selat Bali.
Hingga Jumat malam (4/7/2025) sebanyak 36 orang ditemukan, dimana 30 orang dinyatakan selamat, 6 orang tewas, serta sisanya 29 orang masih dalam pencarian.
(shf)
Lihat Juga :